Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Rencana


__ADS_3

“Apa yang harus kita lakukan untuk rencana selanjutnya Yah?” tanya bu Dwi pada pak Herman suaminya setelah Rehan dan pak Saidi pulang.


“Kita tunggu aja ya sampai Jihan pulang nanti Bu. Untuk saat ini kita tunggu saja kabar selanjutnya dari mas Rehan,” jawab pak Herman.


“Lebih baik kita kan menyuruh seseorang untuk melihat kondisi Jihan yang sebenarnya seperti saran mas Rehan dan pak Saidi tadi,” saran bu Dwi.


“Apa memangnya Ibu nggak percaya pada mas Rehan dan keluarganya?” tanya pak Herman lagi.


“Bukannya ibu nggak percaya Yah, tapi untuk memastikan lagi lebih baik kita menyuruh seseorang untuk melihat kondisi Jihan yang sebenarnya. Ayah kan tau zaman sekarang ini banyak kejahatan dengan modus yang berbeda-beda.


Apalagi kita dan keluarga mas Rehan belum saling kenal jadi wajar saja kalau ibu belum sepenuhnya mempercayai ucapan mas Rehan tadi,” jelas bu Dwi khawatir.


Pak Herman yang mendengarkan kekhawatiran istrinya terdiam sambil berpikir sesaat. ‘Apa yang dikatakan ibu benar juga ya. Bisa jadi mas Rehan dan pak Saidi tadi tidak benar. Jadi untuk memastikannya lebih baik saran ibu aku laksanakan,’ batin pak Herman.


Melihat suaminya terdiam sambil berpikir, bu Dwi bertanya lagi. “Gimana menurut Ayah, apa yang ibu katakan tadi?”


“Benar juga apa yang Ibu katakan. Kita harus mencari tau tentang kondisi Jihan dengan menyuruh seseorang pergi ke rumah Rehan supaya kita bisa tenang,” jelas pak Herman.


“Iya Yah.”


“Tapi mudah-mudahan saja apa yang Ibu khawatirkan tidak berbukti.”


“Iya Yah. Tapi karena kita baru saling kenal dengan mas Rehan jadi ibu belum sepenuhnya percaya.


Bisa saja mas Rehan dan pak Saidi bukan orang baik dan sengaja memberi saran untuk mencari tau kondisi Jihan yang sebenarnya, padahal sebenarnya itu rencana mereka supaya kita bisa lebih percaya pada mereka,” jelas bu Dwi.


Sambil tersenyum pak Herman berkata. “Ibu jangan terlalu berburuk sangka pada mereka.”


Bu Dwi hanya diam saja ketika mendengar suaminya mengingatkannya.


“Setelah ayah pikir-pikir, apa yang Ibu dikatakan benar juga. Ya udah besok ayah akan cari seseorang untuk melihat kondisi Jihan yang sebenarnya. Ayah akan sewa petugas PLN untuk ke rumah mas Rehan dan memastikan bahwa kondisi Jihan baik-baik saja.”


“Tapi ayah harus memberitau mas Rehan dulu donk,” ucap bu Dwi.


“Jangan Bu. Petugas PLN itu datang tanpa sepengetahuan mas Rehan jadi di situ kita bisa melihat sendiri bagaimana kondisi Jihan yang sebenarnya. Kalau ayah memberitau mas Rehan bahwa petugas PLN suruhan ayah, pasti semuanya bisa diatur.”


“Iya juga ya,” ucap bu Dwi sambil mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Nanti setelah petugas PLN itu pulang baru ayah hubungi mas Rehan.”


“Ternyata ide Ayah bagus juga,” ucap bu Dwi sambil tersenyum puas.


***


Setelah makan malam selesai, seperti biasa bu Renggo dan Rehan hendak pergi ke ruang keluarga. Sedangkan Jihan masih membantu Siti membereskan meja makan yang masih berserakan.


“Jihan, biar Siti aja yang mencuci piring. Kamu hanya bereskan meja ini aja,” ucap bu Renggo saat akan pergi ke ruang keluarga.


“Iya Bu,” jawab Jihan sambil sibuk membersihkan meja makan.


Kemudian Rehan yang juga akan bergerak ke ruang keluarga mendekati Jihan.


“Jihan, jangan lupa malam ini minum susu lagi ya,” ucap Rehan sambil mengelus punggung Jihan.


“Baik Mas.”


Siti yang melihat tangan Rehan mengelus punggung Jihan langsung cemberut. Dadanya terasa sesak dan sakit karena orang yang selalu hadir dalam mimpinya memberikan perhatian yang lebih pada Jihan.


Sejak Rehan bercerai dengan istrinya, perasaan Siti pada Rehan langsung berubah. Dia dulunya hanya menganggap Rehan sebagai majikan tapi seiring perjalanan waktu perasaan itu sekarang berubah menjadi cinta. Hanya saja Rehan belum mengetahuinya.


Rehan menganggap Siti sebagai wanita biasa yang tidak pernah singgah di hatinya, berbeda dengan Jihan.


Melihat sikap Jihan yang begitu baik, lembut dan penyabar membuat Rehan langsung jatuh cinta tapi Rehan berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. Sehingga Rehan selalu memperhatikan kondisi Jihan, apalagi Jihan sedang mengandung.


Setelah bu Renggo dan Rehan pergi ke ruang tengah, tinggallah Jihan dan Siti yang berada di ruang makan.


Siti mengangkat piring dan gelas yang kotor ke wastafel cucian piring sedangkan Jihan membersihkan meja makan dan memasukkan kembali makanan yang tidak habis ke dalam lemari makan.


Setelah itu dia langsung jalan ke dapur untuk membuat susu. Saat dia akan menuangkan susu ke dalam gelas, Siti yang tidak menyukainya langsung mendekatinya.


“Jihan...” panggil Siti.


Mendengar namanya dipanggil Jihan langsung menoleh ke arah Siti.


“Ada apa Kak?” tanya Jihan.

__ADS_1


“Aku ingatkan sama kamu ya, kamu jangan mencari-cari simpati pak Rehan.”


Mendengar ancaman dari Siti, Jihan merasa heran. Dia langsung mengerutkan keningnya sambil berpikir.


“Memangnya siapa yang mencari perhatian Kak?” tanya Jihan bingung.


“Ya kamu...” jawab Siti ketus.


Mendengar tuduhan dari Siti, Jihan langsung tersenyum sinis.


“Aku nggak pernah mencari perhatian mas Rehan, Kak. Aku juga nggak ada niat untuk menggoda mas Rehan,” jelas Jihan.


Tapi Siti yang sudah terbakar api cemburu merasa kesal.


“Kamu jangan pura-pura lugu Jihan. Kamu pikir aku bodoh ya. Kamu kan sengaja mencari simpati pak Rehan dengan pura-pura sakit lah... lemes lah... supaya pak Rehan perhatian sama kamu,” ucap Siti dengan nada marah.


Jihan yang melihat Siti sepertinya merasa cemburu langsung tersenyum lagi.


‘Berarti kak Siti cemburu karena mas Rehan memperhatikan aku. Kalau memang seperti itu, aku harus buat kak Siti lebih cemburu lagi,’ batin Jihan dalam hati.


“Memangnya kalau mas Rehan memperhatikan aku, salah.... Mas Rehan kan sudah tidak punya istri, jadi wajar donk kalau dia memperhatikan aku.”


Mendengar perkataan Jihan yang seperti menantang membuat Siti semakin emosi.


“Ternyata dugaan aku benar. Kamu kelihatannya aja diam dan lugu, ternyata kamu diam-diam menghanyutkan.”


Mendengar ucapan Siti, Jihan sempat emosi tetapi emosinya langsung ditahan.


‘Jihan, kamu harus bisa menahan emosi. Kamu jangan pernah marah di depan Siti karena dia akan semakin senang melihat kamu marah. Lebih baik kamu pura-pura santai dan cuek supaya dia tambah kesal,’ batin Jihan dalam hati.


“Memangnya apa hubungannya dengan Kakak. Berarti Kakak cemburu kalau mas Rehan memperhatikan aku.”


“Siapa juga yang cemburu,” jawab Siti pura-pura cuek.


“Buktinya Kakak kenapa marah melihat aku dekat dengan mas Rehan,” ucap Jihan tidak mau kalah.


“Aku hanya mau melindungi pak Rehan dari godaan kamu. Kamu kan bakalan menikah dengan ayah dari bayi yang kamu kandung, jadi jangan ganggu pak Rehan.”

__ADS_1


Ucapan Siti yang begitu pedas membuat Jihan terpancing emosi.


__ADS_2