
Jihan yang sudah berencana akan pergi ke apotik untuk membeli tespek dengan Rani langsung mengirim pesan pada ibunya agar jangan menjemputnya.
Jihan terpaksa membohongi ibunya dan mengatakan akan belajar kelompok supaya ibunya tidak menjemputnya.
Begitu pulang sekolah Jihan dan Rani pergi menuju apotik yang tidak jauh dari sekolahnya sehingga mereka hanya berjalan kaki menuju ke apotik itu.
Tetapi ketika sudah dekat apotik, Jihan menghentikan langkah kakinya. Rani yang merasa heran langsung menoleh ke arah Jihan.
“Ada apa Jihan?” tanya Rani heran.
“Rani, gimana kalau ada yang tau kita beli tespek di apotek itu,” ucap Jihan khawatir.
“Memangnya kenapa Jihan?” tanya Rani.
“Aku malu Rani. Pasti orang yang melihat kita langsung bisa menebak kalau di antara kita sudah tidak gadis lagi.
Lagian aku juga kenal salah seorang pramuniaga yang ada di apotik itu. Pasti nanti dia akan cerita sama ibu aku, Rani,” jelas Jihan khawatir.
Rani langsung terdiam mendengarkan ucapan Jihan.
“Benar juga Jihan. Kalau ada orang yang mengenal kita dan tau kalau kita membeli tespek pasti prasangka mereka akan jelek pada kita berdua. Jadi kita harus gimana?” tanya Rani bingung.
“Aku juga bingung Rani...”
Setelah berpikir beberapa saat Rani langsung menemukan ide.
“Jihan, gimana kalau kita suruh abang tukang becak yang ada di simpang itu,” ucap Rani sambil menunjuk abang tukang becak yang sedang mangkal di simpang empat jalan.
“Apa kira-kira abang tukang becak itu mau kalau kita suruh membeli tespek?” tanya Jihan tidak yakin.
__ADS_1
“Pasti mau Jihan yang penting abang itu kita kasih uang,” jelas Rani.
“Tapi aku malu Rani kalau nanti ketemu abang tukang becak itu lagi.”
“Kamu nggak perlu malu Jihan karena kita hanya dua minggu lagi ke sekolah ini. Habis itu kita kan udah nggak ketemu abang tukang becak itu lagi karena kita sudah tamat.”
“Benar juga ide kamu Rani. Ya udah ayo kita temui abang tukang becak itu.”
Kemudian Jihan dan Rani berjalan menuju ke tempat mangkalnya tukang becak. Jihan dan Rani sebenarnya merasa malu ketika berbicara pada abang tukang becak itu, tapi rasa malu itu langsung dibuang jauh-jauh supaya misinya berhasil.
“Memangnya untuk apa tespek itu bagi kalian Dek?” tanya abang tukang becak.
Jihan dan Rani hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa. Tapi setelah beberapa saat Rani menemukan ide.
“Kami perlu untuk praktek biologi Bang. Hanya kami malu untuk membelinya makanya kami minta tolong sama Abang,” jawab Rani.
“Memangnya pelajaran biologi ada membahas tentang tespek Dek?” ditanya si abang tukang becak itu lagi.
Karena si abang tukang becak sudah dijanjikan akan diberikan imbalan makanya dia langsung pergi untuk membeli tespek itu tanpa bertanya lagi. Sedangkan Jihan dan Rani menunggu abang sih tukang becak di dekat becaknya.
Tidak lama kemudian abang tukang becak pun muncul dengan membawa aspek yang dipesan Rani.
“Ini Dek tespeknya,” ucap abang tukang becak sambil memberikan bungkusan plastik putih yang berisi alat untuk mengetes kehamilan itu.
Setelah Rani menerima bungkusan plastik itu dia langsung memberikan uang dua puluh ribu rupiah pada abang tukang becak tadi. Terpancar senyum gembira pada wajah abang tukang becak saat menerima uang itu.
“Terima kasih banyak ya Dek...”
“Kami juga berterima kasih Bang karena telah membantu kami,” ucap Jihan dan Rani bersamaan.
__ADS_1
“Rani, kita duduk dulu yuk di halte bus itu,” ucap Jihan menunjuk ke halte bis.
Rani dan Jihan langsung berjalan ke halte bis itu. Kebetulan di halte bis itu tidak ada orang di sana sehingga Jihan dan Rani bebas ngobrol.
“Kamu kenapa nggak langsung pulang Jihan?” tanya Rani.
“Nggak Rani. Tadi aku udah mengirim pesan wa pada ibuku dan mengatakan akan belajar kelompok. Kalau aku pulang sekarang justru ibu aku akan curiga.”
“Benar juga apa kata kamu Jihan. Ya udah kita ngobrol aja di sini menunggu satu jam lagi dan setelah itu kita baru pulang. Oh ya Jihan, tespek itu kamu gunakan setelah kamu bangun tidur ya karena katanya hasil pemeriksaan akurat dari air seni pertama kali keluar ketika kita bangun dari tidur saat pagi hari.”
“Berarti nggak bisa kalau pulang dari sini langsung aku periksa?” tanya Jihan.
“Itulah yang aku nggak tau. Aku hanya pernah dengar katanya supaya hasilnya benar-benar akurat harus diperiksa dari air seni kita ketika kita baru bangun tidur di pagi hari. Jadi saran aku lebih baik besok pagi aja kamu periksa.”
“Tapi aku udah nggak sabar Rani ingin tau hasilnya.”
“Kamu banyak aja berdoa semoga besok pagi hasilnya negatif.”
***
Begitu pulang ke rumah pikiran Jihan tidak tenang. Rasanya sudah nggak sabar ingin memeriksa air seninya. Tapi mengingat pesan Rani yang mengatakan pemeriksaan dilakukan kalau bisa, besok pagi setelah bangun tidur supaya mendapatkan hasil yang akurat akhirnya Jihan menuruti ucapan Rani.
Sehingga sepanjang malam pikirannya tidak tenang. Sengaja dia cepat-cepat tidur supaya besoknya cepat bangun. Tapi saat tidur malam dia selalu terjaga karena memikirkan besok akan melakukan pemeriksaan air seninya.
Saat jam empat pagi Jihan terbangun dia langsung pergi ke kamar mandi dengan membawa bungkusan plastik putih yang berisi tespeck. Jantungnya berdetak kencang saat akan melakukan pemeriksaan air seninya. Bahkan saat dia memasukkan alat yang berukuran kecil ke dalam botol yang ukuran kecil juga Jihan sempat gemetaran memegang alat itu. Dadanya berdetak kencang dan tangannya gemetaran. Baju tidurnya basah oleh keringat yang mengguyur sekujur tubuhnya meskipun masih pagi. Padahal udara pagi masih dingin. Ternyata udara pagi yang begitu dingin bisa membuat keringat Jihan bercucuran cukup deras karena perasaannya yang sangat takut.
Setelah alat yang berukuran kecil itu selesai dimasukkan ke air seninya Jihan langsung mengangkat alat itu dari botol kaca dan menunggunya beberapa saat. Tapi saat akan melihat alat itu tiba-tiba perasaan Jihan sangat takut membuat dia hanya bisa memejamkan matanya karena takut melihat hasilnya.
‘Bagaimana pun aku harus melihat hasil pemeriksaan ini,’ batin Jihan sambil membuka matanya perlahan.
__ADS_1
Matanya langsung terbuka sempurna saat melihat ada garis dua yang berwarna merah di tespeck itu. Itu artinya hasil pemeriksaan Jihan positif. Ternyata Jihan hamil. Jihan yang belum percaya seratus persen langsung memeriksa ulang dengan mengambil alat tespeck yang kedua. Kebetulan semalam dia membeli dua alat tespeck.
Jantungnya dag dig dug tidak menentu menunggu hasil pemeriksaan itu sembari berdo’a semoga hasil pemeriksaan keduanya adalah negatif.