Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Ketemu Leo


__ADS_3

Sepanjang perjalanan semuanya tampak ceria kecuali Jihan yang banyak diam. Gio yang naksir berat sejak lama pada Jihan selalu mencuri pandang pada Jihan. Lusi yang sejak tadi memperhatikannya hanya tersenyum sendiri melihat Gio yang selalu curi pandang.


“Gio, ngapain kamu dari tadi curi-curi pandang pada Jihan. Lebih baik kamu ungkapkan saja hari ini,” ucap Lusi.


Teman yang lainnya langsung tertawa mendengar ucapan Lusi yang meledek Gio. Gio yang terkenal pendiam akhirnya merasa malu. Wajahnya pun langsung merah padam.


“Gio, aku dukung kamu dengan Jihan,” ucap Rika.


“Kalau kamu nggak berani mengungkapkan, biar aku yang menyampaikannya pada Jihan,” ucap Lusi sambil tertawa.


“Ngapain sih pakai perantara segala. Keduanya sudah di sini, ya langsung aja ungkapkan,” ucap Dedi.


Gio tampak grogi diledek oleh teman-temannya sedangkan Jihan hanya diam saja seperti tidak menghiraukan ucapan teman-temannya itu.


***


Begitu sampai di taman bunga terlihat sudah banyak pelajar yang berada di tempat itu. Semuanya pelajar SMA yang baru saja menyelesaikan ujian terakhir mereka.


Jihan berjalan bergandengan tangan dengan Rani, sedangkan Lusi dengan Rika. Gio dan Dedi sudah jalan duluan di depan untuk mencari tempat duduk yang strategis supaya enak ngobrol.


“Itu Gio dan Dedi,” ucap Rani sambil menunjuk Gio dan Dedi yang sudah duduk duluan di bangku di bawah pohon beringin yang cukup rindang.


Jihan dan teman lainnya langsung menuju ke sana. Sampai di sana Gio mempersilahkan Jihan dan teman lainnya untuk duduk.


Setelah mereka duduk manis di bangku itu kemudian memesan makanan ringan dan minuman. Semuanya tampak senang karena baru saja melewati ujian akhir di SMA. Sekarang tinggal memikirkan untuk masuk ke perguruan tinggi.


Lusi yang suka meledek Gio membuat suasana tampak ramai. Kalau mereka berkumpul pasti akan ramai kalau ada Lusi karena Lusi selalu banyak bicara. Dia tipe orangnya sangat ramah pada siapa pun.


Sedangkan Jihan banyak diam. Kalau tidak ditanya dia banyak diam. Seperti saat ini walau pun kelima temannya selalu bercerita dan tertawa, Jihan hanya diam saja. Dia hanya mendengarkan teman-temannya berbicara.


“Kamu rencananya kuliah dimana Jihan?” tanya Dedi membuyarkan lamunan Jihan.


“Belum tau Ded...” Jihan seperti ragu-ragu saat menjawab.


“Tapi kata Rani kamu mau kuliah di Jogjakarta ya?” ucap Gio.


“Rencana dari awal sih iya, tapi untuk saat ini belum tau lagi,” jawab Jihan.

__ADS_1


“Jihan masih ragu kuliah di Jogjakarta karena dia masih berat meninggalkan kedua orang tuanya,” jelas Rani.


“Tapi kan enam bulan sekali saat libur semester bisa pulang...” ucap Lusi.


“Entahlah, aku masih bingung Lus... Oh ya, aku ke toilet dulu ya,” pamit Jihan beranjak dari duduknya.


Jihan kemudian berjalan menuju toilet yang tidak jauh dari tempat mereka duduk. Letak toilet pria dan wanita saling berhadapan. Jihan langsung masuk ke toilet wanita dan ternyata di toilet itu tidak ada orang hanya Jihan sendiri. Begitu sampai dalam tiba-tiba perut Jihan merasa mual dan ingin muntah. Jihan langsung memuntahkan isi perutnya. Setelah beberapa saat Jihan merasakan mualnya hilang dia pun keluar dari toilet itu.


Begitu kakinya melangkah keluar tanpa sengaja dia melihat Leo yang keluar dari toilet pria. Keduanya sama-sama terkejut terutama Leo. Wajah Leo langsung merah padam dan dia seperti pura-pura tidak melihat Jihan. Jihan langsung menyapanya.


“Leo...” ucap Jihan membuat Leo langsung menoleh ke arahnya.


Tiba-tiba Bobby muncul di hadapan mereka. Bobby juga merasa terkejut dengan situasi ini.


“Jihan, kamu dengan siapa kemari?”


“Aku dengan Rani dan teman lainnya. Kami duduk di bawah pohon beringin itu,” tunjuk Jihan ke arah pohon beringin.


“Kalian berdua apa sudah janjian ketemu di toilet ini ya. Kamu Leo, ngapain ngajak Jihan ketemuan di toilet...” ucap Bobby sambil tertawa.


Bobby paling suka ngerjain temannya. Apalagi kalau ngerjain Leo, Bobby paling senang karena Leo orangnya emosian membuat Bobby senang mengganggunya.


Jihan merasa heran dengan sikap Leo yang sepertinya menghindar dan berusaha untuk menjauhi Jihan. Bahkan saat ditegur tadi dia tidak menjawab tetapi wajahnya tampak pucat.


Begitu Bobby masuk ke toilet, Jihan berjalan pelan-pelan untuk berkumpul dengan temannya lagi. Tiba-tiba Rani sudah ada di hadapannya.


“Kamu mau kemana Rani?” tanya Jihan.


“Aku mau mneyusul kamu karena kamu lama kali. Aku khawatir terjadi sesuatu pada kamu. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Rani khawatir.


“Aku tadi muntah makanya lama.”


Rani hanya terdiam sambil meperhatikan wajah Jihan yang tampak pucat dan lemas.


“Tapi kamu nggak apa-apa kan?” tanya Rani lagi.


Jihan hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ran, barusan aku ketemu Leo di toilet dan Bobby juga.”


“Berarti Bobby dan teman-temannya ada di taman bunga ini juga donk.”


“Benar Ran. Ran....” ucap Jihan terputus.


“Ada apa Jihan?” tanya Rani heran karena ucapan Jihan terputus.


“Tadi saat aku melihat Leo, Leo sepertinya terkejut dan wajahnya tiba-tiba pucat...”


“Maksud kamu apa, dia sakit?”


“Bukan... Aku curiga dengan kejadian yang menimpah aku di cafe saat itu.”


Rani menghentikan langkahnya dan membulatkan matanya sempurna sambil memperhatikan wajah Jihan.


“Maksud kamu, Leo yang melakukannya?”


“Pirasatku mengatakan iya Ran...”


Mendengar pengakuan Jihan, Rani merasa geram. Dia langsung mengepalkan tangannya seraya ingin menonjok Leo seandainya Leo ada di dekatnya.


“Coba kamu ingat-ingat lagi Jihan. Kamu jangan hanya berdasarkan pirasan saja karena pirasat seseorang tidak selamanya benar.”


“Aku curiga dengan sikap dia yang seperti maling ketauan mencuri. Dia langsung buru-buru pergi tanpa menjawab sapaanku tadi.”


“Kalau memang dugaan kamu kuat yang melakukan itu adalah Leo, maka besok kita harus ke cafe itu dan kita temui pemiliknya.”


“Mau ngapain kita ketemu dengan pemiliknya Rani. Aku takutnya masalahku jadi diketahui semua orang.” Jihan merasa khawatir kalau sampai banyak orang yang tau tentang masalah itu.


“Kamu jangan khawatir tentang itu Jihan. Pokoknya aku nggak akan cerita kalau kamu telah diperkosa. Aku hanya mau melihat CCTV di cafe itu manatau bisa membantu kita dalam mengumpulkan bukti yang akurat.”


“Tapi kamu janji ya jangan cerita kemana-mana,” ucap Jihan khawatir.


“Kamu seperti baru mengenal aku aja Jihan. Kita kan udah kenal lama jadi ya nggak mungkin aku menceritakan aib kamu.”


Mendengar pengakuan Rani hati Jihan sudah mulai tenang. Jihan berharap kalau nantinya Leo yang telah melakukan itu maka dia akan meminta pertanggung jawabannya. Tapi saat mengingat Leo, hati Jihan jadi ragu.

__ADS_1


‘Kalau memang Leo pelakunya, apa yang harus aku lakukan. Kalau aku minta pertanggung jawabannya maka aku pasti akan dipaksa masuk kristen karena Leo kan beragama kristen. Mudah-mudahan saja bukan Leo pelakunya,’ batin Jihan dalam hati.


__ADS_2