
“Mulai sekarang coba Kakak perhatikan baik-baik. Sepertinya aku nggak pernah menggoda mas Rehan.
Mas Rehan aja yang selalu mendekati aku. Kakak lihat aja kalau duduk dekat aku, dia pasti mengelus rambut aku dan selalu memperhatikan aku. Jadi aku nggak pernah menggoda dia atau jangan-jangan cinta Kakak bertolak sebelah tangan,” ucap Jihan sambil tersenyum sinis.
Mendengar ejekannya Jihan, Siti semakin emosi.
“Kamu, kalau bicara jangan asal aja. Pikirkan apa yang harus dibicarakan.”
“Memangnya bener apa yang aku katakan barusan. Memang kenapa Kakak kok marah melihat aku dekat dengan Mas Rehan. Berarti karena Kakak cemburu tapi malu untuk mengakuinya.”
Akhirnya Siti yang sudah kalah malu meninggalkan Jihan yang masih di dapur. Sebenarnya Jihan berbicara seperti itu karena ingin membuat Siti jerah dan tidak pernah menuduhnya lagi.
Perasaan Jihan sakit juga saat Siti menuduhnya mengganggu Rehan.
Jihan juga bisa melihat kalau sikap Siti yang tidak menyukai Jihan karena dia cemburu pada Jihan dan menuduh kalau Jihan lah yang menggoda Rehan.
Padahal sedikit pun Jihan tidak pernah ada niat untuk menggoda Rehan karena memang Jihan tidak punya perasaan apa-apa pada Rehan. Hanya saja Siti sudah ketakutan duluan kalau nantinya Rehan akan direbut oleh Jihan.
Begitu Siti pergi dari hadapan Jihan, Jihan hanya bisa tersenyum puas karena membuat Siti kesal.
Sebenarnya Jihan orangnya pendiam dan malas untuk berdebat, tapi melihat sikap Siti yang tidak menyukainya bahkan menuduh yang tidak-tidak membuat Jihan terbakar emosi. Jihan juga tidak mau disepelekan oleh Siti sehingga dia selalu membalas ucapan Siti.
***
Ketika Rehan dan mamanya sudah duduk di ruang keluarga sambil menonton TV, Rehan langsung mendekati mamanya.
“Ma, ada yang mau Rehan bicarakan sama Mama tapi kita bicaranya di teras aja ya,” pinta Rehan.
“Kenapa bicaranya tidak di sini aja Rehan?” tanya bu Renggo sambil memperhatikan wajah Rehan.
Dia merasa heran karena seperti ada yang dirahasiakan oleh Rehan. Akhirnya Rehan dan mamanya pergi ke teras depan.
“Kamu mau bicara apa Rehan?” tanya bu Renggo.
“Tadi saat pulang dari kantor, Rehan singgah ke rumah orang tua Jihan,” ucap Rehan.
“Apa? Kamu ke rumahnya Jihan?” tanya bu Renggo seperti tidak percaya.
__ADS_1
“Iya Ma. Tadi Rehan ditemani pak Saidi pergi ke rumah Jihan. Sengaja Rehan melakukan hal ini karena Rehan nggak mau nanti akan disalahkan oleh kedua orang tua Jihan karena menyembunyikan Jihan sampai satu bulan di rumah ini,” jelas Rehan yang merasa puas dengan keputusannya.
“Benar juga Rehan apa yang kamu katakan barusan,” ucap bu Renggo.
“Dari pada kita nantinya disalahkan Ma. Niat hati mau menolong Jihan tapi orang tuanya pasti akan salah sangka,” jelas Rehan.
“Iya Rehan. Sebelumnya mama tidak pernah memikir sampai ke situ Rehan.”
“Rehan juga khawatir Ma. Pasti kedua orang tua Jihan bingung mencari anaknya. Jadi kalau sudah kita beritau Jihan di rumah kita, pasti kedua orang tuanya akan lebih tenang,” jelas Rehan lagi.
“Jadi apa tanggapan kedua orang tua Jihan?” tanya bu Renggo lagi.
“Awalnya ibunya Jihan berkeras untuk mengajak Jihan pulang, tapi setelah Rehan jelaskan bahwa semua ini karena kemauan Jihan, akhirnya ibunya pun menerima.
Rehan katakan juga pada orang tua Jihan bahwa Jihan akan kita bawa ke psikolog karena perkembangan jiwa Jihan sedikit terganggu akibat kejadian itu.”
“Lalu, apa orang tuanya setuju Rehan?”
“Syukurnya kedua orang tua Jihan menyetujuinya.”
“Syukurlah kalau memang seperti itu. Jadi sekarang orang tua Jihan pasti sudah lebih tenang,” ucap mamanya Rehan.
“Apa Jihan tau kalau kamu pergi ke rumahnya?”
“Jihan nggak tau Ma karena Rehan sengaja tidak memberitaunya.
Jihan juga sudah meminta Rehan agar merahasiakan keberadaannya pada kedua orang tuanya.
Tapi setelah Rehan pikir-pikir, Rehan merasa tidak tenang Ma.
Karena bagaimana pun pasti kedua orang tua Jihan merasa khawatir pada anaknya yang tidak pulang-pulang. Makanya karena hal itu Rehan menemui orang tua Jihan. Tapi Mama jangan pernah ceritakan masalah ini pada Jihan ya karena Jihan pasti akan marah pada Rehan.”
“Iya Rehan, mama pasti menjaga rahasia ini.”
***
Setelah Rehan menceritakan pada mamanya, bu Renggo kembali ke ruang keluarga untuk menonton TV. Sedangkan Rehan masih duduk di teras.
__ADS_1
Siti yang sejak tadi memperhatikan Rehan duduk di teras langsung memanfaatkan kesempatan ini. Dia kemudian mendekati Rehan dan berusaha mencari simpati. Terlihat Rehan sedang merokok.
“Pak Rehan mau dibuatkan kopi panas?” tanya Siti.
Rehan langsung melirik ke arah Siti dan merasa heran karena tidak biasanya Siti menawarkan kopi, apalagi baru selesai makan malam.
Sambil tersenyum Rehan pun menjawab.
“Kok tumben kamu menawari saya kopi, Siti? Apa memangnya saya pernah minum kopi?” tanya Rehan.
Siti langsung merasa malu. “Maaf pak Rehan karena baru kali ini saya lihat Bapak duduk di teras sendiri makanya saya pikir Bapak mau kalau saya buatkan kopi panas,” jawab Siti.
“Maaf Siti, lain kali aja ya. Saat ini saya masih kenyang karena baru saja makan.”
“Kalau gitu saya ke dalam dulu ya Pak,” ucap Siti langsung membalikkan badanya hendak masuk ke dalam tapi keburu dipanggl Rehan..
“Siti, Jihan mana kok belum muncul dari tadi?” tanya Rehan penasaran.
“Tadi dia masih di dapur Pak,” jawab Siti.
“Tolong panggilkan kemari ya?” pinta Rehan lagi.
“Memangnya ada apa ya Pak?” tanya Siti penasaran.
“Tolong beritau dia jangan mengerjakan pekerjaan rumah dan suruh dia banyak istirahat.”
“Saya yang mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini Pak, bukan Jihan,” jelas Siti.
“Iya, saya tau. Tapi saya sering lihat dia membantu kamu membereskan dapur. Jadi mulai sekarng jangan boleh dia melakukan itu semua.”
“Dia kan hanya membantu saya membereskan meja makan Pak. Saya rasa itu kan nggak terlalu berat,” jelas Siti lagi.
“Memang sih iya. Tapi saya nggak mau dia capek. Apalagi kan ada kamu yang bisa mengerjakannya.”
Mendengar ucapan Rehan yang begitu memperhatikan Jihan, Siti merasa kesal.
‘Kenapa sih, pak Rehan terlihat sangat perhatian sekali pada Jihan. Pak Rehan hanya memikirkan kesehatan Jihan tapi tidak pernah memikirkan kesehatanku sendiri. Memangnya apa aku nggak capek mengerjakan semuanya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Jihan enak-enak aja di rumah ini. Dia hanya numpang di rumah ini tapi seperti raja. Aku harus memikirkan bagaimana caranya supaya pak Rehan lebih memperhatikan aku dari pada Jihan.
Tapi apa yang harus aku lakukan,’ batin Siti bingung.