
Keesokan harinya sengaja Rani dan Jihan menemui Leo. Tapi sebelumnya Rani sudah mengirim pesan pada Leo untuk janjian ketemu.
{Leo, besok kita ketemuan di Cafe Lestari ya. Rani.}
Tidak lama kemudian Leo pun menjawab pesan wa tersebut.
{Ada apa Rani?} tanya Leo heran.
{Ada yang harus kita bicarakan.} jawab Rani.
Leo yang merasa penasaran langsung mengirim pesan lagi.
{Kalau boleh tau, tentang apa ya...}
{Besok aja kita ceritanya, yang penting kamu besok datang sendiri aja. Jangan kamu bawa temen-temen kamu ya.}
Leo merasa heran dengan permintaan Rani yang menginginkan dia datang sendiri.
Tiba-tiba Leo merasa takut karena dia sudah menduga kalau yang akan dibicarakan Rani adalah tentang Jihan.
***
Sambil duduk di tempat tidurnya Leo berpikir beberapa saat. Dia harus mempersiapkan jawabannya ketika besok ditanya tentang masalah Jihan. Keringat dingin mulai mengguyur sekujur tubuhnya karena merasakan takut. Dia kemudian menghidupkan AC yang ada di kamarnya untuk menghilangkan keringat yang sudah bercucuran. Meskipun malam ini tidak terlalu panas tapi baju Leo basah kebas oleh keringat.
‘Pasti ini ada hubungannya dengan Jihan, atau jangan-jangan Jihan hamil. Apa yang harus aku lakukan seandainya Jihan hamil dan meminta pertanggung jawabanku sementara sebentar lagi aku akan ke Jakarta untuk kuliah di sana. Kalau hal ini benar terjadi maka masa depanku akan hancur karena aku harus bertanggung jawab akan kehamilan Jihan. Kehamilan Jihan membuat aku gagal untuk kuliah di Jakarta. Lebih baik aku mengelak saja dan mengatakan kalau aku tidak melakukannya apalagi saat itu Jihan kan sedang pusing tidak sadar diri. Pasti nggak mungkin dia ingat akan kejadian itu. Aku bisa membohonginya dan mengatakan kalau tidak melakukannya. Tapi gimana kalau ada bukti yang memberatkan aku sehingga aku harus mengakuinya,’ batin Leo dalam hati.
Kemudian Leo pun tersenyum puas memikirkan rencana yang akan dilakukan besok kalau sudah ketemu dengan Rani. ‘Kalau memang Jihan minta pertanggung jawaban aku nggak apa-apa. Aku akan bertanggung jawab yang penting Jihan mau masuk Kristen. Kalau dia nggak mau masuk Kristen maka aku tidak akan bertanggung jawab terhadap kehamilannya. Aku akan bisa keluar dari masalah ini,’ batin Leo lagi.
Setelah diam beberapa saat Leo mulai merasa tenang karena rencananya sudah diaturnya matang-matang dari sekarang.
***
Karena kelas dua belas sudah selesai ujian akhir maka mereka sudah tidak datang lagi ke sekolah. Keesokan harinya tepat pukul sebelas siang Leo sudah tiba di Cafe Lestari. Setelah lima menit Leo menunggu, Jihan dan Rani pun tiba di cafe itu. Mereka langsung masuk dan mencari keberadaan Leo.
__ADS_1
Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri Jihan dan Rani menemukan Leo yang sedang duduk sendirian di meja nomor sepuluh. Kebetulan meja nomor sepuluh letaknya di dekat dengan kolam ikan sehingga suasananya tampak indah dan tenang. Dari jauh terlihat Leo sedang duduk sendiri sambil memperhatikan ikan yang ada di kolam itu.
“Itu dia, Jihan. Ayo kita ke sana,” ucap Rani langsung menarik tangan Jihan dan membawanya mendekati Leo.
Melihat kedatangan Jihan dan Rani, Leo sempat terkejut karena dia sedang asik memperhatikan ikan-ikan yang ada di kolam itu.
“Leo...” panggil Rani.
Leo yang terkejut mendengar suara Rani, langsung menoleh ke arah Rani.
“Eh, kalian udah datang,” ucap Leo dan sepertinya tidak berani menatap langsung wajah Jihan.
Dia hanya melihat ke arah Rani lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tampak jelas wajah Leo mulai pucat ketika melihat kedatangan Jihan dan Rani.
Dengan wajah datar Jihan dan Rani mengambil duduk tepat dihadapan Leo. Ketiganya pun diam beberapa saat. Semuanya bermain dalam pikirannya masing-masing. Tampak dari raut wajah Leo dan Jihan keduanya sangat tegang membuat Rani terpancing untuk buka suara.
“Kamu tau Leo apa tujuan kami mengajak kamu ketemuan di sini hari ini?” tanya Rani mulai membuka pembicaraan.
Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia pura-pura tidak tau tujuan Rani dan Jihan mengajaknya ketemuan.
Leo yang merasa bersalah pura-pura terkejut mendengar ucapan Rani barusan.
“Maksud kamu apa Rani?” tanya Leo.
Rani langsung tersenyum supaya suasananya tidak terlalu tegang.
“Kamu jangan tegang seperti ini Leo. Santai aja...”
“Aku nggak tegang. Memangnya ada apa?”
“Baiklah aku akan menceritakan sekarang. Coba kamu ingat-ingat apa yang sudah kamu lakukan pada Jihan sebulan yang lalu saat merayakan pesta ulang tahun Yuni.”
Leo yang sudah tau arah pembicaraan ke sana pura-pura bengong dan tidak mengingatnya. Dia sengaja melakukan hal itu supaya bisa keluar dari masalah ini.
__ADS_1
“Aku dan Jihan sengaja menemui kamu untuk melihat kejujuran kamu. Sekarang kamu berkata aja yang jujur karena bagaimana pun Jihan sudah siap menerima konsekuensinya seandainya kamu tidak bertanggung jawab,” ucap Rani lagi.
Leo hanya diam saja mendengarkan ucapan Rani. Dalam hati kecilnya dia merasa bersalah karena telah merenggut kesucian Jihan.
Karena tidak ada jawaban dari Leo akhirnya Rani melanjutkan ucapannya.
“Baiklah kalau kamu tidak ingat akan kejadian malam itu. Tapi kamu tau akibatnya dari kelakuan kamu saat itu? Sekarang Jihan telah mengandung anak kamu.”
Mendengar ucapan Rani sontak Leo terkejut. Tiba-tiba badannya terasa lemas karena dia tidak dapat membayangkan hal yang paling ditakutkan ternyata benar-benar terjadi.
“Maksud kamu Jihan hamil?” tanya Leo seperti tidak percaya.
“Bisa kamu tanyakan langsung pada Jihan.”
Jihan hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia merasa kesal dan sedih sekaligus marah dengan sikap Leo yang pura-pura tidak tau.
“Kamu sudah ingat dengan kejadian itu kan?” tanya Rani lagi dengan perasaan kesal.
Leo masih tetap diam tidak menjawab pertanyaan Rani membuat Rani semakin kesal. Sedangkan Jihan hanya diam sejak tadi menahan gejolak di dalam hatinya yang begitu kesal dengan sikap Leo.
“Kalau kamu tidak ingat juga dengan kejadian itu, ya udah nggak apa-apa. Tapi kami punya bukti tentang hal itu yang bisa memberatkan kamu seandainya masalah ini kami tuntut,” ucap Rani.
Leo yang merasa takut dengan ancaman Rani akhirnya mulai buka suara.
“Baiklah aku akan mengakuinya. Sekarang aku akui memang akulah yang melakukan hal itu.”
Jihan yang sudah terbakar emosi langsung bangkit dari duduknya dan menampar wajah Leo dengan sangat keras membuat Leo terkejut. Tetapi Leo hanya diam saja karena dia menyadari bahwa dia telah bersalah dalam hal ini.
“Kamu pengecut Leo!” ucap Jihan sambil menangis.
Rani langsung menarik tubuh Jihan dan membawanya duduk kembali.
“Kamu yang sabar ya Jihan. Sekarang kita sudah menemukan siapa pelakunya. Terserah dia mau mengakui anak kamu atau tidak yang penting sekarang kita sudah tau siapa pelaku yang sebenarnya,” ucap Rani sambil menyindir Leo.
__ADS_1
Leo hanya bisa menundukkan kepalanya dengan perasaan menyesal. Suasana hening kembali karena ketiganya bermain dengan pikirannya masing-masing.