
Setelah mendapat penanganan dokter, akhirnya Jihan diperbolehkan pulang malam itu juga dengan catatan Jihan tidak boleh terlalu capek. Hal ini disebabkan kandungan Jihan sangat lemah dan rentan keguguran.
“Jadi istri saya sudah diperbolehkan pulang Dok?” tanya Rehan pada dokter yang memeriksa Jihan.
“Benar Pak. Kandungan ibu sehat, hanya saja ibu tidak boleh terlalu capek karena kandungannya sangat lemah. Nanti akan saya berikan resep obatnya ya Pak,” jelas sang dokter.
“Baik Pak. Oh ya Dok, tolong berikan juga resep vitamin supaya istri saya tetap sehat dan kuat ya Dok,” pinta Rehan.
“Baik Pak, akan saya berikan resepnya. Yang harus diingat, Bapak harus selalu mengawasi istri Bapak supaya jangan terlalu capek melakukan aktivitas di rumah. Ibu juga harus selalu teratur minum obat dan vitamin ya Bu.
Kalau ada keluhan yang lain segera konsul ke dokter kandungan,” ucap dokter itu lagi.
“Baik Dokter,” jawab Jihan.
“Oh ya Bu, saya sarankan setiap bulannya ibu harus konsul lke dokter kandungan mengingat kandungan Ibu sangat lemah.”
“Baik Dok, akan kami laksanakan. Terima kasih sebelumnya ya Dok,” ucap Rehan dan Jihan bersamaan.
Setelah resep dibuat oleh dokter, Rehan langsung menebus obat itu di apotek. Setelah itu Rehan dan Jihan langsung pulang.
Sakit perut Jihan perlahan sembuh sehingga ketika masuk ke dalam mobil perutnya sudah tidak sakit lagi. Sekarang yang ada hanyalah rasa ngantuk yang begitu berat sehingga tanpa sadar Jihan yang baru naik mobil langsung tertidur nyenyak.
Melihat Jihan sudah tertidurnya nyenyak perasaan Rehan sangat senang dan puas karena melihat orang dicintainya sudah tidak merasakan sakit lagi.
Ketika melihat Jihan merintih kesakitan Rehan sempat panik dan dia seperti merasakan sakit juga. Tapi begitu melihat rasa sakit Jihan hilang Rehan juga merasakan hal yang sama. Rehan seperti memikul beban yang cukup berat tetapi tiba-tiba beban itu hilang membuat Rehan merasa puas.
***
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Jihan tampak sangat nyenyak. Meskipun terdengar suara klakson mobil yang begitu ramai di jalanan tidak membuat Jihan terbangun. Dia tetap tertidur nyenyak di jok mobil depan.
Walaupun sudah pukul dua dini hari jalanan masih ramai oleh pengguna jalan. Kendaraan yang lalu lalang silih berganti.
Sebenarnya Rehan sudah merasakan ngantuk tapi karena dia sedang membawa kendaraan akhirnya Rehan pun fokus melanjutkan kendaraannya.
__ADS_1
Ketika perasaan ngantuk sudah menguasai dirinya Rehan langsung melawannya sehingga rasa ngantuk itu pun seketika hilang.
Ketika mobil memasuki halaman rumah terlihat Jihan masih tertidur nyenyak di jok mobil depan.
Rehan yang merasa kasihan untuk membangunkannya, akhirnya mengangkat Jihan untuk masuk ke dalam kamar.
Saat sampai di ruang tengah Jihan pun terbangun dan dia minta diturunkan.
“Mas, turunkan...” ucap Jihan dalam gendongan Rehan.
Tapi Rehan tetap membawanya masuk ke dalam kamar Jihan. Sampai di kamar, Jihan langsung direbahkan di tempat tidurnya. Kemudian Rehan meraih selimut yang ada di tempat tidur itu dan menyelimuti tubuh Jihan sampai ke dada.
“Sekarang kamu lanjutkan tidurnya ya?” ucap Rehan sambil mengelus kepala Jihan.
“Sekarang udah jam berapa Mas?” tanya Jihan.
“Udah jam dua pagi. Memangnya ada apa Jihan?”
“Nggak ada apa-apa Mas. Jihan hanya ngucapkan banyak terima kasih ya Mas atas semuanya. Jihan juga minta maaf sudah membuat mas Rehan repot.”
Sebelum mamanya berangkat ke Pekanbaru, sempat berpesan pada Rehan agar selalu menjaga dan memperhatikan Jihan.
Bu Renggo sangat khawatir dengan kondisi Jihan yang sangat lemah.
“Ya udah, sekarang kamu tidur ya,” ucap Rehan sembari bangkit dari duduknya.
Tapi saat Rehan akan melangkahkan kakinya Jihan langsung menarik tangannya membuat Rehan langsung menoleh ke belakang.
“Mas, jangan pergi ya. Temani Jihan di sini.” Jihan bermohon dengan wajah memelas.
Rehan kembali duduk dan menggenggam tangan Jihan.
“Kenapa Jihan, kamu takut ya?”
__ADS_1
“Iya Mas. Jihan takut tiba-tiba perut Jihan sakit lagi. Mas tidur di sini aja ya,” pinta Jihan.
Melihat Jihan yang masih lemah Rehan merasa kasihan. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur di kamar itu dan kebetulan di kamar itu ada sofa.
Sebelumnya kamar itu adalah kamar Rehan ketika masih bersama istrinya dulu. Sebenarnya Rehan merasa berat untuk tidur di kamar itu karena banyak kenangan bersama istrinya ketika mereka belum bercerai. Semua perabotan yang ada di kamar itu masih seperti dulu tidak ada yang berubah.
Hanya foto pernikahan Rehan dan mantan istrinya yang sudah tidak dipajangkan lagi.
Rehan yang merasa sakit hati dengan mantan istrinya menghancurkan dan membakar foto itu dan semua barang-barang mantan istrinya yang masih tertinggal di kamar itu sudah habis dibuang semuanya oleh Rehan.
Hanya saja perabotan di kamar itu yang masih lengkap seperti dulu. Susunannya juga masih seperti dulu mengingatkan Rehan pada kenangan ketika bersama istrinya.
Saat Rehan masuk ke kamar itu sempat Rehan mengingat kenangan bersama istrinya tapi Rehan langsung membuang kenangan itu.
Kalau mengingat kenangan itu hati Rehan sangat sakit bahkan sampai sekarang belum bisa memaafkan istrinya karena telah menghianatinya.
Masih teringat dalam pikiran Rehan ketika Lili yang merupakan istrinya membawa masuk selingkuhannya ke dalam kamar itu. Saat itu mamanya sedang berada di Jakarta karena ada familinya yang meninggal dunia.
Tinggallah Rehan dan istrinya di rumah itu.
Saat itu Rehan yang tidak enak badan langsung izin pulang cepat dari kantor.
Sampai di rumah betapa terkejutnya Rehan ketika memergoki istrinya sedang berduaan di kamar dengan seorang pria. Hati Rehan sangat sakit melihat perselingkuhan istrinya di rumahnya sendiri bahkan di kamar tidurnya. Rehan langsung marah dan menghajar pria itu sampai babak belur.
Yang lebih menyakitkan lagi ketika sang istri lebih memilih kekasihnya itu dari pada Rehan yang telah menjadi suaminya yang sah. Hari itu juga sang istri yang bernama Lili langsung dicerai oleh Rehan.
Lili langsung angkat kaki bersama kekasih itu.
Rehan yang merasa terpukul dengan kejadian itu sempat shok berat karena tidak menyangka kalau istrinya yang tampak sayang dan setia ternyata di belakangnya bermain gila dengan pria lain. Hati Rehan sangat sakit.
Sejak saat itu Rehan menutup diri pada wanita lain. Dia masih trauma untuk mendekati wanita.
Melihat Rehan masih terbengong Jihan langsung berkata. “Kalau nggak, Mas yang tidur di ranjang ini biar Jihan yang tidur di sofa.”
__ADS_1
“Nggak usah Jihan, biar Mas aja yang tidur di sofa. Kamu biar tidur di ranjang aja.”
Kemudian Rehan mengambil bantal yang ada di tempat tidur Jihan dan dia pun langsung tidur di sofa. Rehan langsung memejamkan matanya karena memang sudah ngantuk berat. Dalam hitungan detik Rehan sudah tertidur nyenyak di sofa itu.