
Rani kemudian melepaskan pelukannya sambil tersenyum.
“Kamu harus kuat Jihan. Allah nggak akan menguji umatnya di luar batas kemampuannya.
Aku yakin dan percaya kamu pasti bisa mengatasi semua ini. Ingat, lusa kita ujian jadi kamu harus fokus pada ujian kamu dulu. Pikirkan masa depan kamu.”
Mendengar nasehat Rani, Jihan hanya terdiam tetapi air matanya mengalir deras.
“Kamu udah cerita sama orang tuamu?” tanya Rani.
Jihan pun menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kamu tidak cerita sama ibu kamu, Jihan. Karena bagaimana pun ibu kamu nanti pasti tau juga. Jangan sampai perut kamu sudah besar baru ibu kamu tau.”
“Rencananya aku akan memberitau ibu kalau kita sudah selesai ujian Rani. Tapi aku masih takut.”
Rani langsung menggenggam tangan Jihan. “Kamu jangan pernah takut karena masih ada Allah yang akan melindungi kamu.”
“Gimana kalau nanti orang tua aku marah dan aku diusirnya dari rumah ini.”
Mendengar ucapan Jihan, Rani terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Rani merasa kasihan dan sedih melihat nasib teman dekatnya itu.
Apalagi kalau nanti orang tuanya mengusirnya dari rumah. Tapi Rani tidak bisa berbuat lebih banyak lagi karena sampai sekarang dia belum menemukan siapa lelaki itu.
“Ya udah, kamu yang sabar aja dulu dan banyak berdoa.
Mudah-mudahan orang tua kamu tidak melakukan hal itu. Aku masih tetap mencari tau siapa lelaki yang telah menghamili kamu itu.”
“Percuma Rani karena hal itu tidak akan bisa kamu ketahui. Kita sudah berusaha untuk mencarinya tapi sampai detik ini belum menemukannya juga.”
“Kamu jangan pesimis seperti itu Jihan. Aku yakin, suatu saat aku akan bisa menemukan siapa lelaki itu. Yang penting untuk saat ini kamu harus fokus dulu pada ujian kita yang akan dilaksanakan. Kalau nantinya kamu diusir oleh orang tua kamu, aku akan siap membantu kamu.
Aku akan menceritakan semuanya pada orang tua aku dan mudah-mudahan mereka bisa memahaminya dan menerima kamu di rumah aku.”
Setelah mendengar nasehat Rani perlahan Jihan mulai lebih tenang.
***
Keesokan harinya tepatnya hari Senin Jihan akan melaksanakan ujian akhir di sekolahnya.
__ADS_1
Tapi Jihan tidak fokus dalam belajar. Tidak seperti biasanya setiap malam Jihan selalu rajin belajar meskipun tidak akan ujian sehingga dia selalu mendapat juara kelas. Bahkan juara umum di sekolahnya. Jihan terkenal anak yang pintar dan rajin.
Tapi saat ini karena sedang dilanda masalah Jihan tidak fokus dalam belajar meskipun dia duduk di meja belajar sambil membaca buku pelajarannya.
Dia tidak dapat berkonsentrasi dalam membacanya. Pikirannya selalu tertuju pada hasil tespecknya yang positif.
Bahkan dia selalu membayangkan kalau nantinya kedua orang tuanya mengusirnya ketika mengetahui dia sedang hamil.
Hal itulah yang paling ditakuti Jihan sehingga dia tidak bisa fokus dalam belajar.
Pagi-pagi sekali seperti biasa Jihan sudah sampai di sekolah. Begitu sampai di kelasnya Jihan langsung membuka buku catatannya sambil berusaha untuk fokus belajar yang sebentar lagi ujian akan dimulai.
Tidak lama kemudian satu persatu teman sekelas Jihan berdatangan.
“Kamu sudah lama sampai Jihan?” tanya Rani sambil mendekati Jihan.
“Kira-kira setengah jam yang lalu aku sudah sampai sini,” jawab Jihan.
“Kenapa cepat kali...”
“Karena rencananya aku mau belajar.”
“Aku nggak fokus. Padahal sejak tadi malam buku catatan sudah ku baca semuanya. Tapi tidak satu pun yang nyangkut dalam pikiranku.”
“Kamu jangan mikir yang macam-macam dulu ya. Kamu pikirkan masa depan kamu. Kamu harus bisa tamat dari sekolah ini dengan nilai yang baik. Apalagi selama ini kamu kan selalu juara kelas bahkan juara umum juga.”
“Tapi untuk saat ini rasanya aku nggak fokus dalam belajar Rani.”
Rani langsung tersenyum dan memberikan kekuatan pada temannya itu.
“Untuk sementara waktu kamu jangan pikirkan masalah itu dulu ya. Pikirkan aja gimana caranya kamu bisa mendapatkan nilai yang bagus.”
Tanpa disadari ternyata Lusi yang duduk di dekat mereka mendengar pembicaraan itu sehingga Lusi langsung ingin tau.
“Memangnya apa sih yang sedang dipikirkan Jihan?”
Jihan bingung harus menjawab apa tapi syukurnya Rani dengan cepat bisa menjawabnya.
“Rencananya setelah tamat SMA ini Jihan akan dikirim oleh orang tuanya untuk kuliah ke Jogjakarta. Makanya dari sekarang Jihan sudah memikirkannya.”
__ADS_1
“Enak donk kalau kuliah di Jogjakarta. Jogjakarta kan terkenal kota pelajar.”
“Memang sih enak tapi sekarang yang dipikirkan Jihan, dia harus berpisah dengan kedua orang. Apalagi kita ketahui kalau Jihan kan anak tunggal dan tidak pernah berpisah dengan orang tuanya.
Makanya hal itulah yang membuat Jihan berat dan selalu memikirkannya,” jelas Rani berbohong.
“Oh gitu... Pantas aja aku perhatikan belakangan ini Jihan sering melamun.”
Rani yang mendengar ucapan Lusi hanya bisa tersenyum. Padahal di dalam hatinya dia merasa bersalah karena telah membohongi Lusi. Sedangkan Jihan hanya diam saja karena sudah tidak dapat memikirkannya lagi.
***
Selama seminggu menjalani ujian Jihan berusaha untuk tetap tenang. Dia selalu mengingat nasehat Rani yang harus fokus pada ujiannya.
Syukurnya dalam menjalani ujian selama seminggu Jihan seperti diberi kekuatan oleh Allah sehingga dia tidak pernah merasakan mual seperti sebelumnya.
Jihan merasa bersyukur karena kekhawatirannya akan mual dan muntah ketika menjalani ujian ternyata tidak terjadi. Bahkan Jihan merasa lebih kuat dan segar ketika menghadapi ujian. Semua ini berkat nasihat Rani.
***
Hari ini ujian terakhir selesai dan rencananya pulang dari sekolah Rani dan teman kompak lainnya seperti Rika, Lusi, Gio dan Dedi akan pergi ke taman bunga untuk mengenang detik-detik terakhir kebersamaan mereka selama di SMA.
Begitu ujian selesai Rani dan teman lainnya sudah bersiap-siap untuk pergi ke taman bunga tetapi Jihan masih duduk tenang di bangkunya. Melihat Jihan yang masih santai Rani langsung mendekatinya.
“Jihan, kenapa kamu masih duduk santai. Apa kamu tidak ikut dengan kami ke taman bunga?”
Jihan berpikir beberapa saat. “Maaf Rani. Aku nggak ikut aja ya.”
“Memangnya kenapa Jihan?”
“Aku malas aja. Aku ingin langsung pulang dan istirahat sampai di rumah nanti.”
“Kan kita besok udah nggak ke sekolah. Jadi besok kan bisa kamu istirahat. Hari ini kita habiskan waktu kita untuk bersenang-senang karena kan ini hari terakhir kita berkumpul.
Setelah itu kita udah sibuk dengan urusan kita masing-masing. Kamu akan pergi ke Jogjakarta dan aku sudah sibuk dengan urusan masuk ke perguruan tinggi.”
“Rani, mungkin aku kan nggak jadi ke Jogja dan tentu kamu kan tau alasannya.”
“Jihan, aku mau kamu ikut dengan kami. Kamu harus bersenang-senang hari ini dengan kami.”
__ADS_1
Rani langsung menarik tangan Jihan sehingga Jihan tidak dapat menolak. Akhirnya Rani dan teman kompak lainnya pergi ke taman bunga dengan naik angkutan umum.