
“Nggak ada apa-apa loh Ma. Mama jangan khawatir ya...” jawab Leo.
“Mama takut kamu pasti sedang ada masalah dengan teman kamu makanya kamu banyak diam dan mengurung diri di kamar aja.”
“Kenapa sih Mama nggak percaya sama Leo?”
“Bukannya mama nggak percaya sama kamu, tapi mama hanya curiga aja dengan sikap kamu yang berubah.”
“Setiap manusia kan bisa aja berubah Ma.”
“Memang sih iya, tapi melihat sikap kamu yang tidak seperti biasanya mama jadi khawatir. Jangan-jangan kamu sedang punya masalah dengan teman kamu.”
Mendengar ucapan mamanya, Leo hanya terdiam. Sebenarnya dia ingin menceritakan semuanya pada mamanya tapi dia masih ragu. Dia takut kedua orang tuanya akan marah besar seandainya mengetahui hal ini.
Selama Jihan dan keluarganya tidak menuntutnya, Leo berencana tidak akan menceritakannya pada kedua orang tuanya.
Setelah beberapa kali bu Rini bertanya pada Leo tentang perubahan sikapnya dan Leo tidak mau cerita, akhirnya bu Rini hanya bisa pasrah. Bu Rini merasa memang tidak ada yang dirahasiakan oleh Leo. Kemudian bu Rini pun keluar dari kamar Leo.
Leo merasa bersalah karena telah membohongi mamanya. Dia merasa berdosa karena tidak berkata jujur pada mamanya, sementara mamanya mengharapkan kejujuran darinya.
Diliputi rasa bimbang dan ragu Leo membulatkan tekad untuk menceritakan masalahnya pada mamanya karena bagaimana pun yang namanya bangkai disimpan pasti akan tercium juga.
Leo berharap dengan menceritakan hal ini pada mamanya akan mengurangi beban yang ada dalam pikirannya.
‘Lebih baik aku cerita aja sama mama tentang masalah ini. Mudah-mudahan dengan mama mengetahui hal ini akan menemukan solusi yang terbaik untukku,’ batin Leo.
***
Kemudian Leo keluar dari kamar untuk menemui mamanya. Dilihat mamanya sedang menonton TV di ruang tengah.
“Ma...” Panggil Leo.
Bu Rini langsung menoleh ke arah putranya. “Ada apa Leo?” tanya bu Rini sambil memperhatikan wajah putranya yang terlihat tampak pucat.
Leo kemudian duduk di samping mamanya. Remote TV yang ada di atas meja langsung diraih dan dia kemudian mengecilkan volume di TV. Bu Rini memperhatikan tingkah Leo dengan perasaan heran.
‘Berarti ada sesuatu yang akan disampaikan Leo sehingga dia harus mengecilkan volume TV,’ batin bu Rini.
“Ada apa Leo, kok sepertinya serius amat...” Leo tidak berani menatap wajah mamanya.
Dia hanya menundukkan kepalanya. Bu Rini semakin heran melihat sikap Leo yang tampak takut. Sehingga untuk mengurangi ketegangan itu bu Rini langsung memegang pundak putranya sambil berkata.
“Ada apa Leo, kenapa diam aja. Sekarang cerita ama mama. Mama pasti dengar kok.”
Mendengar ucapan mamanya yang begitu lembut membuat rasa takut Leo mulai berkurang. Akhirnya Leo memberanikan diri untuk bercerita.
__ADS_1
“Begini Ma...” ucap Leo terhenti.
Bu Rini yang merasa penasaran karena Leo tidak melanjutkan ucapannya langsung berkata lagi.
“Kamu jangan buat mama penasaran deh... Cerita aja Leo, mama pasti dengar.”
Bu Rini berpikiran kalau ada sesuatu yang akan diminta Leo makanya dia bersikap seperti itu. Karena diperhatikannya Leo seperti ragu untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Pasti kamu menginginkan mobil yang sudah dijanjikan papa kamu kan?” tanya bu Rini sambil tersenyum.
Karena sebelumnya papanya Leo sudah berjanji akan membelikan Leo mobil kalau dia mau kuliah di Medan.
“Nggak Ma...” ucap Leo sambil menggelengkan kepalanya.
Bu Rini merasa penasaran. Kemudian dia bertanya lagi.
“Lalu tentang apa?”
“Tapi maaf sebelumnya ya Ma,” ucap Leo.
Bu Rini sudah tidak sabar menunggu perkataan putranya. Tapi dia berusaha untuk tetap sabar sampai Leo cerita.
“Sebenarnya Leo telah melakukan dosa Ma,” ucap Leo membuat bu Rini semakin penasaran.
“Ma, Leo telah menghamili Jihan...” ucap Leo pelan.
Bu Rini seperti disambar petir di siang bolong mendengar pengakuan Leo. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya sehingga dia bertanya.
“Apa Leo?” jerit bu Rini.
“Maaf Ma karena Leo telah membuat Jihan hamil...”
Bu Rini yang merasa terkejut dan emosi langsung mengepalkan tangannya.
Dengan tangan gemetaran dia langsung menampar putranya sekuat tenaga sambil menjerit histeris.
“Kamu telah membuat malu keluarga Leo...”
Leo hanya menundukkan kepalanya.
Sedikit pun dia tidak berani menatap wajah mamanya. Perasaannya sangat sedih melihat hati mamanya hancur.
Leo yang merasa berdosa bukan hanya saja pada Jihan tetapi juga pada mamanya.
“Maafkan Leo, Ma...” ucap Leo sambil menangis.
__ADS_1
Tampak jelas mamanya seperti terkejut dengan wajah yang begitu pucat. Tangan bu Rini gemetaran dan bibirnya bergetar.
Ingin mengucapkan sepatah kata pun tidak sanggup lagi. Tiba-tiba bu Rini merasakan semuanya tampak gelap dan badannya terasa lemas. Dalam hitungan detik bu Rini langsung pingsan.
“Maafkan Leo Ma.”
Leo langsung memeluk mamanya sambil menangis. Dia merasa sangat berdosa pada mamanya. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan saat ini. Menghadapi mamanya yang tidak sadarkan diri Leo langsung panik. Berulang kali ditepuk pipi mamanya supaya mamanya sadar tapi mamanya tak kunjung sadar juga. Akhirnya Leo memanggil bi Ijah yang merupakan pembantunya.
“Bibi....” panggil Leo panik.
Bi Ijah yang sedang di dapur langsung setengah berlari menuju ke ruang tengah. Sampai di ruang tengah terlihat majikannya sedang tidak sadarkan diri.
“Mama kenapa Leo?” tanya bi Ijah panik.
“Mama tiba-tiba pingsan Bi,” jelas Leo bingung.
“Kenapa bisa pingsan?” tanya bi Ijah lagi.
Leo tidak menjawab pertanyaan bi Ijah. Dia masih bingung harus bagaimana menghadapi mamanya yang sedang tidak sadarkan diri. Bi Ijah langsuung menepuk-nepuk pipi majikannya sambil berkata.
“Bu... Bu, bangun...” ucap bi Ijah.
Leo yang sedang memangku mamanya pun ikut memanggil mamanya dengan harapan mamanya segera sadar.
“Jadi gimana ini Bi, apa kita bawa aja ke rumah sakit?” tanya Leo bingung.
“Hubungi papa dulu Leo,” ucap bi Ijah.
Saat Leo akan meraih ponselnya yang ada di saku kemejanya tiba-tiba bu Rini membuka matanya perlahan membuat Leo kembali meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di dekatnya.
“Ma... Ma udah sadar?” ucap Leo sambil mencium mamanya.
“Ibu kenapa?” tanya bi Ijah heran.
Bu Rini yang masih sangat lemas hanya bisa diam saja. Leo langsung mengangkat tubuh mamanya ke atas sofa. Kemudian dia berulang kali mengelus kepala mamanya. Ada perasaan menyesal yang cukup dalam di wajah Leo.
Bu Rini walau pun sudah sadar tetapi dia diam saja. Sedangkan bi Ijah duduk di dekatnya sambil memijat-mijat kakinya.
“Apanya yang sakit Bu, biar saya kusuk ya,” tawar bi Ijah.
“Nggak usah Bi. Badan saya nggak ada yang sakit kok Bi,” jawab bu Rini.
“Jadi apanya yang sakit Bu?” tanya bi Ijah lagi.
“Hati saya yang sakit Bi,” jawab bu Rini membuat Leo hanya terdiam.
__ADS_1