
Jihan terus mencari informasi kesana kemari, tetapi tidak ditemukan titik terang. Jihan dan Rani hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini.
“Sekarang kamu banyak berdoa aja ya Jihan, mudah-mudahan apa yang kita khawatirkan tidak akan terjadi.” Rani berusaha untuk menenangkan Jihan yang sedang bingung.
“Tapi Rani, aku mohon hanya kita berdua aja yang tau ya. Jangan sampai teman kita yang lain tau akan masalah ini,” ucap Jihan khawatir.
“Kalau masalah itu kamu tenang saja, Sampai kapan pun kamu adalah teman terbaik aku, jadi apa yang kamu alami saat ini aku juga bisa merasakannya,” ucap Rani dengan perasaan sedih.
Sejak kelas sepuluh SMA Rani dan Jihan sudah saling kenal dan mereka sangat kompak. Kemana Rani pergi pasti di situ ada Jihan, begitu juga dengan Jihan.
Terkadang teman-teman yang lain merasa iri terhadap kedekatan mereka karena sejak kelas sepuluh SMA sampai kelas dua belas dan sebentar lagi akan tamat hubungan mereka masih sangat akrab.
Padahal sifat mereka bertolak belakang. Kalau Jihan orangnya pendiam sedangkan Rani orangnya periang dan selalu ada aja bahan yang untuk dibicarakan. Sementara Jihan yang terkenal pendiam jarang berbicara kalau tidak ditanya.
Paling dia hanya senyum saja ketika bertemu dengan teman-temannya. Semua teman sekelas Jihan sudah tau sifat Jihan. Walaupun Jihan tidak banyak bicara tetapi Jihan di kelas sangat baik pada teman-temannya. Bahkan dia sering mengalah dengan teman-temannya.
Walaupun ada satu dua orang yang sering menceritakan Jihan karena sifatnya yang terlalu pendiam tetapi Jihan tidak ambil perduli. Dia tetap bersikap baik pada teman-temannya. Hal itulah yang membuat Rani yang sudah tiga tahun berteman dengan Jihan tetapi sekali pun tidak pernah punya masalah dengan Jihan.
Sekarang menjelang akan tamat SMA cobaan pun datang pada Jihan membuat Rani merasa kasihan dan sedih. Ingin sekali Rani membuat perhitungan pada lelaki yang telah memperkosa Jihan seandainya dia mengetahuinya.
Rani berjanji dalam hatinya akan mencari siapa lelaki yang telah menodai Jihan.
***
Setelah mencuri dengar pembicaraan Leo dengan Rani, Bobby merasa heran dan sedikit curiga.
“Leo, kenapa kamu bohong, dan pulang duluan?” tanya Bobby.
“Tenang Bobby, nanti suatu saat kamu pasti akan tau,” jawab Leo santai.
“Aku penasaran, pasti ada yang kamu rahasiakan. Ceritakan padaku, jangan membuatku mati penasaran!"
Bukankah aku tadi melihat sendiri kalau kamu bersama Jihan dan langsung keluar dari cafe itu.
__ADS_1
Artinya kamu memenangkan undian kita.”
“Benar Bobby, yang menang dalam undian ini Leo. Berarti sepeda motor kamu sekarang untuk Leo,” ucap Tino.
“Memang iya Tino rencananya malam ini juga sepeda motorku akan kuberikan pada Leo. Aku Hanya penasaran aja kenapa tadi Leo mengatakan pada Rani kalau dia pulang duluan karena sakit perut. Sementara aku melihat sendiri Leo keluar dengan Jihan,” jelas Bobby.
Mendengar pertanyaan Bobby yang mulai mencurigainya Leo langsung berpikir sesaat.
“Bobby, mengenai sepeda motor kamu tidak akan pernah aku ambil...” ucap Leo.
“Memangnya kenapa Leo, bukankah kamu telah memenangkan undian ini?” tanya Bobby heran.
“Tapi aku nggak mau Bobby.”
“Kita harus konsisten dengan kesepakatan kita. Bagiku nggak masalah kalau harus menyerahkan sepeda motor kesayanganku karena kamu memang pemenangnya dalam taruhan ini.”
Sambil tersenyum Leo langsung berkata pada Bobby.
“Bobby, pertemanan lebih penting dari segalanya,” ucap Leo lagi.
Sedangkan Bobby langsung melihat ke arah Tino dengan perasaan bingung.
“Sampai kapan pun aku harap persahabatan kita akan tetap baik seperti ini. Jadi untuk itu aku nggak mau mengambil sepeda motor kamu. Aku ikhlas tidak menerima sepeda motor kamu, Bobby yang penting persahabatan kita akan selalu baik sampai ke depannya,” ucap Leo.
Ucapan Leo membuat Tino dan Bobby semakin bingung.
“Kamu kenapa Leo. Aku seperti tidak mengenal waktu asli kamu,” ucap Bobby Ssambil tertawa.
“Benar Bobby, mungkin sekarang Leo sudah bertobat menjadi orang yang lebih baik,” ucap Tino sambil tertawa membuat Bobby pun ikut tertawa.
“Memangnya nggak boleh kalau aku bertobat....” tanya Leo.
“Sangat boleh Leo. Aku juga berharap suatu saat kamu akan menjadi ustad sehingga bisa membimbing kami,” ucap Tino membuat ketawa Bobby langsung pecah.
__ADS_1
“Terserah deh apa kata kalian. Yang penting mulai saat ini aku ingin berubah untuk lebih baik lagi.”
“Aku dukung niat kamu Leo,” ucap Bobby sambil menepuk pundak Leo.
Sedangkan Tino merasa bingung sendiri dengan perubahan sikap Leo karena biasanya Leo terkenal paling nakal di antara mereka dan sering membuat onar.
Tapi malam ini Leo banyak diam sejak pulang dari cafe Lestari tadi.
Terlihat Leo hanya diam saja bahkan kalau tidak ditanya dia hanya diam saja.
Sebenarnya sejak pulang dari cafe Tino merasa heran dengan sikap Leo yang banyak diam ditambah lagi perkataan Leo yang sepertinya benar-benar bertaubat.
“Leo, coba kamu ceritakan pada kami. Sebenarnya ada apa antara kamu dan Jihan sehingga Rani bertanya tentang orang yang ngobrol terakhir dengan Jihan,” tanya Tino yang merasa penasaran.
“Mana aku tau Tino. Kalau kamu tidak percaya tanya aja langsung sama Rani,” ucap Leo seperti mengelak saat diintrogasi.
Tino yang merasa penasaran langsung mengirim pesan pada Rani dan menanyakan kenapa Rani menanyakan siapa yang ngobrol dengan Jihan terakhir kalinya.
Tetapi jawaban Rani memmbuat Tino semakin penasaran.
{Nggak ada apa-apa Tino.} jawab Rani.
Tino yang semakin penasaran langsung mengirim pesan lagi pada Rani.
{Kalau nggak ada yang penting kenapa kamu menanyakan itu pada Leo?}
Dengan perasaan penasaran Tino menunggu jawaban dari Rani tapi Rani tidak memberikan jawabannya. Dia hanya membaca pesan dari Tino tanpa membalasnya.
{Nggak ada apa-apa Tino, aku hanya ingin tau aja.} jawaban Rani tentu membuat Tino semakin penasaran.
“Leo, coba kamu ceritakan pada kami sebenarnya ada apa antara kamu dan Jihan. Kenapa Rani menanyakan siapa teman yang ngobrol terakhir dengan Jihan.” Tanya Tino.
“Iya Leo, aku juga merasa curiga dengan pertanyaan Rani seperti itu barusan. Kamu katakan persahabatan lebih penting dari segalanya jadi kalau kamu menganggap kami sahabat kamu, coba kamu ceritakan pada kami. Kamu harus berkata jujur supaya kami nggak penasaran lagi,” ucap Bobby.
__ADS_1
Leo hanya terdiam memikirkan ucapan teman dekatnya itu. Dia masih bimbang apakah menceritakan atau tidak.
‘Kalau aku tidak menceritakan semuanya pasti Bobby dan Tino akan bertanya terus karena mereka penasaran. Lebih baik aku cerita aja pada mereka supaya bebanku semakin ringan. Mudah-mudahan mereka juga bisa memberikan solusi dalam menghadapi masalah ini,’ batin Leo dalam hati.