
Saat jam istirahat tiba semua pegawai pergi ke kantin untuk makan siang. Rehan langsung mendekati pak Saidi yang masih duduk di meja kerjanya.
“Pak Saidi nggak ke kantin?” tanya Rehan mendekatinya.
“Iya mas Rehan, masih nanggung nih,” jawab pak Saidi yang masih asik di depan komputernya.
Melihat Rehan masih tetap berdiri di dekatnya pak Saidi merasa heran dan bertanya.
“Memangnya ada apa mas Rehan?” tanya pak Saidi sambil menoleh ke arah Rehan.
“Masi lama lagi nggak Pak?” tanya Rehan lagi.
“Entar lagi Mas. Emangnya ada apa sih mas Rehan?” tanya pak Saidi penasaran.
“Saya mau ke kantin dengan Bapak karena ada yang mau saya bicarakan.”
“Masalah apa Mas,” tanya pak Saidi.
“Makanya ayo buruan kalau mau tau,” ucap Rehan sambil tertawa.
Rehan dan pak Saidi sangat dekat dan mereka sering bersenda gurau.
“Ya udahlah kalau gitu, biar saya matikan dulu komputernya.” Pak Saidi langsung mematikan komputer yang ada di depannya.
Kemudian pak Saidi dan Rehan berjalan menuju kantin yang tidak jauh dari ruang kerja mereka.
“Memangnya hal apa yang mau Mas bicarakankan?” tanya pak Saidi saat berjalan menuju kantin.
“Entar aja Pak kalau kita udah makan baru saya ceritakan.”
“Saya penasaran nih,” ucap pak Saidi sambil tersenyum.
“Ya udah, penasarannya saat ini disimpan dulu,” ucap Rehan sambil tertawa.
***
Setelah makanan yang dipesan datang, kemudian keduanya makan di kantin bersama. Selesai makan pak Saidi langsung menagih janjinya.
“Ya udah, mas Rehan katanya ada yang mau dibicarakan. Bicaralah, saya penasaran nih....”
Rehan langsung tersenyum mendengar ucapan pak Saidi yang terlihat sangat antusias ingin mendengarkan ceritanya.
“Sebenarnya saya ada perlu sama anak bapak Dino.”
“Dino? Emangnya ada perlu apa mas Rehan sama Dino anak saya?” tanya pak Saidi heran.
“Ada yang akan saya tanyakan sama Dino tentang teman sekolah Dino.”
__ADS_1
“Cewek atau cowok Mas?” tanya pak Saidi lagi.
“Cewek Pak...” jawab Rehan.
Begitu mendengar jawaban Rehan, pak Saidi langsung tertawa.
“Pasti mas Rehan naksir temannya Dino?” tanya pak Saidi sambil tersenyum.
“Bukan seperti itu Pak.”
“Jadi.....” ucap pak Saidi terputus karena dia merasa bingung.
“Semalam saat saya pulang kantor, saya menemukan seorang gadis pingsan di pinggir jalan.”
“Lalu...” tanya pak Saidi penasaran.
“Sebentar Pak, saya kan belum selesai cerita,” ucap Rehan.
“Yaudah, lanjutkan Mas,” ucap pak Saidi tersenyum.
“Karena saat itu tidak ada orang lewat di dekat situ akhirnya wanita itu saya bawa pulang ke rumah dan sekarang tinggal di rumah. Mau saya antarkan pulang ke rumahnya tapi dia nggak mau karena sebenanrnya dia telah diusir oleh ayahnya.”
“Memangnya kenapa dia sampai diusir oleh ayahnya?” tanya pak Saidi heran.
Mendengar pertanyaan pak saidi, Rehan sempat bingung harus menjawab apa. Tapi dia sudah bertekat tidak akan menceritakan kehamilan Jihan pada siapa pun karena hal ini menyangkut nama baik Jihan.
“Kesalahannya itu apa, sampai ayahnya begitu marah?” tanya pak Saidi lagi.
“Kalau masalah itu saya nggak tau Pak karena dia tidak mau mengatakan kesalahannya,” jelas Rehan.
“Jadi maksud Mas mau mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya?”
“Rencananya nanti setelah lebih tenang saya akan mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya. Makanya saya mau tau tentang wanita ini, baik apa tidak. Karena saya baru mengenalnya makanya saya belum tau sifat aslinya baik atau tidak. Untuk itu saya ingin menanyakan langsung pada Dino tentang sifat wanita itu,” jelas Rehan.
“Oh, seperti itu... Kalau mas Rehan mau bertanya tentang wanita itu sebaiknya mas Rehan ketemu langsung pada Dino karena dia kan yang lebih tau.”
“Maksud saya juga seperti itu Pak,” jawab Rehan.
“Ya udah, nanti pulang kantor mas Rehan ikut saja pulang ke rumah saya dan menanyakan langsung pada Dino.”
“Rencana saya juga seperti itu Pak.”
***
“Silahkan masuk mas Rehan,” ucap pak Saidi ketika sampai di rumahnya.
Rehan langsung masuk ke teras rumah pak Saidi dan duduk di teras saja. Dia menolak saat pak Saidi menyuruhnya masuk ke ruang tamu.
__ADS_1
Rehan lebih memilih duduk di teras saja karena suasananya sangat sejuk dan indah dengan banyak bunga bougenvile yang tumbuh di sekitar rumah pak Saidi.
Begitu Rehan duduk, pak Saidi langsung masuk ke dalam rumah untuk memanggil anaknya Dino. Tidak lama kemudian Dino pun muncul bersama pak Saidi. Dino langsung menyalam Rehan dengan sangat sopan. Kemudian dia duduk di depan Rehan.
“Dino, ada yang mau ditanyakan om Rehan sama kamu,” ucap pak Saidi memulai pembicaraan.
“Tentang apa Om?” tanya Dino.
“Kamu satu sekolah sama Jihan kan?”
“Jihan?” tanya Dino sambil berpikir-pikir.
“Iya, namanya Jihan Sasmita.”
“Oh.... Jihan Sasmita yang cantik itu kan Om?” ucap Dino tanpa sadar kalau ada ayahnya di dekatnya.
“Kalau bicara wanita cantik kamu langsung ingat,” ucap pak Saidi.
Dino langsung tertunduk malu.
“Kamu kenal dekat dengan Jihan?” tanya Rehan lagi.
“Kalau kenal dekat sih nggak Om, tapi Dino kenal sama yang namanya Jihan karena kelas kami bersebelahan. Memangnya ada apa Om,” tanya Dino.
“Menurut kamu, Jihan itu gimana anaknya?” tanya Rehan penuh selidik.
“Memang Dino tidak terlalu mengenal Jihan, tapi kata teman-teman Jihan yang wanita, Jihan anaknya baik tapi dia sedikit pendiam. Dia juga juara umum loh Om,” ucap Dino membanggakan Jihan.
“Oh ya...” ucap Rehan sambil tersenyum mendengar pengakuan Dino.
“Apa dia sudah punya pacar di sekolahnya?” tanya Rehan lagi.
“Pacar...” ucap Dino sambil memikir-mikirkan ucapan Rehan.
“Iya. Apakah dia sudah punya kekasih?”
“Setau Dino, banyak teman pria yang di sekolah kami menyukai Jihan karena selain cantik, Jihan juga pintar. Tapi tidak ada satu pun yang singgah di hatinya karena Jihan hanya fokus belajar aja.
Dia juga terkenal gadis yang kuper. Kerjanya hanya belajar aja dan jarang mau kalau diajak main oleh teman-temannya,” jelas Dino.
Mendengar pengakuan Dino, Rehan hanya tersenyum-senyum saja. Rehan yang sudah mulai menyukai Jihan hanya bisa tersenyum puas ketika mengetahui kalau Jihan belum mempunyai kekasih.
“Memangnya ada apa Om, kenapa Om menanyakan tentang Jihan. Apakah Om mengenal Jihan?” tanya Dino penasaran.
“Om hanya ingin tau aja karena om memang mengenalnya,” jelas Rehan.
Sengaja Rehan tidak menceritakan kalau Jihan pergi dari rumah. Dengan pak Saidi, Rehan hanya menceritakan kalau Jihan minggat dari rumah karena telah melakukan kesalahan yang membuat ayahnya marah. Tapi Rehan tidak menceritakan kesalahan yang dilakukan Jihan.
__ADS_1
Karena Rehan tidak menceritakan alasan kenapa dia menanyakan tentang Jihan, Dino beranggapan kalau Rehan sedang naksir Jihan.