
Jihan hanya terdiam mendengar cerita ibunya yang mengatakan kalau Dinda dinikahkan secara mendadak karena telah hamil duluan.
“Kasihan juga dengan bu Nisa ya Bu. Ayah perha“Benar Yah. Hati orang tua mana yang nggak kecewa melihat anak gadisnya yang dibanggakan ternyata hamil duluan.”
“Ayah kasihan kali lihatnya. Apalagi bu Nisa sudah nggak ada suaminya jadi dia memikirkannya sendiri.”
“Makanya bu Nisa sangat kecewa dan baru semalam pagi bu Nisa mengetahui kalau Dinda telah hamil. Kemudian bu Nisa langsung menemui mertua Dinda untuk meminta pertanggung jawaban atas kelakuan putranya,” jelas ibunya Jihan.
“Tapi syukur juga ya Bu, mertuanya Dinda langsung menyetujui akan pernikahan itu.”
“Ya gimana lagi Yah. Mau nggak mau mertua Dinda ya harus menikahkan putranya karena anak yang dikandung Dinda adalah cucunya sendiri. Itulah kelakuan remaja sekarang yang tidak pernah memikirkan masa depan. Yang dipikirkan hanya kesenangan sesaat,” jelas ibunya Jihan membuat perasaan Jihan semakin hancur.
Jihan tidak bisa membayangkan kalau nantinya dia hamil tentu kedua orang tuanya pasti akan marah besar.
“Jihan...” ucap ayahnya lembut.
Jihan langsung menoleh ke arah ayahnya. “Iya Yah...”
“Ayah ingatkan sama kamu. Jaga harga diri kamu sebagai seorang wanita. Kamu harus bisa menjaga nama baik keluarga kita. Apalagi kamu anak satu-satunya harapan ayah dan ibu. Kamu harus bisa menamatkan kuliah kamu nantinya. Setelah itu baru kamu mikir untuk berumah tangga. Ayah dan ibu ingin kamu bisa meraih sarjana,” ucap ayahnya Jihan.
“Baik Ayah,” jawab Jihan dengan perasaan sedih karena dia tidak yakin bisa mewujudkan impian ayah dan ibunya.
***
Sejak kejadian Jihan diperkosa oleh Leo, Jihan di sekolah banyak diam tidak seperti biasanya. Jihan memang terkenal sebagai gadis yang pendiam tetapi sejak kejadian itu sekarang Jihan semakin diam membuat teman-temannya merasa heran.
Saat bel istirahat berbunyi, Rani langsung mengajak Jihan pergi ke kantin sekolah seperti biasa.
“Ayo buruan Jihan, kita pergi ke kantin entar buruan ramai,” ucap Rani sambil menarik tangan Jihan.
“Aku di kelas aja Rani,” jawab Jihan.
Rani langsung menoleh ke arah Jihan.
“Memangnya kenapa Jihan. Apa kamu tidak ingin jajan?” tanya Rani heran.
__ADS_1
Jihan hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” tanya Rani lagi.
“Aku lagi malas jajan Rani. Aku lagi nggak selera makan apa-apa.”
Mendengar ucapan Jihan barusan, Rani langsung terdiam. ‘Kenapa Jihan tiba-tiba malas untuk jajan. Jangan-jangan Jihan hamil. Ah, aku nggak boleh berpikiran yang jelek,” batin Rani dalam hati.
“Ya udah, kalau kamu nggak mau jajan nggak apa-apa. Yang penting kamu temani aku ya?” ucap Rani sambil menarik tangan Jihan.
Sengaja Rani mengajak Jihan pergi ke kantin supaya Jihan tidak terlalu suntuk dengan masalah yang sedang dihadapinya. Rani merupakan teman dekat Jihan yang mengetahui tragedi yang menimpa Jihan ketika acara pesta ulang tahun Yuni. Sehingga Rani berusaha untuk membuat Jihan jangan berlarut-larut dalam kesedihannya.
Sampai di kantin ternyata teman yang lainnya sudah pada ngumpul semua.
“Jihan, kenapa kamu tidak jajan?” tanya Rika yang duduk di depannya.
“Aku lagi nggak nafsu makan Rika.”
“Kenapa Jihan. Apa kamu sakit?” tanya Lusi yang duduk di sampingnya.
“Jihan, kenapa belakangan ini kamu banyak diam?” tanya Rika lagi.
Jihan langsung tersenyum mendengar pertanyaan Rika.
“Benar Rika. Aku perhatikan belakangan ini Jihan banyak diam. Memangnya ada masalah apa Jihan?” tanya Lusi.
“Jihan sedang stress menghadapi ujian minggu depan,” ledek Rani sambil tertawa.
“Ngapain dipikiri Jihan. Aku aja tenang-tenang aja meskipun minggu depan kita ujian akhir,” ucap Rika.
“Benar Rika. Aku juga tenang-tenang aja, ngapain dipikiri. Hidup ini harus dibawa senang, jangan kita bawa susah. Nanti kita sendiri yang susah loh...” jelas Lusi.
“Dengar Jihan apa kata Rika dan Lusi. Kamu harus happy meskipun akan menghadapi ujian,” ucap Rani.
Jihan hanya tersenyum saja mendengarkan gurauan temannya karena dia yakin apa yang diucapkan Rani untuk membuat Jihan kuat.
__ADS_1
Saat sedang asyik ngobrol dan bersenda gurau tiba-tiba Jihan merasakan perutnya mual dan ketika matanya tertuju pada semangkuk bakso yang ada didekatnya Jihan merasakan seperti akan muntah sehingga dia buru-buru menutup mulut dan hidungnya. Rani yang melihat reaksi Jihan seperti itu langsung lemas karena dia khawatir kalau Jihan sedang hamil.
“Kamu kenapa Jihan?” tanya Lusi yang duduk di sampingnya.
Rika yang sejak tadi asik makan mie goreng langsung menatap wajah Jihan yang tampak pucat.
“Kamu kenapa Jihan, wajah kamu tampak pucat,” tanya Rika khawatir.
Sedangkan Rani langsung mengelus pundak Jihan.
“Nggak tau sepertinya aku masuk angin,” ucap Jihan lemas.
“Kamu minum air hangat dulu ya.” Rani langsung memberikan segelas air hangat pada Jihan dan Jihan langsung meneguknya.
“Rani, kamu bawa aja Jihan ke kelas dan ambil minyak kayu putih di tas aku,” pinta Lusi.
“Iya Rani, sekarang bawa aja Jihan ke kelas dan gosok perutnya pakai minyak kayu putih. Sebentar lagi kalau kami udah siap makan, kami akan nyusul,” ucap Rika.
Rani langsung memapah Jihan untuk masuk ke kelas mereka. Keduanya langsung berjalan menuju kelas mereka yang lumayan jauh dari kantin.
Sambil berjalan Jihan masih menutup mulut dan hidungnya karena menahan rasa mual dan ingin muntah. Sedangkan Rani sejak tadi diam saja bermain-main dalam pikirannya.
Saat masih di tengah perjalanan menuju ke kelas mereka Jihan berkata. “Rani, aku takut...” bisik Jihan di telinga Rani.
Rani langsung menggenggam tangan Jihan dan menghentikan langkahnya. Setelah keduanya berhenti Rani langsung berbisik di telinga Jihan.
“Pulang dari sekolah, nanti kita beli tespek ya untuk memastikan apakah kamu hamil.”
Mendengar ucapan Rani, Jihan semakin takut sehingga digenggamnya erat tangan Rani. Melihat Jihan yang semakin takut Rani berusaha untuk menenangkannya.
“Kamu jangan takut Jihan karena aku selalu ada di samping kamu. Aku akan selalu membantu kamu.”
Mendengar ucapan Rani yang begitu tulus perlahan rasa takut Jihan mulai luntur. Jihan masih memikirkan perasaan kedua orang tuanya. Apa jadinya kalau sampai kedua orang tuanya mengetahui dia sedang hamil dan nggak tau siapa ayah dari bayinya itu.
‘Ya Allah, berilah hamba-Mu kekuatan supaya dapat melalui ini semua. Jangan Kamu berikan aku cobaan yang begitu berat seperti ini ya Allah.
__ADS_1
Aku rasanya nggak kuat menghadapi ini semua. Aku kasihyan pada ayah dan ibu. Pasti mereka akan kecewa sekali kalau sampai aku hamil nantinya,’ batin Jihan dalam hati.