
Melihat ibunya yang terdiam dan terbodoh seperti orang bingung Jihan langsung memeluk ibunya sambil menangis.
“Maafkan Jihan, Bu. Jihan bersalah karena tidak mendengarkan nasehat Ibu,” ucap Jihan yang merasa bersalah dan menyesali akan perbuatannya.
Seandainya saja saat itu dia tidak mau diajak Rani untuk menginap di rumahnya maka kejadian ini tidak akan terjadi.
Bu Dwi menangis dan marah pada putri satu-satunya.
Pundak Jihan langsung dicengkramnya kuat sambil berkata.
“Kenapa kamu tegah melakukan ini Jihan? Ibu nggak menyangka, kamu yang selama ini ibu anggap gadis yang baik dan pendiam ternyata di belakang ibu, kamu melakukan perbuatan yang sangat tercela. Apa kamu tidak takut dosa Jihan? Katakan Jihan...!” Bu Dwi pun menjerit meluapkan emosinya.
Hatinya sangat kecewa melihat kelakuan Jihan yang telah membuat aib dalam keluargamnya.
Jihan yang merupakan anak tunggal dan merupakan satu-satunya harapan keluarga ternyata telah mencoreng nama baik keluarganya.
Selain bu Dwi kesal dengan kejadian ini, bu Dwi juga merasa takut akan sikap suaminya setelah tau masalah ini.
“Ibu nggak bisa berpikir lagi Jihan. Pasti ayahmu sangat marah dan kecewa. Kamu-kan tau sendiri bagaimana sifat ayahmu. Kamu selalu dilarangnya untuk keluar rumah bermain dengan teman-teman kamu, tapi ibu selalu membela kamu.
Apa jadinya kalau sudah seperti ini. Pasti ayah kamu akan menyalakan ibu, Jihan,” ucap bu Dwi dengan sangat marah.
“Maafkan Jihan, Bu.
Tapi semua ini bukan kehendak Jihan,” ucap Jihan sambil berlutut di depan ibunya.
“Percuma kamu bersujud dan minta ampun sama ibu karena semuanya telah terjadi.
Seharusnya kamu berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Ibu sangat kecewa Jihan... kecewa....” Tangis bu Dwi langsung pecah.
“Maafkan Jihan sekali lagi Bu. Tapi apa yang Jihan katakan benar Bu, bahwa Jihan juga tidak mengetahui hal ini karena saat Jihan terbangun ternyata Jihan sudah diperk**a,” jelas Jihan.
“Apa, kamu bilang apa?” ucap bu Dwi dengan ada marah.
“Benar Bu, bahwa Jihan telah di... di Cafe Lestari saat ulang tahun Yuni sebulan yang lalu.”
gadis itu tak sanggup mengatakan jika dia ternoda
__ADS_1
“Kapan kamu pergi ke ulang tahun Yuni, kenapa ibu nggak tau.”
“Waktu itu Jihan pamit untuk nginap di rumah Rani karena orang tua Rani sedang keluar kota. Saat malam harinya kami menghadiri pesta ulang tahun Yuni dan disitulah kejadian itu terjadi Bu.”
“Kenapa kamu tidak pernah cerita sama ibu?”
“Maafkan Jihan, Bu. Waktu itu Jihan hanya pamit akan nginap di rumah Rani. Kalau Jihan mengatakan yang sejujurnya akan pergi ke pesta ulang tahun Yuni pasti Ibu tidak akan mengizinkannya makanya Jihan berbohong Bu. Sekarang Jihan menyesal Bu.”
“Kenapa kamu tidak terbuka pada ibu, Jihan?”
Jihan yang merasa menyesal hanya bisa terdiam sambil menangis. Dia sangat menyesal karena telah membohongi ibunya mengatakan akan nginap di rumah Rani padahal maksud dan tujuan yang sebenarnya karena ingin menghadiri ulang tahun Yuni.
Jihan menyesal kerena kebohongannya dia mendapat musibah seperti ini.
“Siapa lelaki itu, Jihan? Biar kita laporkan dia ke polisi,” pinta bu Dwi emosi.
“Nggak perlu Bu...” jawab Jihan.
“Kenapa nggak perlu. Kamu sadar kamu hamil dan dia telah menghancurkan masa depan kamu. Ibu nggak terima dengan semua ini Jihan. Siapa lelaki itu Jihan?” tanya bu Dwi lagi dengan penuh emosi.
“Di mana rumahnya biar kita datang ke sana.”
Jihan juga nggak tau Bu.”
“Kenapa kamu selama ini diam aja Jihan. Mau sampai kapan???. Sampai kamu nanti tiba-tiba melahirkan?”
bentak bu Dwi penuh emosi
Jihan hanya diam saja. Hanya air matanya yang mengalir terus.
“Apa pria itu kekasih mu?”
Jihan hanya menggelengkan kepalanya.
“Kalau bukan kekasih mu, kenapa kamu keberatan kalau dia kita laporkan ke polisi?”
“Jihan nggak mau kalau masalah ini diketahui oleh orang banyak Bu.”
__ADS_1
Alasan Jihan karena dia akan merasa malu kalau orang mengetahui dia hamil.
Pastinya nanti dia akan dikucilkan di dalam masyarakat. Itulah yang ditakutkan Jihan jika banyak orang yang mengetahui masalah ini.
“Bagaimana pun semua orang pasti akan tau karena kamu nantinya akan melahirkan.
Bagaimana ibu menutupi masalah ini karena bayi itu pasti akan lahir, Bodoh!!!!
“Tapi Jihan malu Bu...”
“Kmu akan lebih malu kalau masalah ini tidak segera kita selesaikan ke polisi. Kamu akan dituduh orang sebagai perempuan nakal. Maka dari itu untuk menghindari tanggapan orang tentang kamu jelek, maka kita harus segera melaporkannya ke polisi.”
Akhirnya Jihan hanya diam saja. Dia rasanya sudah pasrah menerima kenyataan ini. Bu Dwi yang awalnya sangat marah ketika mengetahui Jihan sedang hamil kemudian rasa marahnya berangsur-angsur redah. Kemudian bu Dwi dan Jihan banyak diam. Keduanya bermain dalam pikirannya masing-masing.
Setelah beberapa saat bu Dwi langsung bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke kamarnya. Tetapi masih baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba bu Dwi terjatuh. Melihat ibunya terjatuh Jihan sontak terkejut. Kemudian dia berlari mendekati ibunya.
“Ibu... Ibu, kenapa?” Jihan menepuk pipi ibunya tapi ibunya tidak terbangun membuat Jihan merasa bingung.
Sementara yang ada di rumahnya hanya mereka berdua. Kemudian Jihan menemukan akal yaitu dia mengambil minyak kayu putih yang ada di kamarnya dan mengoleskan ke hidung ibunya dengan harapan minyak kayu putih itu bisa membuat ibunya siuman.
Tapi sudah dicobanya, bu Dwi tetap tidak terbangun. Jihan yang merasa bersalah hanya bisa menangis sambil merenung beberapa saat.
Tidak lama kemudian dia keluar rumah untuk memanggil tetangganya minta pertolongan. Beberapa orang tetangganya langsung datang ke rumahnya dan melihat kondisi bu Dwi.
“Jihan, ayah kamu sudah dihubungi?” tanya bu Ratna.
“Jihan lupa Bu. Entar ya Bu biar Jihan hubungi ayah.”
Kemudian Jihan menghubungi ayahnya dan mengatakan kalau ibunya sedang pingsan. Pak Herman yang sedang berada di kantor langsung panik.
Pak Herman langsung berbicara pada bu Ratna yang merupakan tetangga Jihan agar membawa bu Dwi ke rumah sakit dan kemudian pak Herman langsung ke rumah sakit.
[“Kalau memang istri saya tidak siuman juga, saya minta tolong pada Ibu dan tetangga yang lain untuk membawakan istri saya ke rumah sakit. Nanti dari kantor saya langsung ke rumah sakit, Bu.”]
[“Baik Pak, kami akan membawa istri Bapak ke rumah sakit sekarang juga.”] jawab bu Ratna.
Tidak lama kemudian bu Dwi langsung dibawa ke rumah sakit oleh bu Ratna dan bu Nisa. Jihan juga ikut untuk menemani ibunya. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Jihan hanya menangis saja. Dia sangat menyesal karena perbuatannya ibunya seperti ini.
__ADS_1