
Rehan akhirnya mengizinkan Jihan untuk tempat tinggal di rumahnya selama sebulan untuk menenangkan pikirannya.
Walaupun sebenarnya Rehan merasa berat karena memikirkan perasaan orang tua Jihan.
Bagaimana pun orang tua Jihan pasti sangat khawatir karena tidak mengetahui keberadaan anaknya.
‘Kalau memang Jihan bersikeras untuk tetap tinggal di rumah ini, aku akan memberitau pada kedua orang tua Jihan supaya kedua orang tua Jihan tidak merasa khawatir. Sebaiknya pulang dari kantor besok aku akan mencari alamat rumah Jihan,’ batin Rehan.
***
Saat jam kantor berakhir, Rehan langsung mendekati pak Saidi yang merupakan teman dekatnya. Sebelumnya Rehan sudah cerita banyak pada pak Saidi tentang Jihan.
Melihat pak Saidi sedang membereskan meja kerjanya Rehan langsung berjalan mendekatinya.
“Pak, pulang kantor ini bisa temani saya ke rumah orang tua Jihan?” tanya Rehan.
Pak Saidi langsung menoleh ke arah Rehan dengan perasaan heran.
“Mas Rehan mau melamar Jihan?” ledek pak Saidi.
Sambil tersenyum Rehan pun berkata. “Pak Saidi ada-ada aja...”
“Memangnya kenapa kalau mas Rehan mau melamar Jihan, kan nggak salah?”
“Ya salah donk Pak...” jawab Rehan.
“Salah gimana... Jihan belum menikah jadi wajar donk kalau dia dilamar orang,” jelas pak Saidi lagi.
“Tapi Jihan kan sedang mengandung anak orang lainPak.”
“Oh iya, saya lupa,” ucap pak Saidi sambil duduk di kursi.
“Sekarang mas Rehan duduk dulu dan jelaskan pada saya, apa tujuan mas Rehan mengajak saya ke rumah orang ketua Jihan?” tanya pak Saidi penasaran.
Rehan langsung mengambil posisi duduk di depan pak Saidi. Kebetulan semua pegawai sudah pada berpulangan, tinggallah Rehan dan pak Saidi yang masih ada di ruang kerja mereka.
“Begini Pak. Saya dan mama ingin membawa Jihan pulang ke rumahnya, tapi Jihan menolak dan dia minta waktu sebulan untuk tetap tinggal di rumah saya karena dia ingin menenangkan pikirannya dulu. Setelah sebulan tinggal di rumah saya, barulah dia mau diantarkan pulang ke rumah orang tuanya,” jelas Rehan.
__ADS_1
“Apa Jihan takut dengan ayahnya karena dia telah diusir ayahnya?” tanya pak Saidi heran.
“Bukan Pak. Tapi masalah yang dihadapi dia saat ini membuat dia seperti menyesal dan merasa bersalah pada kedua orang tuanya. Dia sangat kesal dengan lelaki yang telah memperkosanya sehingga dia banyak diam dan melamun. Bahkan dia sering menangis. Tapi sejak mama sering mengajaknya ngobrol, perlahan sikapnya sudah mulai berubah. Sekarang dia sudah mau berbicara saat kita tanya. Sebelumnya dia seperti orang depresi yang menanggung beban berat.”
“Oh seperti itu. Kasihan juga ya nasib si Jihan. Sebaiknya Jihan harus dibawa ke psikolog juga supaya dia tidak berlarut-larut sedih menghadapi masalah ini.”
“Memang ada rencana mama untuk membawa Jihan ke psikolog supaya Jihan bisa percaya diri lagi.”
“Baguslah kalau seperti itu. Saya hanya ngasi saran aja.”
“Iya Pak, terima kasih atas sarannya. Oh ya Pak, saya bermaksud untuk mengajak Bapak pergi ke rumah orang tua Jihan tapi ini tanpa sepengetahuan Jihan.”
“Kenapa begitu?” tanya pak Saidi heran.
“Karena Jihan belum mau dibawa pulang ke rumahnya makanya saya mau pergi ke rumah orang tuanya dan memberitau kalau Jihan berada di rumah saya supaya kedua orang tuanya tidak khawatir.”
“Gimana kalau nanti orang tuanya memaksa supaya Jihan pulang ke rumah Mas?”
“Makanya saya mengajak Bapak. Bapak pasti bisa meyakinkan kedua orang tuanya.”
“Saya mana pintar bicara mas Rehan.”
Akhirnya pak Saidi menurut saja meskipun dia tidak yakin bisa meyakinkan kedua orang tua Jihan.
“Jihan itu cantik apa nggak Mas?” tanya pak Saidi sambil menggoda Rehan.
Mendengar pertanyaan pak Saidi, Rehan bingung menjawabnya.
“Masalah cantik itu kan relatif Pak...”
“Iya memang. Maksud saya bagi mas Rehan, Jihan itu cantik apa enggak?”
“Ya gimana ya...” jawab Rehan terputus.
“Kalau cantik, katakan cantik. Kalau nggak, katakan nggak,” ledek pak Saidi lagi.
“Menurut saya, Jihan cantik Pak.”
__ADS_1
Pak Saidi langsung tersenyum puas mendengar pengakuan Rehan. Sebenarnya pak Saidi ingin menjodohkan Rehan dengan Jihan.
“Kalau bagi mas Rehan Jihan termasuk cantik, gimana kalau nanti setelah Jihan melahirkan langsung mas lamar dan jadikan istri. Kan sayang kalau nanti Jihan sampai berpindah keyakinan mengikuti pria itu,” jelas pak Saidi.
“Jihan pasti nggak mau berpindah keyakinan Pak karena yang saya tau Jihan rajin sholat.” Rehan yakin kalau Jihan kuat imannya karena Rehan selalu melihat Jihan rajin sholat.
“Rajin sholat tidak menjamin seseorang akan kuat imannya Mas,” ucap pak Saidi.
“Mudah-mudahan saja tidak seperti yang Bapak khawatirkan ya.”
“Saya berharap juga tidak Mas. Makanya mas Rehan harus menikahinya nanti.”
Rehan yang mendengar perkataan pak Saidi hanya bisa tersenyum.
“Masalah itu nanti-nanti aja lah Pak. Saya belum mikir sampai ke sana Pak. Saat ini yang terpenting, Jihan sehat dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.”
“Yakinlah Mas pasti Jihan akan lebih memilih mas Rehan dari pada ayah dari bayi yang ada di dalam kandungannya. Mas juga pasti bersyukur nantinya, beli satu gratis satu,” ucap pak Saidi sambil menggoda Rehan.
Mendengar ucapan pak Saidi, Rehan langsung mengerutkan keningnya sambil berpikir.
“Maksud Bapak apa, beli satu gratis satu?” tanya Rehan bingung.
Kemudian pak Saidi pun tertawa lepas sambil berkata. “Kalau mas Rehan menikahi Jihan, pasti bukan hanya mendapatkan ibunya saja, tapi juga mendapatkan anaknya. Bukankah mas Rehan ingin sekali mempunyai anak.”
“Bapak ini bisa saja,” ucap Rehan sambil tersenyum.
“Kalau anak dari bayi kita yang mengurus, pasti seperti anak kandung kita sendiri Mas. Jadi kalau Mas menikahi Jihan setelah melahirkan nanti, pasti Mas akan menyayangi anaknya seperti anak kandung Mas sendiri.”
“Pak Saidi terlalu jauh sih pemikirannya.”
“Ya memang harus seperti itu Mas. Tapi itu hanya sekedar saran aja loh. Saya harap Mas jangan tersinggung dengan ucapan saya barusan. Saya hanya bercanda, tapi kalau Mas menerima saran saya ya lebih baik lagi.”
Rehan hanya tersenyum saja ketika mendengar perkataan pak Saidi. ‘Tunggu aja Pak. Saya memang berniat untuk mempersunting Jihan kalau nantinya pria yang menghamilinya tidak bertanggung jawab,’ batin Rehan.
Tidak lama kemudian setelah pak Saidi membereskan meja kerjanya keduanya langsung keluar dari ruangan itu dan berjalan melewati koridor kantor yang cukup panjang. Rehan banyak diam karena ucapan pak Saidi barusan masih terngiang dalam pikirannya. Melihat Rehan banyak diam pak Saidi merasa heran.
“Mas Rehan kenapa, kok diam aja. Pasti sedang memikirkan saran saya kan?” tanya pak Saidi percaya diri.
__ADS_1
Mendengar ucapan pak Saidi, Rehan langsung tersipu malu.
“Pak Saidi ini ada-ada aja sih. Saya sedang memikirkan alamat rumah orang Jihan,” jawab Rehan berbohong.