Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Terkejut


__ADS_3

Setelah dokter mengatakan kalau kandungan Jihan lemah dan tidak boleh terlalu capek, Rehan selalu mengawasi Jihan supaya jangan mengerjakan pekerjaan rumah sehingga semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh bi Ijah.


Setiap hari bi Ijah datangnya siang.


Setelah dia bekerja di rumah bu Nina yang merupakan tetangga Rehan barulah dia ke rumah Rehan.


Jihan terkadang merasa tidak sabar menunggu bi Ijah yang datangnya siang, sehingga pekerjaan rumah terkadang dikerjakan sendiri padahal Rehan sudah berkali-kali mengingatkan Jihan agar jangan mengerjakan pekerjaan rumah.


Bahkan Rehan sempat juga berkata pada bi Ijah agar jangan memperbolehkan Jihan untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


“Neng Jihan istirahat aja di kamar, biar bibi yang ngerjakan semuanya,” ucap bi Ijah ketika melihat Jihan sedang membersihkan ruang mushollah.


“Jihan bosan Bi, sejak tadi istirahat saja di kamar.”


“Memang iya, tapi nanti bibi yang dimarahi pak Rehan. Lebih baik neng Jihan duduk aja dan temani bibi ngobrol,” pinta bi Ijah.


Jihan langsung duduk di kursi tamu sambil menemani bi Ijah membersihkan ruang tamu. Bi Ijah orangnya baik dan perhatian membuat Jihan merasa nyaman ketika berada di dekatnya.


Bahkan Jihan tidak segan-segan minta tolong pada bi Ijah seandainya dia perlu sesuatu.


“Mangga yang semalam bibi belikan enak Neng?” tanya bi Ijah pada Jihan.


“Enak Bi, Jihan habis dua loh Bi,” jelas Jihan.


“Habis dua? Mangganya kan besar-besar,” ucap bi Ijah tidak percaya.


“Iya Bi. Jihan suka kali karena rasanya enak dan manis. Kalau ada lagi Jihan pesan ya Bi?”


“Bisa Neng, tapi dua minggu lagi. Nanti kalau uda ada akan bibi kabari.”


“Kalau dua minggu lagi, nggak jadilah Bi.”


“Memangnya kenapa Neng?” tanya bi Ijah heran.


“Karena minggu depan rencananya Jihan mau pulang ke rumah Bi.”


“Pulang ke rumah?” tanya bi Ijah lagi.


“Iya Bi, tapi masih nunggu ibu pulang dari Pekanbaru dulu.”


“Bukankah neng Jihan lari dari rumah?” tanya bi Ijah penasaran.

__ADS_1


“Bukan Bi. Sebenarnya Jihan diusir ayah dari rumah.”


Bi Ijah yang tidak tau ceritanya jadi penasaran.


“Kenapa neng Jihan diusir dari rumah?” tanya bi Ijah heran.


“Ceritanya panjang Bi,” jawab Jihan.


“Ceritalah Neng, bibi ingin tau cerita yang sebenarnya.”


Kemudian Jihan pun menceritakan masalah yang sedang dihadapinya dan tidak ada yang disembunyikan sedikit pun dari bi Ijah.


Mendengar cerita Jihan yang sebenarnya bi Ijah langsung terkejut.


“Kenapa Bibi terkejut? Apa Bibi nggak percaya dengan cerita Jihan?” tanya Jihan ketika melihat mimik wajah bi Ijah.


“Maaf sebelumnya ya neng Jihan. Bibi kan nggak tau cerita yang sebenarnya dan bibi juga segan untuk bertanya.


Yang bibi pikirkan selama ini kalau neng Jihan minggat dari rumah karena hamil dengan pak Rehan makanya neng Jihan tinggal di rumah ini. Saat bibi lihat kalau neng Jihan dan pak Rehan tidak satu kamar, bibi berpikir setelah neng Jihan melahirkan baru menikah dengan pak Rehan,” jelas bi Ijah.


Mendengar cerita bi Ijah, Jihan langsung tertawa lepas.


“Maafkan bibi ya Neng karena bibi memang tidak tau masalah ini.


“Nggak apa-apa loh Bi, namanya juga nggak tau. Jihan jadi salut sama Bibi karena Bibi tidak terlalu mencampuri urusan orang lain sampai-sampai masalah Jihan, Bibi nggak tau dan juga nggak mau tau. Karena kebanyakan orang, selalu mau tau urusan orang lain.”


“Bibit takut Neng ikut campur urusan orang lain.”


“Ya baguslah kalau gitu Bi.”


“Jadi rencananya minggu depan neng Jihan mau diantar ke rumah orang tua neng Jihan?”


“Benar Bi karena bu Renggo rencananya pulang paling lambat dua minggu lagi.


Setelah bu Renggo pulang barulah mengantar Jihan pulang ke rumah,” jelas Jihan.


“Berarti nanti neng Jihan menikah dengan si Leo itu?” tanya bi Ijah ingin tau.


“Belum tau lagi Bi.”


“Tapi bibi ingatkan sama neng Jihan, jangan pernah sampai mengorbankan aqidah hanya gara-gara laki-laki,”

__ADS_1


“Iya Bi, kalau masalah itu mudah-mudahan Jihan selalu ingat kok.”


“Oh ya Neng, apa nggak lebih baik neng Jihan menikah dengan pak Rehan.”


“Bibi bisa aja. Memangnya nggak semudah itu Bi.”


“Karena bibi perhatikan, pak Rehan kelihatannya suka sama neng Jihan,” ucap bi Ijah.


“Bibi sok tau deh...”


“Ya jelas bibi tau Neng meskipun pak Rehan nggak pernah ngomong sama bibi kalau dia suka sama neng Jihan. Tapi dari kelakuan dan perhatiannya bibi yakin betul kalau pak Rehan suka sama neng Jihan.”


Jihan langsung tertawa mendengar penjelasan bi Ijah.


“Karena mas Rehan yang pertama kali menolong Jihan makanya wajar aja Bi kalau dia perhatian sama Jihan,” ucap Jihan pura-pura tidak paham dengan ucapan bi Ijah.


“Tapi ini beda loh Neng. Kalau bibi perhatikan pak Rehan memang betul-betul suka sama neng Jihan.


Buktinya pak Rehan semalam itu ada ngomong sama bibi supaya tidak meperbolehkan neng Jihan kalau mengerjakan pekerjaan rumah. Itu artinya pak Rehan sangat khawatir kalau neng Jihan sampai sakit.”


Jihan hanya tersenyum mendengar perkataan bi Ijah. Padahal dalam hatinya dia merasa senang.


“Kita lihat aja nanti Neng. Jangan-jangan nanti pak Rehan langsung melamar neng Jihan.”


“Udah deh Bi, jangan banyak menghayal,” ucap Jihan.


“Kita buktikan ya Neng kalau pak Rehan suka sama neng Jihan,” ucap bi Ijah.


“Dari pada banyak menghayal yang tidak pasti, lebih baik Jihan masuk ke kamar dulu ya Bi.”


Sambil tersenyum Jihan meninggalkan bi Ijah dan langsung masuk ke kamarnya. Sampai di kamar Jihan masih senyum-senyum sendiri mengingat ucapan bi Ijah barusan.


Ternyata apa yang ada dalam pikiran bi Ijah sama dengan yang ada dalam pikiran Jihan.


Hanya saja Jihan masih ragu apakah Rehan nantinya bisa menyayangi anaknya Leo sama seperti anaknya sendiri jika nantinya mereka menikah. Yang dikhawatirkan Jihan kalau nanti Rehan mempunyai anak sendiri maka dia tidak akan sayang lagi pada anaknya Leo. Hal itulah yang selalu mengganjal dalam pikiran Jihan.


Jihan yang terlalu kuper membuat pemikirannya sangat sempit.


Padahal Rehan sudah memberikan contoh pada Jihan tentang orang yang mengadopsi anak maka orang tersebut akan sayang pada anaknya meskipun bukan darah dagingnya sendiri.


Itulah yang pernah disampaikan Rehan pada Jihan sebagai gambaran agar Jihan memikirkan perkataan Rehan.

__ADS_1


Tapi sampai sekarang Jihan masih tetap ragu dengan ketulusan Rehan. Hal itu karena pemikiran Jihan yang terlalu sempit.


__ADS_2