
Setelah diam beberapa saat, pak Rinto mulai berbicara lagi.
“Leo, kamu harus bertanggung jawab dalam masalah ini,” ucap pak Rinto pada putranya.
“Leo memang mau bertanggung jawab Pa, tapi sekarang yang jadi masalah antara Leo dan Jihan beda keyakinan. Jadi sekarang gimana lah solusi yang terbaik buat Leo,” ucap bu Rini.
“Leo harus bertanggung jawab atas anaknya. Tapi kalau untuk menikahi wanita itu kita tidak bisa memaksakan kehendak kita.
Syukurnya kalau wanita itu mau mengikuti keyakinan Leo. Tapi kalau wanita itu tetap mempertahankan keyakinannya, ya kita sebagai orang tua tidak bisa memaksakan kehendaknya.”
“Jadi artinya Leo tidak bisa menikahinya?” tanya bu Rini lagi.
“Leo hanya bisa mengakui kalau itu anaknya tetapi Leo tidak bisa memiliki hak sepenuhnya atas anak itu. Jadi biaya hidup anak itu harus ditanggung Leo, mulai bayi itu lahir sampai nantinya dia besar.
Leo-lah yang akan menanggung semua biaya hidupnya.”
Mendengar penjelasan suaminya bu Rini merasa kurang puas.
“Nggak bisa begitu donk Pa. Anak itu kan darah daging Leo, jadi kita juga berhak atas anak itu.”
“Ya memang kita berhak hanya sebatas mengakuinya saja kalau itu cucu kita. Tapi kita tidak punya hak untuk mengajaknya tinggal bersama kita. Di Indonesia ini tidak ada yang namanya kawin sipil seperti dulu, jadi Leo dan wanita itu tidak bisa menikah karena perbedaan keyakinan.
Kalau pun mereka harus menikah ya salah satunya harus ada yang mengalah. Kan nggak mungkin Leo berpindah keyakinan. Begitu juga dengan wanita itu. Kita tidak bisa memaksakan wanita itu mengikuti kehendak kita Ma.”
“Mama nggak setuju Pa. Mama mau anak Leo ikut kita karena dia adalah darah daging kita dan penerus Leo nantinya.”
“Mama nggak bisa seperti itu, semuanya kita serahkan pada wanita itu. Kalau dia mau mengikuti keyakinan Leo ya kita nikahkan. Tapi kalau dia tidak mau, ya kita tidak bisa memaksakan.
Kita hanya bisa membiayai kehidupan cucu kita nantinya sampai nanti dia dewasa.”
“Enak kalilah kalau seperti itu. Kita sudah habis biaya untuk membesarkan anak itu, sementara kita tidak bisa memilikinya.”
__ADS_1
“Mama jangan salah. Kalau kita nanti selalu berhubungan dengan anak Leo, pasti cucu kita akan sayang sama kita walaupun dia tinggal dengan ibunya.
Yang penting kita jangan pernah memisahkan antara Leo dengan anaknya. Kalau setiap bulannya nanti Leo selalu membiayai anaknya, yakinlah anak itu pasti sayang sama kita. Memiliki itu kan bukan harus tinggal satu rumah.
Walaupun nantinya dia tinggal dengan ibunya tapi kita juga punya hak atas anak itu. Yang penting kita selalu mengunjunginya karena hubungan darah sampai kapan pun tidak akan putus.”
Mendengar penjelasan suaminya, bu Rini hanya diam saja. Apa yang dikatakan suaminya ternyata memang benar bahwa hubungan darah tidak akan pernah putus sampai kapan pun.
Apalagi kalau selalu bertemu maka hubungannya akan semakin dekat. Tapi bu Rini sangat berharap kalau Leo dan Jihan bisa menikah nantinya dengan catatan Jihan mau mengikuti keyakinan Leo.
“Sekarang kamu sudah tau kan apa konsekuensinya dari perbuatan kamu?” ucap pak Rinto pada Leo.
“Sudah Pa,” jawab Leo sambil menganggukkan kepalanya.
“Jadi dalam waktu dekat ini kita harus pergi ke rumah wanita itu,” pinta pak Rinto.
“Tapi gimana dengan kuliah Leo, Pa?”
“Tapi kalau nanti Leo bisa menikahi wanita itu, apa dia masih bisa kuliah sementara dia kan harus meneruskan usaha Papa.”
“Kalau sudah menikah kan masih bisa kuliah jadi Mama jangan khawatir tentang itu.”
“Memang sih iya Pa, tapi mama nggak yakin kalau Leo bisa kuliah setelah berkeluarga nanti. Saat SMA aja dia sering buat masalah.” Bu Rini tidak yakin dengan Leo.
“Papa yakin bertambah dewasanya seseorang pasti akan berubah. Bukankah begitu Leo? Kamu bisa berubah kan untuk lebih baik lagi?” tanya pak Rinto.
“Iya Pa, Leo janji nggak akan mengecewakan Mama dan Papa lagi. Leo juga sangat menyesal Pa, Ma,” ucap Leo dengan nada sedih.
***
Seperti biasa Jihan sudah bangun dari tidurnya. Walau pun dia sudah tidak sekolah lagi tetapi dia sudah terbiasa bangun pagi. Begitu bangun dia langsung membereskan tempat tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi.
__ADS_1
Sampai di kamar mandi Jihan langsung mual dan muntah. Bu Dwi yang sedang memasak sarapan pagi mendengar suara Jihan sedang muntah.
Letak kamar mandi dengan dapur bersebelahan sehingga suara dari kamar mandi terdengar sampai ke dapur.
Bu Dwi kemudian menghentikan aktivitasnya dan berpikir beberapa saat. ‘Kenapa sudah seminggu lebih Jihan selalu muntah padahal dia sudah tidak masuk angin lagi.
Apa Jihan sedang menderita suatu penyakit. Lebih baik aku secepatnya memeriksakan Jihan ke dokter dari pada nanti penyakitnya semakin berbahaya.
Atau jangan-jangan Jihan sedang hamil. Tapi mana mungkin Jihan hamil karena aku tau sendiri kalau dia tidak punya kekasih. Ah, aku nggak boleh berpikir terlalu jauh dalam masalah ini,’ batin bu Dwi bingung.
Tiba-tiba bu Dwi merasa takut kalau dugaannya benar bahwa Jihan hamil. ‘Aku harus menanyakan hal ini pada Jihan.
Tapi nantilah setelah ayahnya berangkat kerja,’ batin bu Dwi.
Sengaja bu Dwi ingin menanyakan langsung pada Jihan supaya dia dapat memastikan apakah Jihan hamil atau tidak. Walaupun bu Dwi tidak yakin kalau Jihan sedang hamil apalagi setau bu Dwi bahwa Jihan belum mempunyai kekasih.
Tapi melihat tanda-tanda dari Jihan, bu Dwi yakin kalau Jihan sedang hamil.
Bu Dwi kemudian tidak fokus dalam membuat sarapan pagi sehingga telur dadar yang dimasaknya hangus. Setelah mencium aroma telur dadar hangus, barulah bu Dwi tersadar kalau dia sejak tadi sedang melamun. Buru-buru bu Dwi mengangkat telur dadar dari wajan dan meletakkannya di mangkuk kaca.
Setelah itu bu Dwi membereskan meja makan. Semua masakkan yang dimasaknya pagi ini diletakkan di meja makan sambil sesekali memikirkan tentang Jihan.
Rasa khawatirnya pada putri satu-satunya sangat besar. Walau pun tidak sepenuhnya bu Dwi yakin kalau Jihan telah hamil tapi hal ini mengganggu pikirannya.
Bahkan saat masak sarapan pagi dia tidak fokus membuat telur dadar yang dimasaknya hangus.
Walaupun telur dadarnya hangus tapi masih layak untuk dimakan.
Bu Dwi juga menggoreng ikan asin untuk mengantisipasi kalau suaminya tidak mau makan telur dadar yang hangus itu.
Setelah hidangan di meja selesai disajikan, bu Dwi kemudian memanggil suaminya yang masih berada di kamar supaya segera sarapan bersama. Begitu juga dengan Jihan yang dipanggil ibunya untuk sarapan pagi bersama.
__ADS_1