
Selesai makan malam seperti biasa Rehan dan Jihan menonton TV di ruang keluarga. Tidak lama kemudian Jihan yang sudah ngantuk berat langsung tertidur dengan menyandarkan badannya di sofa.
Sedangkan Rehan yang duduk di sampingnya masih asik melihat ke layar TV tanpa memperhatikan Jihan yang sudah tertidur nyenyak di sampingnya.
Tepat pukul sepuluh malam Rehan mulai merasa ngantuk dan ingin mengajak Jihan untuk masuk kamar.
Tapi saat diliriknya Jihan yang ada di sampingnya, ternyata Jihan sudah tertidur nyenyak. Rehan langsung mengelus kepala Jihan lembut sambil memandang wajahnya tak puas-puasnya.
Rehan memandang wajah Jihan yang begitu manis dan lembut. Ketika sedang tertidur nyenyak kecantikan Jihan masih terlihat jelas membuat jantung Rehan semakin berdetak kencang dan ingin rasanya Rehan menarik tubuh Jihan dalam pelukannya.
Dilihatnya Jihan sangat nyenyak Rehan tidak sampai hati untuk membangunkannya sehingga dia berniat untuk membopong Jihan ke dalam kamar. Sebelum tubuh Jihan diangkatnya, Rehan menyempatkan diri mencium kening dan pipi Jihan dengan sangat lembut karena takut kalau Jihan akan terbangun. Setelah itu Rehan baru membopong Jihan dan di bawahnya masuk ke kamar Jihan.
Sampai di kamar Rehan langsung membaringkan tubuh Jihan di atas ranjang besi. Tak lupa Rehan menyelimuti sekujur tubuh Jihan sampai di atas dada. Jihan yang sudah tertidur nyenyak tidak merasakan saat Rehan membopongnya dan membawanya ke kamar.
Kemudian Rehan masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Dia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan langsung memejamkan matanya. Begitu mata terpejam pikiran Rehan melayang entah ke mana membuat dia tidak dapat tidur. Keinginan Jihan untuk pulang ke rumahnya membuat Rehan merasa gelisah sehingga pikirannya tertuju ke situ saja.
Dia belum siap untuk berpisah dengan Jihan seandainya Jihan pulang ke rumah orang tuanya. Hal ini karena benih-benih cinta di hati Rehan semakin hari tumbuh subur dan membuatnya semakin sulit untuk berpisah dengan Jihan.
Perasaan inilah yang membuat Rehan sulit untuk tidur sementara waktu berjalan terus dan sekarang sudah pukul dua belas malam tetapi Rehan belum bisa tidur nyenyak juga. Mata dan pikirannya masih mengingat Jihan.
Saat sedang memikirkan Jihan tiba-tiba terdengar suara rintihan seorang wanita membuat Rehan merasa terkejut. Dia kembali mendengarkan suara itu lagi dan ternyata pendengarannya tidak salah bahwa dia mendengarkan suara Jihan yang sedang memanggilnya sambil merintih kesakitan.
Setelah Rehan yakin kalau itu suara Jihan, buru-buru dia bangkit dari tidurnya kemudian berlari keluar kamar.
Terlihat Jihan sedang berjongkok di depan kamarnya sambil merintih kesakitan. Rehan merasa terkejut melihat kondisi Jihan yang sedang kesakitan.
Dia langsung mengangkat tubuh Jihan ke sofa yang ada di depan kamarnya.
Rehan langsung membaringkan tubuh Jihan di atas sofa dan mengelus kepala Jihan.
“Kamu kenapa Jihan?” Rehan tampak panik melihat Jihan yang menyengir kesakitan.
Dengan suara berat Jihan nberkata. “Nggak tau Mas. Tiba-tiba perut Jihan terasa sakit.”
“Sakitnya gimana Jihan?” tanya Rehan lagi.
“Rasanya seperti mutar-mutar Mas,” jelas Jihan.
__ADS_1
“Kita ke rumah sakit sekarang ya...”
“Nggak usah Mas. Jihan takut.”
“Kenapa takut. Kan ada mas...” bujuk Rehan.
“Nggak apa-apa Mas, entar lagi juga sembuh,” ucap Jihan lagi.
Melihat kondisi Jihan yang sangat memprihatinkan Rehan tidak tinggal diam. Tanpa minta persetujuan Jihan, Rehan langsung membopong Jihan dan di bawahnya masuk ke dalam mobilnya.
“Kita mau ke mana Mas?” tanya Jihan.
“Ke rumah sakit,” jawab Rehan buru-buru.
“Jihan nggak mau Mas. Jihan takut.”
Rehan tidak memperdulikan ucapan Jihan. Dia tetap membawa Jihan ke rumah sakit.
***
“Sejak kapan istri Bapak mengalami sakit seperti ini?” tanya dokter pria itu sambil memeriksa Jihan.
Rehan dan Jihan saling pandang-pandangan karena bingung harus menjawab apa. Akhirnya Rehan langsung menjawab.
“Baru saja Dok, kira-kira setengah jam yang lalu,” jelas Rehan sambil tersenyum geli.
Rehan merasa lucu saja ketika dokter itu menganggp dirinya suaminya Jihan.
Tapi untuk menutupi kecurigaan dokter terpaksa Rehan harus berbohong mengaku kalau dirinya suaminya Jihan sehingga ketika dokter itu menganggap dia suaminya Jihan, Rehan tidak menyangkal.
“Istri Bapak sering mengalami sakit seperti ini?” tanya dokter itu lagi.
“Nggak pernah Dok, baru kali ini,” jawab Rehan tegas.
“Usia kandungannya sudah berapa bulan Pak?”
Rehan bingung menjawabnya karena dia tidak tau betul masalah usia kandungan Jihan. Kemudian Rehan langsung melirik ke arah Jihan. Dengan cepat Jihan langsung menjawab.
__ADS_1
“Masuk usia tiga bulan Dok,” jawab Jihan.
“Oh....” jawab dokter itu.
Rehan yang merasa malu karena tidak tau usia kandungan Jihan akhirnya hanya menundukkan kepalanya.
“Bapak sebagai suaminya harus tau donk usia kandungan istrinya,” ucap dokter itu sambil tersenyum.
“Maaf Dokter, saya lupa,” ucap Rehan pelan karena merasa malu.
“Makanya mulai sekarang Bapak harus mengingat berapa usia kandungan ibu. Bapak juga harus tau kapan ibu akan melahirkan karena yang dikandung kan anak Bapak,” jelas dokter itu sambil tersenyum.
Rehan hanya tersenyum saja mendengar ucapan dokter itu.
“Memangnya istri saya sakit apa Dok?” tanya Rehan dengan percaya diri.
Jihan langsung melirik ke arah Rehan, sedangkan Rehan hanya tersenyum memandang Jihan.
“Istri Bapak hanya kelelahan aja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena istri Bapak sedang hamil muda dan rentan keguguran. Hal ini biasa dialami orang yang sedang hamil muda.
Jadi saya sarankan agar istri Bapak jangan terlalu capek karena kandungan si ibu sangat lemah.”
“Istri saya memang nggak bisa dilarang Dok. Semua pekerjaan rumah mau dikerjakannya semua,” jelas Rehan sambil melirik pada Jihan.
“Ibu jangan terlalu capek ya karena dikhawatirkan nanti bisa keguguran karena kandungan si Ibu sangat lemah.”
“Tapi saya nggak ada kerja apa-apa loh Dok selain masak,” ucap Jihan.
“Karena kandungan Ibu sangat lemah sehingga kerja sedikit pun tidak bisa, termasuk memasak. Tapi kalau kandungan Ibu kuat, meskipun ibu mencuci, memasak, menyapu dan semua pekerjaan rumah Ibu kerjakan itu nggak masalah.
Banyak ibu hamil seperti itu karena kandungannya kuat. Sementara kandungan Ibu sangat lemah makanya Ibu kerja dikit aja sudah seperti ini,” jelas dokter.
“Berarti istri saya harus istirahat total ya Dok?” tanya Rehan lagi.
“Bener Pak. Mulai sekarang istri Bapak jangan boleh mengerjakan aktivitas pekerjaan rumah untuk sementara ini.
Suruh saja orang lain yang mengerjakannya karena usia kandungan si ibu masih sangat muda apalagi kandungan ibu sangat lemah,” jelaskan dokter lagi.
__ADS_1