
Siti yang merasa malu akhirnya buru-buru masuk ke dalam. Sedangkan Jihan, Shinta dan bi Ijah saling pandang-pandangan karena ketiganya tidak tau masa lalu Siti yang suram.
Ternyata Siti mempunyai masa lalu yang kelam ketika dia baru berusia tujuh belas tahun. Ketika itu dia sudah tidak sekolah lagi karena keluarganya berasal dari ekonomi yang lemah.
Saat itu dia berkenalan dengan seorang pria yang berstatus suami orang.
Hubungannya yang begitu dekat dengan pria itu membuat dia hamil dan ketika meminta pertanggungjawaban pada pria itu, ternyata pria itu tidak mau bertanggung jawab karena dia sudah mempunyai istri dan anak. Siti sempat terpukul dengan kejadian itu membuat Siti mengalami keguguran.
Pada saat itu bu Renggo yang menolong dan membawanya pulang ke rumahnya. Sejak saat itu sampai sekarang Siti bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah bu Renggo sampai sekarang.
***
Ketika Rehan pulang dari kantor dia langsung memeluk mamanya yang sudah tiga minggu tidak ketemu.
“Jam berapa Mama sampai di rumah?”
“Sebelum zuhur tadi mama udah sampai. Mama dijemput pak Maman,” jelas bu Renggo.
“Shinta mana Ma?” tanya Rehan ketika melirik ke kanan dan ke kiri tidak menemukan Shinta.
“Itu lagi nonton TV di ruang tengah.”
“Rehan menemui Shinta dulu ya Ma,” ucap Rehan dan meninggalkan mamanya.
Rehan langsung menemui Shinta yang sedang rebahan di sofa. Melihat kedatangan Rehan, Shinta langsung bangkit dari tidurnya dan langsung menyalam Rehan. Rehan langsung memeluk Shinta.
“Kamu sehat kan Shinta?”
Shinta hanya menganggukkan kepala dan langsung menangis. Dia merasa sedih mengingat kematian ibunya dan sekarang hidupnya sebatang kara bahkan dia harus menumpang hidup dengan keluarga Rehan. Rehan yang tau kalau Shinta sedang berduka langsung mengelus kepala Shinta dengan lembut.
__ADS_1
“Kamu yang sabar ya Shinta. Mulai hari ini dan seterusnya abang yang akan bertanggung jawab terhadap hidupmu,” ucap Rehan memberikan semangat.
“Terima kasih bang Rehan. Shinta sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali bang Rehan dan tante.”
“Kamu jangan bersedih ya. Abang dan tante akan selalu ada di sampingmu setiap saat. Yang penting kamu belajar bersungguh-sungguh dan abang berjanji akan menyekolahkanmu sampai ke perguruan tinggi. Do’akan ya semoga rezeki abang lancar.”
Shinta yang terharu mendengar perkataan Rehan langsung memeluk Rehan.
“Terima kasih ya Bang....”
Rehan kemuidian membalas pelukkan Shinta yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
Tampak Rehan sangat menyayangi Shinta seperti adiknya sendiri. Sebelum tante Rita meninggal, keluarga Rehan sering bertemu dengan tante Rita dan Sinta membuat hubungan mereka sangat dekat. Meskipun berdasarkan silsilah keluarga hubungan mereka sebenarnya jauh tapi karena seringnya ketemu sehingga hubungan yang jauh menjadi dekat dan kompak.
Dari dulu Rehan selalu sayang pada Shinta dan sudah menganggap Shinta sebagai adiknya sendiri. Begitu juga dengan Shinta yang tampak manja pada Rehan.
***
“Kamu sudah benar-benar siap dan ingin pulang ke rumah Jihan?” tanya bu Renggo menegaskan.
“Iya Bu, Jihan sudah siap. Jihan juga sudah kangen sama ayah dan ibu,” jelas Jihan.
“Apa kamu saat ini benar-benar sudah tenang?” tanya bu Renggo lagi.
“Sudah Bu. Jihan sudah lebih tenang dari sebelumnya,” jawab Jihan.
“Memang kalau ibu perhatikan kamu sekarang sudah mulai ceria tidak seperti sebelumnya. Hanya perlu ibu ingatkan. Keputusan yang akan kamu ambil nanti haruslah berdasarkan hati nurani kamu dan jangan pernah kamu korbankan aqidah hanya untuk mendapatkan status anak kamu.” Bu Renggo memberikan nasehat pada Jihan.
“Baik bu, Jihan mengerti. Do’akan yang terbaik buat Jihan ya Bu...”
__ADS_1
“Tentu Jihan. Sebenarnya ibu berat berpisah dengan kamu. Ibu sebenarnya ingin menjodohkan kamu dengan Rehan.”
Jihan dan Rehan langsung pandang-pandangan. Ternyata keinginan bu Renggo sama dengan keinginan Rehan dan Jihan juga.
Sejak bu Renggo pergi ke Pekanbaru hubungan Rehan dan Jihan semakin dekat. Benih-benih cinta di antara mereka semakin hari semakin tumbuh subur tanpa diketahui oleh bu Renggo sendiri.
“Seandainya ayah dari bayi yang ada di dalam kandungan kamu tidak mau bertanggung jawab, apakah kamu bersedia dinikahi Rehan?”
Jihan dan Rehan kembali pandang-pandangan. Keduanya bingung ternyata pemikiran bu Renggo sudah jauh ke depan seperti yang dipikirkan Rehan saat ini. Melihat Jihan hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan bu Renggo, akhirnya Rehan lah yang membuka pembicaraan.
“Ma, biar Jihan mikir-mikir dulu dan Mama juga nggak bisa maksakan kehendak Mama karena ayah dari bayi yang dikandung Jihan lebih berhak untuk menikahi Jihan dari pada Rehan,” ucap Rehan.
“Mama hanya memberitahu aja Rehan, bukan berarti mama memaksakan Jihan untuk menikah dengan kamu.
Mama hanya memberikan pilihan. Seandainya Jihan tidak jadi menikah dengan pria itu mama berharap Jihan mau menikah dengan kamu. Mama sengaja tidak meminta pendapat kamu karena mama yakin kamu pasti mau untuk menikahi Jihan. Sudah beberapa kali mama menyuruh kamu mencari istri, tapi jawaban kamu harus mama yang mencarikannya. Sekarang mama sudah mendapatkan wanita itu, yaitu Jihan. Makanya kamu harus mau karena ini permintaan mama,” jelas bu Renggo.
“Benar Ma. Rehan tidak akan menolak wanita manapun yang Mama jodohkan pada Rehan. Tapi masalahnya Jihan belum tentu mau sama Rehan, Ma.”
Sengaja Rehan berbicara sambil menyindir Jihan. Terlihat Jihan hanya tersenyum saja sambil menundukkan kepalanya.
“Ya udah, sekarang kamu pikir-pikir dulu ya Jihan. Yang penting ibu memberikan tawaran. Kalau kamu tidak jadi menikah dengan pria itu maka ibu mohon kamu mau dinikahi Rehan, tapi nanti setelah kamu melahirkan.”
Jihan hanya diam saja tidak berani menjawab. Dia masih bingung harus menjawab apa.
***
Malam semakin larut dan semua orang sudah tertidur pulas terkecuali Rehan yang sejak tadi tidak dapat memejamkan matanya. Sudah dua jam lebih Rehan berbaring di tempat tidurnya bahkan dia sudah membolak-balik badannya ke kiri dan ke kanan tetapi tidak dapat juga tertidur.
Pikirannya masih tertuju pada Jihan yang besok sore akan diantar pulang ke rumahnya. Rehan tidak dapat membayangkan ketika berpisah dengan Jihan pasti dia akan mengalami rasa kangen yang begitu dalam. Selama ini Rehan selalu hidup bersama di dalam satu rumah bersama Jihan. Tapi mulai besok Jihan sudah tidak ada di rumah ini karena dia akan pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Rehan pasti akan kangen ketika tidak bertemu Jihan dalam satu hari. Apalagi kalau nantinya Jihan jadi menikah dengan Leo, Rehan pasti patah hati dan mungkin tidak akan berani untuk mengenal wanita lagi.