
Sejak Leo meninggal, Rehan sering menghubungi Jihan dan menanyakan tentang keadaannya.
Mereka selalu berkomunikasi melalui handphone. Setiap Rehan menanyakan kabar tentang Jihan dan Jihan selalu merespon. Tapi kalau Rehan ingin menemuinya Jihan selalu menolak.
Dia hanya mau bertemu kalau nanti sudah melahirkan karena dia tidak mau pertemuannya dengan Rehan akan menjadi fitnah, itulah yang selalu diucapkan Jihan pada Rehan.
[“Kenapa kamu tidak mau mas temui Jihan?”] tanya Rehan dalam teleponnya.
[“Nanti aja Mas kalau Jihan sudah melahirkan. Jihan merasa nggak enak bertemu dengan mas dalam keadaan hamil seperti ini.”]
Karena Jihan selalu berkeras tidak mau ditemui Rehan, akhirnya Rehan yang sudah rindu dengan Jihan pergi ke rumah Jihan.
***
Begitu Rehan sampai di depan rumah Jihan, dia disambut baik oleh kedua orang tua Jihan dengan baik. Tapi berbeda dengan sambutan Jihan. Jihan tampak marah dan kesal melihat kedatangan Rehan.
“Ayo masuk mas Rehan,” ucap bu Dwi mempersilakan Rehan masuk ke dalam.
“Panggil aja saya Rehan Bu,” pinta Rehan sambil tersenyum pada bu Dwi.
Rehan merasa tidak enak dengan panggilan mas. Kemudian Rehan pun masuk ke dalam rumah Jihan.
“Ayo silakan duduk Rehan,” kata pak Herman.
“Jihan, kenapa berdiri aja. Temeni Rehan duduk,” ucap ibunya Jihan.
Akhirnya Jihan pun duduk di dekat Rehan dengan wajah cemberut.
Kemudian Jihan mengirim pesan wa pada Rehan yang duduk di dekatnya.
{Mas ngapain kemari?} Isi pesan Jihan pada Rehan.
Mendengar getaran ponsel di saku kemejanya, Rehan langsung meraih ponselnya dan membuka isi pesan itu. Terlihat pesan masuk dari Jihan, Rehan sempat melirik ke arah Jihan. Dia merasa bingung karena orang yang mengirim pesan itu ada di dekatnya.
Sambil tersenyum Rehan membaca pesan itu. Kemudian dia membalas isi pesan itu.
{Mas udah kangen berat sama kamu.}
{Jihan nggak suka Mas kemari.}
{Terserah..... Tujuan mas kemari ingin melamar kamu hari ini juga.}
{Pokoknya Jihan gak mau....} jawab Jihan dalam isi pesannya.
{“Kamu harus mau.}
Membaca pesan terakhir dari Rehan, Jihan hanya terdiam dan malas untuk menanggapinya. Dia sejak tadi hanya menundukkan kepala.
Bu Dwi yang memperhatikan sikap Jihan sejak tadi merasa heran.
__ADS_1
Selama ini bu Dwi tidak mengetahui kedekatan hubungan Jihan dan Rehan.
Dia hanya mengetahui kalau Rehan dan keluarganya telah menolong Jihan. Untuk hubungan yang lainnya bu Dwi mau pun pak Herman tidak pernah mengetahuinya karena Jihan tidak pernah menceritakannya.
“Gimana kabar mama Rehan, sehat kan?” tanya bu Dwi.
“Alhamdulillah mama sehat Bu. Rencananya tadi mama mau ikut kemari Bu, tapi tiba-tiba Shinta sakit, makanya mama nggak jadi ikut” jelas Rehan.
Jihan langsung menoleh ke arah Rehan.
“Shinta sakit apa Mas?” tanya Jihan penasaran.
“Biasalah tensinya tiba-tiba turun dan tadi Shinta sempat lemas makanya mama nggak berani meninggalkannya sendiri.”
“Shinta adiknya Rehan ya?” tanya bu Dwi.
“Shinta adik sepupu Rehan, Bu. Baru sebulan ini Shinta tinggal di rumah karena ibunya baru saja meninggal dunia. Dia juga sudah tidak punya ayah.”
“Oh gitu, kasihan kali ya,” ucap bu Dwi prihatin.
“Iya Bu. Sejak ibunya meninggal Shinta dibawa mama kemari dan sekarang sekolah di sini.”
“Syukurlah masih ada keluarga yang perduli dengan Shinta,” ucap bu Dwi lagi.
Setelah diam beberapa saat akhirnya Rehan memulai pembicaraan.
Sebelumnya dia sempat melirik ke arah Jihan yang duduk di dekatnya. Tampak Jihan hanya menundukkan kepalanya.
Bu Dwi dan pak Herman langsung menatap Rehan.
“Sebenarnya maksud kedatangan saya kemari ingin melamar Jihan.”
Mendengar ucapan Rehan, Jihan yang sejak tadi menundukkan kepala langsung menatap Rehan seperti tidak percaya.
“Mas Rehan apa-apaan sih...” ucap Jihan dengan nada pelan.
Sedangkan bu Dwi dan pak Herman saling pandang-pandangan.
Keduanya merasa bingung sekaligus terkejut dengan pernyataan Rehan yang sangat tiba-tiba.
“Maksud Rehan apa ya, ibu kurang paham,” ucap bu Dwi bingung.
Sambil tersenyum Rehan kembali menjelaskan pada kedua orang tua Jihan.
“Sebenarnya sejak Jihan tinggal di rumah, Rehan sudah pernah mengatakan pada Jihan bahwa Rehan bersedia menikahinya seandainya Jihan tidak jadi menikah dengan Leo. Dan sekarang karena Leo sudah meninggal, Rehan memberanikan diri untuk melamar Jihan menjadi istri Reha. Rehan sebenarnya sudah lama menyukai Jihan, Bu.”
Bu Dwi dan pak Herman langsung terperanjat karena terkejut.
Keduanya tidak menyangka kalau Rehan ternyata menyukai putrinya bahkan sudah pernah mengatakannya pada Jihan sebelumnya.
__ADS_1
“Maaf Rehan, ibu jadi bingung karena Jihan tidak pernah cerita tentang masalah ini pada ibu. Jihan, apa benar yang dikatakan Rehan barusan?”
Jihan hanya menganggukkan kepalanya.
“Maaf Bu, apa yang dikatakan mas Rehan benar. Hanya saja Jihan masih ragu. Jihan tidak yakin kalau nantinya mas Rehan bisa menyayangi anak Leo,” jelas Jihan.
Bu Dwi langsung tersenyum mendengarkan penjelasan putrinya.
“Tapi Rehan, saat ini Jihan kan sedang hamil. Kan nggak boleh menikah kalau dalam keadaan hamil, apalagi Jihan hamil anak orang lain,” jelas pak Herman.
“Saya tau Pak. Justru itu saya ingin menikahi Jihan segera karena untuk menutupi malu. Nanti setelah Jihan melahirkan, kami baru menikah lagi secara sah. Jadi saat ini pernikahan ini hanya untuk menutupi malu aja Pak, supaya Jihan tidak direndahkan di masyarakat.”
Bu Dwi yang mendengarkan perkataan Rehan merasa tersanjung. Tanpa terasa air matanya pun menetes.
“Terima kasih Rehan. Sebenarnya kami merasa malu dengan kehamilan Jihan. Apalagi saat ini Leo sudah meninggal.”
“Makanya Bu, saya nggak mau Jihan nanti direndahkan di masyarakat karena hamil tanpa seorang ayah. Jadi saya ingin menutupi aib Jihan.
Untuk itu saat ingin menikahi Jihan. Setelah Jihan melahirkan, kami baru menikah lagi supaya sah.”
Akhirnya keinginan Rehan dikabulkan oleh kedua orang tua Jihan. Tampak kedua orang tua Jihan sangat bahagia dengan keinginan Rehan yang akan segera menikahi anaknya
***.
Tiga hari kemudian pernikahan pun digelar secara sederhana. Hanya keluarga dekat saja yang diundang oleh bu Dwi dan pak Herman. Meskipun pernikahan itu sangat sederhana tapi tidak mengurangi rasa kebahagiaan pada kedua mempelai. Tampak Rehan dan Jihan sangat bahagia.
Setelah proses ijab kabul selesai kedua mempelai langsung masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Family dekat Jihan yang menginap di rumah Jihan tidak mengetahui alasan pernikahan Jihan dan Rehan yang begitu buru-buru. Bahkan mereka juga tidak mengetahui kalau Jihan sedang mengandung anak Leo karena semua ini sengaja dirahasiakan oleh kedua orang tua Jihan.
Sebenarnya bu Dwi sudah mempersiapkan kamar yang berbeda buat Rehan dan Jihan. Sengaja Rehan dan Jihan dipisahkan kamarnya. Hanya saja karena family Jihan masih di rumah Jihan, akhirnya Jihan dan Rehan pun masuk ke kamar yang sama.
Sampai di dalam kamar keduanya masih tampak canggung apalagi keduanya sudah diingatkan belum boleh melakukan hubungan suami istri karena pernikahan ini hanya untuk menutupi malu keluarga Jihan.
Rehan langsung duduk di samping Jihan yang sedang duduk di tepi ranjang. Tapi Jihan langsung menggeser duduknya karena dia nggak mau duduk berdekatan karena takut tergoda. Melihat sikap Jihan, Rehan hanya tersenyum.
Saat Rehan menggenggam tangan Jihan, Jihan sempat berbisik pada Rehan.
“Mas, jangan lakukan...”
Rehan hanya tersenyum saja mendengar ucapan Jihan yang seperti takut.
“Mas hanya ingin mencium kamu saja, bolehkan?”
Jihan hanya terdiam dan kemudian Rehar mencium lembut kening dan pipi Jihan.
“Kamu jangan khawatir karena mas nggak akan melanggar janji kita. Nanti setelah kita menikah untuk yang kedua kalinya baru mas akan menjalankan kewajiban mas pada kamu sebagai seorang suami,” bisik Rehan di telinga Jihan.
Mendengar ucapan Rehan hati Jihan langsung tenang. Dia sangat bersyukur karena telah mendapatkan suaminya yang begitu sayang padanya. Perhatian Rehan selama ini cukup membuat Jihan yakin dan percaya kalau nantinya Rehan akan benar-benar menyayangi dirinya dan juga anak yang ada di dalam kandungannya.
...End
__ADS_1
...