
Hari berganti hari tanpa terasa sudah sebulan lebih Jihan tinggal di rumah Rehan.
“Mas, kapan ibu pulang?” tanya Jihan saat selesai makan malam.
“Kata mama, mama pulangnya diundur lagi karena Shinta belum sembuh betul,” jelas Rehan.
“Berarti lama donk ibu pulangnya.”
“Belum tau lagi Jihan. Rencananya kalau sampai bulan depan Shinta belum juga sehat, maka Shinta akan dibawa mama kemari dan nanti mama yang akan merawatnya.”
“Mudah-mudahan aja Shinta segera sembuh ya Mas.”
“Iya Jihan. Mas juga berharap agar Shinta segera sembuh. Mas kasihan pada Shinta karena sekarang dia sudah tidak punya ayah dan ibu. Hanya kami-lah keluarganya saat ini.”
“Apa Shinta sudah tamat sekolah Mas?” tanya Jihan penasaran.
“Belum. Dia masih kelas sebelas SMA makanya rencana mama akan memindahkan sekolah Shinta kemari supaya bisa tinggal dengan kami. Mama juga bisa mengawasinya karena Shinta sekarang hidup sebatang kara.”
Mendengar perkataan Rehan tentang Shinta yang sudah tidak punya ayah dan ibu, Jihan merasa bersyukur karena kedua orang tuanya masih lengkap.
“Memangnya kenapa Jihan, kamu tanya-tanya mama kapan pulangnya,” tanya Rehan.
“Maksudnya, Jihan kan mau pulang ke rumah,” ucap Jihan.
“Apa kamu sudah lebih tenang?” tanya Rehan lagi.
“Sudah Mas. Jihan sudah mulai tenang dan Jihan ingin kembali berkumpul dengan keluarga Jihan.”
Mendengar Jihan yang akan pulang ke rumahnya perasaan Rehan langsung sedih. Dia akan merasa kehilangan ketika Jihan kembali ke rumahnya. Rehan juga merasa tidak rela ketika Jihan akan pulang ke rumahnya.
“Apa kamu yakin kalau kamu memang benar-benar sudah tenang?”
“Yakin Mas. Saat ini Jihan merasa tenang dan Jihan juga sudah sangat rindu sama ayah dan ibu.”
Sejak Jihan dibawa ke psikolog berangsur-angsur perkembangan mental Jihan sudah mulai membaik. Sekarang Jihan sudah tidak takut dan malu lagi ketika ketemu orang. Dia juga sudah siap dengan musibah yang diterimanya. Bahkan dia sudah tidak malu kalau dia hamil duluan.
“Kalau kamu mau pulang ke rumah, tunggu sampai mama pulang dulu ya,” pinta Rehan.
__ADS_1
“Tapi ibu belum tau kapan pulangnya kan Mas.”
“Yang pasti bulan depan mama sudah bisa pulang.”
“Gimana kalau mas Rehan aja yang mengantar Jihan pulang.”
“Mas rasa, apa nggak sebaiknya nunggu mama kembali dari Pekanbaru dulu.”
“Tapi kan bulan depan baru kembali Mas.”
“Seminggu lagi kan sudah masuk bulan baru.”
“Iya juga ya Mas.”
“Apa rencana kamu selanjutnya kalau nanti sudah pulang ke rumah, Jihan?”
“Ya seperti yang sudah Jihan katakan sama Mas bahwa Jihan mau menikah dengan Leo kalau Leo mau berpindah keyakinan.
Tapi kalau Leo tetap mempertahankan keyakinannya maka Jihan tidak akan memaksakannya. Jihan akan membesarkan anak Jihan sendiri tanpa Leo.”
“Berarti kalau Leo mau berpindah keyakinan, kamu mau menikah dengan Leo?” tanya Rehan lagi.
“Apa kamu mencintai Leo sehingga mau menikah dengannya?” tanya Rehan penasaran.
Dengan wajah sedih Jihan langsung menggelengkan kepalanya.
“Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kamu mau menikah dengan dia?”
“Masalah cinta kan bisa tumbuh belakangan Mas.
Yang Jihan harap saat ini hanya status anak Jihan. Anak Jihan akan lebih bahagia kalau hidup dengan ayah kandungnya meski pun Jihan tidak mencintainya.”
“Berarti kamu korbankan perasaan kamu demi mendapatkan status anak kamu?”
“Iya Mas. Hanya itu yang bisa Jihan harapkan.”
“Seandainya ada pria yang mau menikahi kamu dan berjanji akan menyayangi anak kamu, apakah kamu mau?”
__ADS_1
Sengaja Rehan memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan perasanya karena dia ingin mendapatkan jawaban dari Jihan. Kalau memang Jihan nggak mau maka Rehan mulai sekarang akan berusaha untuk mundur teratur.
“Gimana ya Mas, Jihan masih ragu...” jawab Jihan sambil berpikir-pikir.
“Ragu kenapa Jihan?” tanya Rehan penasaran.
“Apa mungkin pria itu bisa menyayangi anak Jihan seperti anaknya sendiri...”
“Kenapa nggak mungkin.”
“Masalahnya, anak itu kan bukan darah dagingnya Mas...”
“Gimana dengan orang yang mengadopsi anak. Tidak ada hubungan darah tapi sangat menyayangi anak tersebut. Hal itu karena sejak bayi diurus dan dirawatnya sehingga kasih sayang itu akan tumbuh meskipun tidak ada hubungan darah.
Sama seperti masalah ini. Kalau ada pria yang mau menikahi kamu, pasti dia akan menyayangi anak kamu dan menganggap anak kamu seperti anak kandungnya sendiri karena sejak lahir sudah dirawatnya.”
Sengaja Rehan berbicara seperti itu supaya Jihan bisa memahaminya dan tidak terlalu sempit pemikirannya. Rehan yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Jihan ingin mempersunting Jihan seandainya Jihan tidak jadi menikah dengan Leo.
Mendengar perkataan Rehan, Jihan hanya bisa terdiam sambil memikirkannya. Jihan sudah bisa menebak apa yang dibicarakan Rehan barusan.
‘Pasti cerita yang dimaksud mas Rehan adalah dirinya sendiri. Tapi aku masih ragu kalau mas Rehan bisa menyayangi anakku nantinya. Aku juga nggak boleh terlalu cepat mengambil keputusan karena penyesalan selalu datang belakangan,’ batin Jihan.
Sebenarnya Jihan menginginkan Rehan yang akan menjadi suaminya nanti dibandingkan Leo yang tidak dicintainya. Tapi Jihan masih ragu apakah Rehan bisa menyayangi anaknya kelak karena anak yang akan dilahirkan bukan darah dagingnya.
Meskipun Rehan tampak baik dan sayang pada Jihan tapi Jihan belum seratus persen yakin kalau Rehan bisa menyayangi anaknya nantinya.
Jihan khawatir kalau nanti Rehan mempunyai anak kandung sendiri maka dia tidak akan menyayangi anak Leo. Hal itulah yang menjadi pertimbangan Jihan seandainya Rehan ingin menikahinya.
***
Setelah menceritakan keinginannya untuk pulang ke rumah pada Rehan tetapi berhubung mamanya Rehan belum pulang akhirnya Jihan memutuskan untuk menunggu sampai bu Renggo pulang dari Pekanbaru.
Jihan merasa nggak enak dengan bu Renggo kalau pulang ke rumah nanti tanpa diantar oleh bu Renggo. Tentu bu Renggo akan merasa tersinggung.
Hal inilah yang menjadi alasan sehingga Jihan memutuskan akan kembali ke rumahnya setelah bu Renggo pulang dari Pekanbaru.
Rehan sejak tadi merasa tidak tenang begitu mendengar kalau Jihan akan pulang ke rumanya. Sesuai ucapan Jihan sebelumnya bahwa dia mau diantar pulang kalau sudah merasa lebih tenang dan sekarang Jihan sudah merasa lebih tenang sehingga berniat akan pulang ke rumahnya. Jihan juga sangat rindu pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tapi rencana Jihan akan pulang ke rumahnya membuat Rehan sangat sedih dan kecewa. Rehan juga tidak dapat membayangkan kalau nanti tidak pernah ketemu dengan Jihan lagi. Karena selama ini Rehan tidak bisa berpisah dengan Jihan. Sehari saja tidak ketemu Jihan rasanya seperti setahun. Gimana kalau Jihan sudah pulang ke rumahnya, maka Rehan tidak akan pernah ketemu Jihan lagi kecuali kalau Jihan mau dinikahin.