
Rinto sampai di rumahnya dan melihat istrinya sedang duduk lemas di ruang tengah. Pak Rinto yang merasa heran langsung mendekatinya.
“Mama kenapa, sakit ya?” tanya pak Rinto sambil memegang pundak istrinya.
Mendengar pertanyaan suaminya perasaan bu Rini sedih kembali.
“Papa...” ucap bu Rini sambil menangis.
Wanita itu langsung memeluk suaminya itu.
Pak Rinto semakin heran melihat sikap istrinya.
“Ada apa Ma. Cerita donk sama papa,” pinta pak Rinto.
“Leo, Pa...” ucap bu Rini terputus.
Mendengar ucapan istrinya pak Rinto langsung panik. Dia menduga telah terjadi sesuatu pada Leo.
“Leo kenapa Ma? Apa yang terjadi dengan Leo?” tanya pak Rinto khawatir.
“Dia nggak akan mungkin melanjut kuliah Pa.”
__ADS_1
“Tapi katanya dia mau kuliah di Medan aja, nggak jadi di Jakarta. Jadi apa masalahnya lagi?” desak pak Rinto pada istrinya.
Sambil menangis bu Rini pun bercerita pada suaminya bahwa Leo telah menghamili seorang gadis yang bernama Jihan.
Emosi pak Rinto langsung memuncak mendengar cerita istrinya. Tangannya langsung gemetar dan dadanya naik turun menahankan luapan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun.
“Mana Leo, Ma?” tanya pak Rinto emosi.
Pak Rinto langsung bangkit dari duduknya sambil mengepalkan tangannya. Hal ini membuat bu Rini semakin ketakutan.
“Papa tahan emosi dulu, jangan marah-marah,” pinta bu Rini yang mulai merasa takut kalau suaminya marah.
“Gimana papa nggak marah, dia telah mencoreng muka papa. Leo itu anak kita satu-satunya Ma, jadi dia harapan papa. Kalau memang seperti ini apa yang bisa kita harapkan dari dia. Dia selalu buat masalah aja. Leo, kemari...” jerit pak Rinto dari ruang tengah.
“Papa tahan emosi ya. Jangan menyelesaikan masalah dengan marah seperti ini. Papa duduk dulu ya, biar amarahnya reda,” ucap bu Rini sambil memegang pundak suaminya dan membawanya duduk kembali ke sofa.
Leo yang mendengar jeritan papanya dari ruang tengah langsung keluar dari kamarnya.
Dia berjalan menuju ke ruang tengah walaupun perasaannya takut akan kemarahan papanya.
Tapi Leo sudah menyiapkan diri untuk menghadapi semua ini karena dia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya.
__ADS_1
Begitu Leo sudah sampai di dekat papanya, pak Rinto langsung bangkit dari duduknya dan menampar pipi Leo dengan kuat membuat Leo terjatuh ke sofa.
Bu Rini yang melihat putra satu-satunya mendapat perlakuan kasar dari suaminya langsung emosi juga.
sebagai seorang ibu, Dia tidak sampai hati melihat suaminya melukai fisik anaknya walaupun dia papa kandungnya.
“Papa, tidak bisa masalah diselesaikan dengan marah seperti ini,” ucap bu Rini berusaha memeluk suaminya dan membawanya duduk kembali di sofa.
Bu Rini khawatir kalau suaminya akan berbuat lebih kasar lagi pada Leo.
“Papa, jangan setiap masalah diselesaikan dengan emosi. Percuma, tidak ada artinya karena semuanya sudah terjadi.
Seharusnya kita memikirkan bagaimana solusi yang terbaik dalam memecahkan masalah ini. Bukan menambah masalah dengan papa melukai anak sendiri,” ucap bu Rini marah.
" Solusi palagi ma, yang ada dia harus menikah, lalu keluar dari rumah ini!"
"pa!!!" Bu Rini marah kepada suaminya karena bukannya memberikan solusi suaminya justru malah mengusir putranya sendiri.
"apalagi dia berani berbuat harus berani bertanggung jawab nikahi perempuan itu dan bekerja,"
"Pa, jangan seperti ini Leo itu anak kita satu-satunya pak kalau kita biarkan dia di luar sana bisa apa dia,"
__ADS_1
"banyak, buktinya dia bisa memahami Dia menghamili anak orang,"
"Papa...'"