Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Bertengkar


__ADS_3

“Papa, jangan seperti ini?"


"Mama diam,biar papa yang urus anak sialan ini,"


"tapi nggak setiap masalah diselesaikan dengan emosi. Percuma, tidak ada artinya karena semuanya sudah terjadi.


Seharusnya kita memikirkan bagaimana solusi yang terbaik dalam memecahkan masalah ini. Bukan menambah masalah dengan papa melukai anak sendiri,” ucap bu Rini marah.


“Itulah Mama yang selalu membela Leo. Sekarang Mama lihat sendiri-kan bagaimana kelakuan Leo. Leo dari dulu tidak pernah berubah. Sejak SMP dia sering berkelahi dengan temannya bahkan sampai SMA ini.


Semua karena apa, ya karena sikap mama yang selalu membela dan memanjakannya sehingga dia besar kepala,” ucap pak Rinto marah juga.


“Oh, jadi Papa menyalahkan mama?” Bu Rini merasa tersinggung karena disalahkan suaminya.


“Karena semua ini memang kesalahan Mama yang tidak becus mendidik anak.”


“Pa, tugas mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu tapi juga tugas seorang ayah. Jadi Papa jangan menyalakan mama aja donk. Papa Seharusnya juga memberi perhatian pada Leo, ini tidak... Pulang kerja selalu sore dan ketika sampai di rumah tidak pernah peduli dengan Leo.”

__ADS_1


“Papa kan capek Ma. Papa di kantor bukan main-main Ma. Banyak yang harus papa selesaikan di kantor membuat kepala papa terkadang seperti mau pecah. Banyak masalah yang harus papa selesaikan di kantor, sementara Mama sendiri hanya di rumah aja. Jadi wajar donk kalau papa menyerahkan urusan Leo pada Mama.”


“Tapi nggak bisa begitu donk Pa. Meskipun Papa sibuk tapi harus punya waktu buat Leo.”


Leo yang mendengar pertengkaran kedua orang tuanya hanya bisa diam saja. Dia merasa bersalah karena telah membuat kedua orang tuanya bertengkar. Walaupun Leo merasa takut dengan sikap papanya yang begitu marah kepadanya, tapi Leo harus menghadapi semua ini.


“Maafkan Leo, Pa.” Pak Rinto hanya terdiam dan masih terduduk lemas di sofa.


Setelah meluapkan emosinya badan Pak Rinto terasa lemas tidak berdaya membuat dia langsung menyandarkan diri di sofa. Pak Rinto yang mempunyai penyakit darah tinggi tidak bisa menghadapi masalah apalagi masalah yang menyangkut anaknya. Emosinya langsung meluap dan setelah itu badannya terasa lemas.


“Makanya kan udah mama katakan tadi, Papa jangan langsung emosi begitu aja. Pikirkan kesehatan Papa karena percuma aja Papa marah semuanya telah terjadi,” ucap bu Rini berusaha menenangkan suaminya.


Leo kemudian mendekati papanya dan ikut memijat pundak papanya. Sambil memijat pundak papanya dia pun menangis karena merasa bersalah.


“Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana mencari jalan keluarnya atas masalah ini,” ucap bu Rini lagi.


“Ya mau nggak mau Leo harus bertanggung jawab atas masalah ini. Dia harus menikahi gadis itu demi anak yang dikandungnya,” ucap pak Rinto.

__ADS_1


“Tapi masalahnya Pa, gadis itu beda keyakinan dengan kita,” jelas bu Rini.


“Apa... beda keyakinan dengan kita?” tanya pak Rinto seperti tidak percaya.


Pak Rinto kembali marah pada Leo karena kesal.


“Kamu memang sudah tidak waras Leo. Apa tidak kamu pikirkan konsekuensinya atas perbuatan kamu ini?”


“Sudah Pa, sudah... Tahan emosi Papa dulu,” pinta bu Rini pada suaminya.


Mendengar ucapan istrinya, pak Rinto pun langsung terdiam.


“Papa jangan marah-marah lagi ya. Ingat kesehatan Papa,” ucap bu Rini.


Pak Rinto pun terdiam sambil memikirkan solusi dalam masalah ini. Sedangkan Leo yang sejak tadi hanya banyak menundukkan kepala karena merasa bersalah. Dia merasa menyesal akan perbuatannya. Ingin sekali rasanya bertobat dan tidak mengulangi perbuatannya. Kalau waktu dapat diputar kembali ingin sekali rasanya Leo merubah semua perbuatannya yang telah melukai hati kedua orang tuanya. Walaupun dia terkenal badung tapi begitu melihat kedua orang tuanya sedih dan kecewa, Leo merasa tidak tegah.


Apalagi saat melihat mamanya menangis karena perbuatannya. Begitu juga dengan papanya yang terlihat sangat hancur perasaannya ketika mengetahui permasalahan yang sedanng dihadapi Leo. Hati Leo sangat sedih.

__ADS_1


__ADS_2