Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Diusir


__ADS_3

“Ibu kenapa kok bengong. Cerita donk sama ayah. Pasti ada sesuatu yang Ibu sembunyikan. Apa masalahnya sampai Ibu bisa seperti ini?”


Setelah diam beberapa saat akhirnya bu Dwi mulai menceritakan pada suaminya.


“Sebenarnya Jihan hamil Yah,” ucap bu Dwi.


Walaupun suara bu Dwi terdengar sangat pelan tetapi pak Herman dapat mendengar jelas apa yang dikatakan istrinya. Ternyata dugaan pak Herman benar karena tadi pagi saat sarapan terlihat Jihan seperti mual dan langsung pergi ke kamar mandi. Pak Herman sudah menduga kalau Jihan sedang hamil karena sudah beberapa kali Jihan mual dan muntah sepertinya ini. Rencananya pulang kerja nanti pak Herman ingin membicarakan hal ini pada istrinya.


Mendengar pengakuan istrinya pak Herman langsung terduduk lemas di kursinya sedangkan Jihan yang duduk di sofa hanya menangis. Kemudian Jihan mendekati ayahnya untuk meminta maaf.


“Maafkan Jihan, Yah.”


Pak Herman tampak kecewa dan kesal mendengar berita ini sehingga dia langsung meluapkan emosinya pada Jihan.


“Kamu telah membuat malu keluarga Jihan. Ayah nggak menyangka kamu yang terlihat baik selama ini ternyata kelakuan kamu sangat bejat. Percuma kami mendidik dan membesarkan kamu dengan kasih sayang tapi kamu tidak pernah menghargai pengorbanan kami. Ayah sangat kecewa Jihan...” ucap pak Herman dengan nada marah.


“Tapi Ayah, maafkan Jihan.... Jihan nggak ....” ucap Jihan terputus.


Emosi pak Harman yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun membuat dia tidak dapat mengendalikan dirinya.


“Sekarang kamu pergi dari hadapan ayah. Ayah nggak mau melihat muka kamu lagi di sini,” bentak pak Herman.


“Maafkan Jihan, Ayah. Maafkan Jihan...” Jihan berusaha mencium tangan ayahnya tapi langsung ditepis pak Herman.

__ADS_1


“Pergi kamu sekarang dari sini. Pergi....” bentak pak Herman.


“Ayah jangan seperti itu. Ayah harus tahan emosi. Nggak bisa masalah diselesaikan dengan marah seperti ini,” ucap bu Dwi menangis.


“Inilah akibat Ibu selalu memanjakannya sehingga dia tumbuh menjadi anak yang tidak tau diri.”


Mendengar ucapan suaminya bu Dwi hanya diam saja meskipun perasaannya sakit karena selalu disalahkan suaminya kalau Jihan membuat kesalahan. Karena di rumah sakit bu Dwi malas untuk ribut sehingga dia diam saja ketika suaminya menyalahkannya.


Jihan langsung keluar dari ruangan itu sambil menangis. Perasaannya sangat sedih melihat kemarahan ayahnya. Sampai di depan rumah sakit Jihan bingung akan pergi ke mana. Kemarahan ayahnya membuatnya putus asa dan ingin pergi dari rumahnya seperti permintaan ayahnya.


Akhirnya Jihan pun berjalan menyusuri trotoar. Dia bingung akan pergi ke mana padahal sebelumnya Rani sudah pernah mengatakan padanya akan selalu siap membantunya. Bahkan Rani pernah berkata akan menerima Jihan dengan tangan terbuka seandainya orang tuanya mengusirnya dari rumah.


Tapi saat ini Jihan yang sudah putus asa tidak memikirkan ucapan Rani. Dia berjalan terus menyusuri trotoar tanpa arah yang pasti. Dia tidak membawa apa-apa kecuali pakaian yang ada di badannya dan juga membawa ponsel yang ada di kantong celananya dan uang dua puluh ribu yang ada di saku kemejanya. Dengan modal uang dan ponsel itulah dia bertekad untuk pergi dari rumah.


***


Tiba-tiba Jihan merasakan kepalanya pusing dan berkunang-kunang. Jihan berusaha untuk berjongkok tetapi tidak lama kemudian semuanya terasa gelap dan Jihan pun tidak sadarkan diri. Dia terjatuh di dekat sebuah pohon yang rindang di pinggir jalan. Suasana di tempat itu sangat sunyi apalagi saat itu tiba waktunya magrib sehingga tidak ada satu orangpun yang lewat di dekat situ, kalau pun ada hanya kendaraan yang lalu-lalang.


Saat Jihan terjatuh tidak ada seorang pun yang melihat dan menolongnya. Setelah hampir dua menit berlalu, seorang pria yang hendak pergi ke masjid sehabis pulang dari kantornya melihat Jihan tergeletak di trotoar dekat sebuah pohon besar. Pria itu langsung menghentikan laju kendaraannya.


Setelah Pria itu turun, dia langsung mendekati Jihan. Saat itu tidak ada seorang pun yang lalu-lalang di dekat tempat itu membuat pria itu tampak bingung menghadapi Jihan yang sedang pingsan sendirian. Dengan perasaan ragu pria itu berjongkok mendekati Jihan.


“Mbak... Mbak... bangun....” panggil pria itu saat sudah dekat.

__ADS_1


Karena tidak ada reaksi dari Jihan akhirnya pria itu menepuk pipi Jihan.


“Mbak.... Mbak, bangun...”


Perlahan Jihan pun membuka matanya tetapi dia tidak punya tenaga untuk mengangkat tubuhnya karena badanya sangat lemas. Pria itu yang melihat Jihan seperti tidak bertenaga langsung berusaha untuk membantunya. Dia langsung meletakkan tangannya di pundak Jihan. Jihan yang setengah sadar langsung berkata.


“Saya di mana sekarang Pak?”


“Kamu sekarang berada di dekat komplek perumahan Permatasari. Dimana rumah kamu biar saya antar.” Tanya pria itu lagi.


Jihan yang sangat lemas tidak berdaya kemudian memejamkan matanya lagi. Dia tidak punya tenaga untuk berbicara, apalagi untuk berjalan. Melihat hal ini pria itu langsung membopongnya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Sebenarnya Jihan dapat merasakan dan mendengar ketika pria itu membopong dan membawanya masuk ke mobil tetapi dia tidak punya tenaga. Badannya terasa lemas semua. Bahkan untuk berbicara saja rasanya sudah tidak sanggup lagi.


“Mbak di mana rumahnya, biar saya antar,” tanya pria itu saat sudah berada di dalam mobil.


Karena Jihan tidak punya tenaga untuk menjawab akhirnya Jihan diam saja. Pria itu pun merasa bingung.


Setelah beberapa saat ditunggunya lagi dan Jihan juga tidak menjawab pertanyaannya, akhirnya pria itu membawa Jihan pergi ke rumahnya. Pria itu yang niatnya akan sholat magrib di masjid akhirnya membatalkan niatnya karena dia langsung pulang ke rumah supaya bisa sholat magrib di rumahnya.


Sambil membawa Jihan yang tidak berdaya, sepanjang perjalanan pria itu tak hentinya melirik ke arah Jihan untuk melihat apakah Jihan sudah sadar atau belum. Bahkan saat pria itu mengajak Jihan berbicara, sedikit pun Jihan tidak ada meresponnya. Akhirnya priai itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi supaya segera sampai di rumahnya.


Setelah hampir dua puluh menit perjalanan sampailah pria itu di depan rumahnya. Rumah itu tampak megah dengan model ala Spanyol. Suasananya juga sangat tenang karena berada di komplek perumahan elit.


Begitu turun dari mobil pria itu langsung membopong Jihan dan di bawahnya masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah Jihan langsung diletakkan di ruang tv. Saat pria itu akan membalikkan badannya terlihat seorang wanita tua menatapnya itu dengan tatapan heran.

__ADS_1


“Siapa wanita itu Rehan?” tanya wanita tua itu yang merupakan mamanya Rehan.


Rehan terdiam sesaat dan akhirnya baru menjawab pertanyaan mamanya.


__ADS_2