Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Pulang


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba karena hari ini bu Renggo rencananya akan pulang dari Pekanbaru bersama Siti dan Shinta. Shinta yang belum sehat betul akan dirawat bu Renggo dan sekolahnya juga akan dipindahkan kemari.


“Jam berapa nanti ibu pulang Mas?” tanya Jihan saat sarapan pagi.


“Rencananya terbang dengan pesawat pagi dan mungkin siang sudah sampai sini.”


“Jadi Shinta ikut kemari Mas?” tanya Jihan.


“Jadi dan rencananya besok mas yang akan mengurus surat pindahnya ke sekolah yang ada di sini,” jelas Rehan.


“Oh ya Jihan, nanti tak usah masak ya. Pesan go food aja.”


“Nggak apa-apa Mas, Jihan yang masak lagian kalau masak juga dibantu bi Ijah kok.”


“Memang iya, tapi mas takut kamu nanti kecapean.”


“Setiap hari juga Jihan kan masak dan nggak ada masalah.”


“Selama ini yang kamu masak kan sedikit hanya untuk makan kita berdua. Tapi nanti kalau mama sudah pulang yang dimasak kan banyak. Mas nggak mau lihat kamu sakit lagi loh.”


“Kan ini untuk terakhir kalinya Jihan masak Mas. Untuk besok kan udah ada Siti yang masak.” Jihan tetap berkeras ingin masak.


“Ya udahlah terserah kamu aja, yang penting kamu jangan capek ya.” Rehan langsung mengelus kepala Jihan.


Kelihatan sekali kalau Rehan perhatian dan sayang pada Jihan. Mendapat perlakuan yang begitu baik dan lembut dari Rehan, Jihan merasa sedih karena sebentar lagi dia tidak akan mendapatkan belaian yang begitu lembut dari Rehan.


Jihan tidak dapat membayangkan kalau nanti sudah pulang ke rumahnya dia tidak akan mendapatkan perhatian dari Rehan lagi.


“Ya udah, sekarang mas berangkat kerja dulu ya.” Ucapan Rehan membuat Jihan gelagapan karena sejak tadi dia banyak melamun.


“Eh, iya Mas,” jawab Jihan sambil tersenyum.


Melihat Jihan yang gelagapan Rehan langsung tersenyum.


“Masih pagi sudah menghayal, menghayal siapa sih?”


Jihan hanya tersenyum saja. Melihat senyuman Jihan, Rehan langsung mendekatinya dan berkata lagi. “Kamu hati-hati di rumah ya?” Kembali Rehan mencium kening dan pipi Jihan membuat Jihan merasa malu sendiri.


Sejak bu Renggo dan Siti tidak di rumah, setiap akan berangkat kerja Rehan selalu mencium kening dan pipi Jihan layaknya sepasang suami istri.


Sebenarnya Jihan merasa malu sendiri karena bukan istri Rehan, tapi Rehan memperlakukannya seperti sudah menjadi istrinya yang sah.

__ADS_1


Walaupun Jihan merasa malu tapi dia tidak mampu untuk menolaknya karena dia sudah mulai mencintai Rehan. Benih-benih cinta yang tumbuh di hatinya semakin hari semakin tumbuh subur membuat Jihan tidak berdaya ketika berada di dekat Rehan. Hanya saja untuk melakukan hal yang lebih dalam lagi Jihan masih bisa mengontrol nafsunya.


Sehingga walaupun mereka pernah tidur di kamar yang sama tapi tidak pernah terjadi yang namanya hubungan suami istri. Jihan masih tetap menjaga norma-norma susila ketika berdekatan dengan Rehan.


Dampak dari pemerkosaan membuat Jihan seperti trauma dan selalu berhati-hati kalau berdekatan dengan Rehan.


Begitu Rehan berangkat ke kantor Jihan langsung masuk ke dalam kamarnya.


***


Sebelum tiba waktu dzuhur mamanya Rehan sampai di rumah bersama Siti dan Shinta. Pak Maman sibuk mengeluarkan koper dari bagasi mobil yang dibawa dari Pekanbaru.


Karena Shinta sekarang pindah ke rumah Rehan sehingga banyak barang bawaannya. Ada tiga koper besar Shinta yang dibawa dari Pekanbaru.


Setelah koper-koper itu diturunkan di teras depan oleh pak Maman, Siti, Shinta dan juga bi Ijah membawanya masuk ke dalam. Sedangkan Jihan saat akan membantu memasukkan koper itu ke dalam rumah langsung dilarang oleh bu Renggo. Bu Renggo yang melihat Jihan akan mendorong bag dorong langsung berlari mendekati Jihan.


“Jihan, biar Siti dan Shinta aja yang memasukkan koper itu. Kamu duduk aja,” pinta bu Renggo.


Siti yang melihat bu Renggo terlalu mengkhawatirkannya langsung tersenyum sinis. Kelihatan sekali kalau Siti tidak menyukai Jihan.


“Nggak apa-apa Bu, Jihan masih sanggup kok,” jawab Jihan.


“Kopernya juga nggak terlalu berat Tante, lagian koper ini hanya didorong tidak diangkat,” jelas Shinta.


Mendengar perkataan bu Renggo, Shinta langsung minta maaf.


“Maaf ya mbak Jihan, Shinta nggak tau kalau Mbak sedang hamil,” ucap Shinta merasa bersalah.


“Makanya tante larang dia membantu kalian membawa koper-koper itu,” jelas bu Renggo.


“Mbak Jihan sedang hamil, hamil berapa bulan ya Mbak?” tanya Shinta lagi.


Siti yang tidak suka pada Jihan langsung nyeletuk.


“Hamilnya baru dua bulan dan karena diperkosa,” ucap Siti sambil mendorong kopernya.


Mendengar perkataan Siti yang begitu pedas bu Renggo langsung terpancing emosi.


“Siti, jaga ucapan kamu...” ucap bu Renggo marah.


Siti yang sudah masuk ke dalam kembali menoleh ke belakang.

__ADS_1


“Kan memang benar Bu, kalau Jihan hamil karena diperkosa,” ucap Siti terlalu berani.


“Tapi kamu nggak berhak untuk menjawab seperti itu,” ucap bu Renggo lagi.


“Memangnya kenapa Bu kalau saya jawab seperti itu,” tantang Siti.


“Itu namanya membuka aib orang.”


Siti yang tidak mau kalah langsung menjawab ucapan bu Renggo lagi.


“Saya ngomong apa adanya Bu.”


Ucapan Siti menambah marah bu Renggo.


“Memang yang kamu katakan itu benar, tapi tidak seharusnya kamu katakan karena kejujuran terkadang bisa menyakitkan.” Bu Renggo berusaha melawan ucapan Siti yang tampak tidak suka pada Jihan.


“Saya bukan membuka aib orang Bu. Saya mengatakan yang sebenarnya.”


Terlihat Shinta dan bi Ijah hanya terdiam mendengarkan perdebatan antara bu Renggo dan pembantunya yang bernama Siti.


“Misalnya aib kamu dibuka meskipun benar, pasti kamu sakit hati.”


“Saya nggak akan sakit hati Bu kalau aib saya dibuka. Ngapain juga saya harus sakit hati.”


“Ya udah, sekarang begini aja Siti. Lebih terhormat kamu atau Jihan?” tanya bu Renggo.


Pertanyaan bu Renggo membuat Siti semakin bingung.


“Maksud Ibu apa?”


Sambil tersenyum bu Renggo melanjutkan ucapannya.


“Siti hamil karena diperkosa sementara kamu hamil karena perbuatanmu sendiri. Dan yang sedihnya lagi, pria yang menghamili kamu tidak mau bertanggung jawab.”


Mendengar perkataan bu Renggo wajah Siti langsung merah padam karena malu. Dia tidak menyadari kalau mempunyai aib yang begitu memalukan dan diketahui oleh bu Renggo.


“Kenapa Ibu mengatakan masalah yang sudah berlalu?” ucap Siti sedikit marah.


“Itu semua karena perkataanmu tadi.


Kamu katakan kalau kamu nggak akan malu kalau aib kamu dibuka. Sekarang begitu saya buka, kenapa kamu marah?” tanya bu Renggo tidak mau kalah.

__ADS_1


“Saya bukannya marah Bu. Tapi itu kan masa lalu saya.”


“Biar kamu sadar Siti, bahwa kamu itu lebih hina dari Jihan. Jihan sebagai korban sedangkan kamu sebagai pelaku karena kamu melakukannya dengan sadar.”


__ADS_2