
Leo yang asik di kamarnya sedang memainkan ponselnya langsung beranjak dari duduknya begitu mendengar suara mama dan papanya pulang. Dia langsung menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah.
Tampak dari raut wajah kedua orang tuanya menunjukkan rasa kecewa yang amat dalam.
“Mama baru pulang?” tanya Leo yang baru muncul dari kamarnya.
“Iya Nak,” jawab mamanya Leo seperti tidak bersemangat.
“Gimana Ma tanggapan orang tua Jihan?” Leo tidak sabar ingin mendengarkan hasil pembicaraan antara orang tuanya dengan orang tua Jihan.
Pak Rinto yang duduk di samping istrinya langsung meluapkan emosinya pada putranya.
“Ini semua gara-gara kamu, Leo. Seharusnya kamu berpikir-pikir dulu dampak dan akibatnya sebelum bertindak. Sekarang begini kan? Mama dan papa yang menanggung semuanya bahkan mama dan papa sudah tidak punya muka lagi untuk memohon pada orang tua Jihan agar memaafkan kamu, Leo,” ucap pak Rinto dengan nada marah.
Leo yang mendengar papanya marah hanya bisa terdiam. Dia tidak berani menjawab karena dia merasa bersalah.
“Udahlah Pa, tak usah diungkit-ungkit lagi. Yang perlu kita pikirkan bagaimana caranya supaya Jihan bisa kembali pulang ke rumahnya.” Bu Rini berusaha membuat suasana yang panas menjadi tenang kembali.
Leo yang mendengar perkataan mamanya merasa heran.
“Maksud Mama apa? Jihan pergi dari rumah?” tanya Leo seperti tidak percaya.
“Bener Leo, Jihan minggat dari rumah karena ayahnya sangat marah saat mengetahui dia hamil,” jelas bu Rini.
“Kamu tau Leo, itu semua karena kelakuan kamu. Jihan sekarang minggat dari rumahnya. Ayahnya sangat marah bahkan ayahnya akan menuntut kamu ke polisi karena telah memper**sa putrinya,” ucap pak Rinto.
Mendengar kata polisi Leo sempat ketakutan. Walaupun dia merasa bersalah karena telah berbuat jahat pada jihan, tetapi Leo takut kalau harus berurusan dengan pihak yang berwajib.
“Apa nggak bisa didamaikan Pa?” tanya Leo dengan suara pelan.
“Maksud kamu, supaya kamu tidak dituntut?” tanya pak Rinto emosi.
Leo hanya menganggukkan kepalanya.
“Tidak semudah itu Leo. Ayahnya Jihan marah besar karena masa depan anaknya hancur. Hal ini karena kelakuan kamu.” Pak Rinto masih emosi.
“Tapi Leo menyesal Pa dan Leo akan bertanggung jawab dalam masalah ini.” Leo berusaha untuk membela diri.
“Percuma kamu minta maaf Leo karena nasi sudah jadi bubur dan tidak akan mengembalikan ke bentuk semula. Jadi kamu banyak berdoa saja supaya masalah ini bisa cepat selesai dan kedua orang tua Jihan bisa memaafkan kamu. Terutama Jihan sendiri.”
__ADS_1
“Jadi apa yang harus Leo lakukan Pa?” tanya Leo yang merasa bingung.
“Papa udah pusing memikirkannya Leo karena ayahnya Jihan sepertinya tidak mau memaafkan kamu. Bahkan ayahnya Jihan mengatakan akan menurut kamu pada pihak yang berwajib.”
‘Kalau memang benar apa yang dikatakan papa, aku harus siap menerima semua ini. Aku harus menerima konsekuensi dari perbuatanku,’ batin Leo penuh penyesalan.
Setelah emosi pak Rinto mulai meredah, bu Rini kemudian buka suara.
“Sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya menemukan Jihan secepatnya,” ucap bu Rini.
“Benar Ma. Leo, kamu harus menemukan Jihan secepatnya. Kamu tanya teman-temannya mana tau ada yang mengetahui dimana keberadaan Jihan sekarang. Papa khawatir terjadi sesuatu pada Jihan apalagi Jihan sedang mengandung cucu papa,” ucap pak Rinto yang merasa khawatir terhadap Jihan.
“Benar apa yang dikatakan papamu, Leo. Papa dan mama sangat mengkhawatirkan Jihan. Mama nggak bisa membayangkan kalau Jihan itu anak mama.
Pasti hati mama akan hancur sama seperti hancurnya perasaan kedua orang tua Jihan. Jadi kamu cepat tanya teman-teman kamu mana tau ada yang mengetahui keberadaan Jihan sekarang,” tambah bu Rini.
“Baik Ma,” jawab Leo.
***
Setelah Leo selesai berbicara dengan kedua orang tuanya, dia langsung masuk ke kamarnya dan menghubungi temannya yang bernama Bobby.
Bobby adalah teman sekelas Jihan yang mungkin tau keberadaan Jihan saat ini.
[“Bobby, ada yang mau aku tanyakan.]
[“Tentang apa Leo?”] tanya Bobby merasa heran.
[“Kamu tau tentang kabar Jihan nggak?”] tanya Leo.
[“Memangnya ada apa Leo?”] tanya Bobby semakin bingung.
[“Aku dengar Jihan minggat dari rumah.”] Ucap Leo.
[“Kamu tau dari mana?”] tanya Bobby penasaran.
[“Adalah yang memberitahu sama aku. Katanya Jihan pergi dari rumah dan sampai sekarang belum kembali.”] Jelas Leo.
[“Apa? Jihan minggat dan belum kembali?”] Bobby seperti tidak percaya mendengarnya.
__ADS_1
[“Iya Bobby...”]
[“Aku kok nggak dengar ya?”]
[“Kamu sih, sibuk terus...”]
[“Maklumlah aku kan ikut bimbel jadi sibuk terus mengerjakan kuis makanya nggak tau perkembangan terbaru. Jadi rencana kamu untuk bertanggung jawab atas kehamilan Jihan gimana Leo?”] tanya Bobby penasaran.
Sebelumnya Leo sempat cerita pada Bobby karena Bobby adalah teman dekatnya. Leo menceritakan apa yang telah dilakukannya pada Jihan tentang pemerkosaan dan sampai Jihan hamil. Semuanya telah diceritakan Leo pada teman dekatnya itu.
[“Barusan orang tuaku ke rumah Jihan dan ingin bertanggung jawab atas kehamilan Jihan. Ternyata kata mamaku tadi, saat ayahnya Jihan mengetahui kalau Jihan sedang hamil ayahnya marah besar dan langsung mengusir Jihan. Kemudian Jihan langsung pergi entah ke mana dan sekarang belum kembali.”] Jelas Leo.
[“Kasihan kali Jihan, Leo....”] ucap Bobby prihatin.
[“Iya Bobby. Aku sangat menyesal Bobby, karena perbuatanku Jihan mengalami nasib seperti ini.”]
[“Kamu jangan berlarut-larut dalam penyesalan. Sekarang yang harus kamu pikirkan bagaimana caranya menemukan Jihan secepatnya agar kamu bisa menikahinya.”]
[“Tidak semudah itu Bobby...”]
[“Memangnya kenapa Leo?”]
[“Kamu kan tau sendiri kami berbeda keyakinan. Jadi kalau pun kami nanti menikah, harus ada salah satu yang mengorbankan keyakinannya.”] jelas Leo.
[“Kalau gitu, berarti kamu-lah yang harus mengorbankan keyakinan kamu.”]
[“Nggak bisa juga Bobby.”]
[“Kenapa nggak bisa Leo?”]
[“Kalau aku pribadi, aku akan bertanggung jawab atas kehidupan anakku sampai dia dewasa nanti. Tapi kalau harus berpindah keyakinan, aku nggak akan bisa Bobby.”] Tampak Leo sangat mempertahankan keyakinannya.
Bobby pun terdiam saat memikirkan ucapan Leo. Dia pun tidak mau memaksakan kehendaknya pada Leo.
[“Kalau masalah keyakinan, aku nggak mau ikut campur Leo. Aku juga nggak bisa memaksakan kamu. Aku hanya bisa memaksakan supaya kamu mau bertanggung jawab atas kehamilan Jihan.”] Jelas Bobby.
[“Kalau masalah itu, kamu jangan khawatir Bobby. Aku akan bertanggung jawab seperti apa yang aku katakan barusan.”]
[“Syukurlah kalau kamu mengerti. Ya udah, kalau gitu aku akan tanya teman-teman aku ya. Mana tau ada temen aku yang mengetahui keberadaan Jihan saat ini.”]
__ADS_1
[“Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih banyak ya Bobby.”]
Leo dan Bobby kemudian mengakhiri percakapan mereka.