
Sejak Rehan bercerai dengan istrinya, Siti berusaha menarik simpati Rehan. Tetapi tidak pernah mendapat tanggapan dari Rehan. Rehan terlihat sangat kaku dan cuek kalau berhadapan atau berbicara dengan Siti.
Tetapi dengan Jihan berbeda. Rehan sangat memperhatikan Jihan. Hal ini membuat Siti terbakar api cemburu.
Sejak lama Siti sudah tergila-gila pada Rehan tapi Rehan tidak pernah menanggapinya. Barusan Siti melihat sendiri Rehan bersikap baik dan perhatian pada Jihan membuat Siti merasa cemburu dan kesal pada Jihan.
Sejak melihat kedatangan Jihan, Siti merasa tidak suka. Dia menganggap Jihan adalah saingannya untuk mendapatkan hati Rehan. Apalagi Jihan lebih cantik dari dia.
Ternyata apa yang ditakutkan Siti benar-benar terjadi. Barusan Siti melihat sendiri bagaimana Rehan memperlakukan Jihan dengan sangat lembut dan baik. Bahkan Rehan sempat memegang pundak Jihan menunjukkan rasa sayangnya.
Baik bu Renggo mau pun Rehan sangat menyayangi Jihan
Dengan wajah cemberut dan kesal Siti lanjutkan pekerjaannya.
***
Sehabis magrib Jihan langsung membantu Siti di dapur untuk menyiapkan makan malam.
Tapi Siti yang tidak menyukai keberadaan Jihan di rumah itu bersikap cuek bahkan ucapannya sangat pedas.
“Mana lagi yang mau disiapkan Kak?” tanya Jihan ketika berada di dapur.
“Kamu membuat anak bisa, tapi hanya untuk menyiapkan malam aja harus tanya sama aku.
Apa nggak bisa kamu susun aja makanan yang sudah selesai dimasak, jadi nggak perlu nanya segala. Seharusnya kamu tau apa yang bisa kamu kerjakan,” ucap Siti dengan nada marah.
“Tapi Kak, piring dan gelas sudah aku siapkan di meja. Sekarang makanan apa lagi yang harus aku letakkan di meja makan?” tanya Jihan lagi.
“Gelasnya udah kamu isi air putih semua?” tanya Siti dengan nada marah.
“Udah Kak,” jawab Jihan dengan nada takut.
“Ya udah, kalau udah kamu isi ngapain lagi kamu nanya sama aku.”
“Maaf Kak. Maksud aku, mana tau ada lagi makanan yang harus diletakkan di meja makan makanya aku tanya sama Kakak,” jelas Jihan.
__ADS_1
Siti yang sedang mengupas timun merasa kesal dengan pertanyaan Jihan. Hal ini disebabkan karena Siti tidak menyukai Jihan sehingga apa pun yang dilakukan Jihan menurutnya masih kurang dan salah.
“Sekarang kamu cuci wajan itu. Jangan harus disuruh baru kamu tau,” pinta Siti.
“Baik Kak...”
Kemudian Jihan berjalan ke wastafel cucian piring untuk mencuci wajan yang dimaksud Siti.
Sedikit pun Jihan tidak merasa tersinggung atau sakit hati karena dia merasa telah berterima kasih mendapat tumpangan di rumah yang besar dan megah ini.
Ternyata sejak tadi percakapan Siti didengar oleh bu Renggo.
Saat bu Renggo akan menuju ke dapur, dia sempat mendengar perkataan Siti yang begitu pedas pada Jihan.
Hal ini membuat bu Renggo langsung menghentikan langkahnya dan mendengarkan pembicaraan mereka dari balik lemari.
Saat Jihan akan mencuci wajan, bu Rengga pun muncul di hadapan mereka.
“Jihan, tinggalkan pekerjaan itu,” ucap bu Renggo dengan nada marah.
Jihan dan Siti langsung menoleh ke arah bu Renggo yang sedang berdiri di belakang mereka.
Melihat majikannya tampak marah, Siti kemudian berpura-pura baik pada Jihan.
“Jihan, kan udah kakak katakan tadi. Kamu duduk aja. Perkara mencuci piring, itu tugas kakak jadi jangan kamu kerjakan.” Sengaja Siti berkata dengan nada lembut supaya majikannya tidak curiga dengan apa yang telah dilakukannya pada Jihan.
“Jihan, ibu katakan hentikan pekerjaan itu. Itu semua pekerjaan Siti, jadi jangan pernah kamu kerjakan lagi. Sekarang kamu duduk aja,” ucap bu Renggo.
Mendengar bu Renggo sangat memperhatikan Jihan, Siti semakin kesal. Kemudian bu Renggo mendekati Jihan.
“Kamu duduk aja dulu di ruang tengah sambil menonton TV biar Siti semua yang menyiapkannya,” pinta bu Renggo.
“Nggak apa-apa Bu, Jihan juga sudah biasa kok mencuci piring,” ucap Jihan.
“Tapi di rumah ini sudah ada yang mengerjakannya, jadi kamu nggak perlu ikut mengerjakan,” ucap bu Renggo khawatir dengan kesehatan Jihan.
__ADS_1
“Semua yang dikatakan ibu benar Jihan. Kan tadi udah kakak ingatkan, tapi kamu tetap ngotot aja mau membantu kakak,” ucap Siti berusaha membela diri.
Jihan yang sejak tadi mendengar perkataan Siti yang berbanding terbalik dengan kenyataannya merasa heran sendiri.
‘Kenapa kak Siti bisa berkata seperti itu? Di belakang ibu, dia sepertinya nggak suka sama aku. Tapi ketika di depan ibu, ucapannya sangat manis. Kenapa kak Siti bisa berbuat seperti itu.
Apa dia iri karena ibu memperhatikan aku,’ batin Jihan heran.
***
Kemudian Jihan pergi ke ruang tengah. Tinggallah bu Renggo dan Siti di dapur.
“Maaf Bu, Jihan memang keras kepala. Udah saya larang tadi agar jangan ikut membereskan meja makan, tapi dia tidak mendengarkan ucapan saya,” ucap Siti berusaha menjelekkan Jihan.
Sambil tersenyum sinis bu Renggo langsung berkata.
“Siti, biar kamu tau ya. Sejak tadi saya mendengar apa yang kamu katakan pada Jihan karena sejak tadi saya berdiri di balik lemari.
Jadi kamu jangan membela diri. Ucapan kamu hanya manis di bibir saja, tapi di belakang itu tersimpan kebusukan. Jadi mulai sekarang saya ingatkan sama kamu, jangan sekali-sekali kamu memfitnah Jihan. Walaupun saya baru mengenal Jihan tapi saya sudah bisa membaca pikiran Jihan. Jihan adalah gadis yang baik dan lugu. Berbeda dengan kamu,” ucap bu Renggo dengan nada marah.
Siti yang mendengar penjelasan majikanannya merasa ketakutan. Dia tidak menyangka ternyata bu Renggo sudah sejak tadi berdiri di dekat dapur dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Dia tidak menyangka ternyata bu Renggo tahu semuanya.
“Maafkan saya Bu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Siti memohon ampun pada bu Renggo.
“Jangan kamu pikir saya bodoh dan gampang terpengaruh dengan ucapan kamu. Kamu juga harus tau, di rumah ini ada CCTV yang selalu memantau kelakuan kamu.
Sekali lagi saya dengar kamu berbuat yang macam-macam pada Jihan, kamu akan tau akibatnya.”
Dengan perasaan bersalah Siti langsung mendekati majikannya.
“Sekali lagi, maafkan saya ya Bu.
Saya khilaf. Sebenarnya tidak ada niat di hati saya untuk melukai perasaan Jihan, tapi entah kenapa terjadi begitu saja,” jelas Siti berusaha untuk membela diri.
__ADS_1
“Ya udah, yang penting mulai sekarang kamu rubah sifat kamu yang jelek itu. Jangan pernah kamu sakiti lagi Jihan. Kalau sekali lagi kamu sakiti Jihan, maka saya lah lawan kamu,” jelas bu Renggo.
Bu Renggo yang sedang emosi langsung meninggalkan Siti di dapur. Kemudian dia memanggil Rehan yang masih ada di kamarnya untuk mengajak makan malam bersama.