
“Rani, aku pulang sekarang ya,” pamit Jihan setelah sarapan pagi.
Rani langsung terkejut mendengar ucapan Jihan yang ingin pulang sementara masih pagi.
“Ngapain cepat kali pulang Jihan. Nanti ya siang dikit. Lagian aku kan di rumah sendiri nggak ada teman aku.”
Jihan hanya terdiam mendengarkan ucapan Rani. Jihan yang merasa sedih dan kecewa ingin meluapkan kesedihannya di kamarnya sendiri. Rani yang tau kalau Jihan sedang bersedih langsung mendekatinya.
“Kita ngobrol aja dulu di sini ya, entar kalau kamu sudah lebih tenang baru kamu pulang. Kalau gitu supaya kamu tidak bosan temani aku membereskan bunga ya.”
Rani mempunyai kebun anggrek di samping rumahnya dan setiap hari libur dia bertugas untuk merawat bunga anggrek itu. Biasanya dia akan ditemani oleh ibunya tapi karena ibunya sedang pergi ke luar kota sehingga Rani hendak membereskan sendiri kebun anggrek itu.
Kemudian Rani mengajak Jihan pergi ke kebun anggrek yang ada di samping rumahnya dengan membawa peralatannya. Begitu sampai di kebun anggrek itu Rani langsung menggunting batang bunga yang sudah tidak berbunga lagi sedangkan Jihan berkeliling melihat bunga-bunga anggrek yang sedang berbunga. Semuanya tampak cantik membuat Jihan merasa senang.
Hatinya sudah mulai terhibur dengan melihat bunga anggrek yang begitu cantik. Jihan tampak senang sekali. Kemudian Rani langsung mendekatinya dan berkata.
“Kamu hobby menanam bunga Jihan, biar aku kasih kamu. Pilih aja yang mana biar nanti aku ambilkan,” tawar Rani.
“Lain kali aja Rani. Untuk saat ini aku masih malas mau ngapa-ngapain,” jelas Jihan seperti tidak bersemangat.
“Kamu jangan seperti itu Jihan. Kamu harus menghibur hati kamu sendiri. Ciptakan suasana yang membuat kamu bahagia. Kamu jangan pernah melihat ke belakang lagi karena hidup kita ini untuk masa depan dan kamu harus selalu optimis. Jangan pernah pantang menyerah. Yakinlah pada kekuasaan Allah. Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita sebagai umatnya.”
Mendengar nasehat Rani, tanpa terasa air mata Jihan langsung menetes.
“Tapi masa depan aku sudah hancur Rani...”
“Siapa yang bilang. Kamu masih punya masa depan.”
“Tapi pria mana yang mau sama aku karena aku sudah tidak gadis lagi.”
Sambil tersenyum Rani berusaha untuk menguatkan Jihan.
__ADS_1
“Setiap manusia memiliki jodoh termasuk kamu. Suatu saat kamu akan menemukan jodoh kamu, Jihan. Kamu jangan pernah pesimis karena kamu merasa sudah tidak gadis lagi. Masih banyak di luar sana lelaki yang mau dengan kamu. Yang penting kamu harus ikhlas menerima cobaan ini, Jihan,” ucap Rani menguatkan Jihan.
“Tapi masih ada yang aku takutkan Rani...”
“Apalagi yang kamu takutkan Jihan?” tanya Rani penasaran.
“Aku takut kalau nantinya aku hamil Rani.”
Rani langsung terdiam mendengar ucapan Jihan. Sambil berpikir beberapa saat kemudian Rani menemukan ide baru.
“Jihan, gimana kalau kita pergi ke dokter kandungan aja.”
“Ngapain kita pergi ke dokter kandungan?” tanya Jihan heran.
“Kita minta sama dokter kandungan supaya kamu jangan hamil. Bisa saja nanti dokter kandungan akan memberikan obat yang membuat kamu tidak hamil.”
“Tapi aku takut Rani...”
“Apa yang kamu takutkan lagi Jihan?”
“Kamu tau dari mana?”
“Aku pernah mendengarkan ibu aku cerita dengan tante aku. Katanya ada anak temannya ibu aku yang seperti itu. Karena nggak mau hamil maka minta obat dari dokter. Ternyata usahanya gagal karena dia tetap hamil dan anaknya setelah lahir cacat,” jelas Jihan.
“Aku jadi bingung Jihan mendengar cerita kamu.”
“Ya udahlah Rani. Kalau pun nanti aku benar-benar hamil maka aku akan membesarkan anakku sendiri.”
“Kalau memang itu keputusan kamu, aku akan selalu menghargai. Kamu jangan pernah sungkan untuk minta pertolongan aku karena aku akan siap selalu membantu kamu. Tapi aku berharap semoga kamu tidak hamil,” ucap Rani.
***
__ADS_1
Sampai di rumah suasana rumah sangat sunyi. Jihan yang baru pulang dari rumah Rani langsung masuk ke dalam dan memanggil ibunya. Tapi tidak terdengar suara ibunya sehingga dia pergi ke kamar ibunya. Ternyata di kamar juga tidak melihat ibunya.
Setelah tidak menemukan ibunya baik di dalam rumah atau pun di halaman rumahnya kemudian Jihan mengirim pesan melalui wa menanyakan ibunya sedang di mana. Ternyata ibunya sedang pergi ke rumah bu Nisa yang merupakan tetangga dekatnya.
‘Ada apa memangnya di rumah bu Nisa. Kenapa ibu dan ayah pergi ke sana,’ batin Jihan penasaran.
Kemudian Jihan masuk ke kamarnya dan rebahan di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Tidak lama kemudian Jihan yang asik bermain ponsel kemudian merasa ngantuk dan akhirnya dia pun tertidur.
Saat terdengar adzan dzuhur berkumandang di masjid Jihan terbangun. Kemudian Jihan langsung menunaikan sholat dzuhur. Selesai sholat Jihan langsung memanjatkan doa pada Allah untuk diberikan kemudahan dalam menghadapi masalah ini. Sambil menangis Jihan bersujud pada Allah agar rasa ketakutannya tidak terjadi. Jihan juga memohon ampun kepada Allah dan merasa sangat menyesal atas kejadian yang telah menimpanya.
Setelah puas meluapkan isi hatinya kepada Allah, Jihan langsung melipat mukenanya. Perasaannya sekarang sudah lebih tenang dari sebelumnya. Walaupun dia khawatir kalau nantinya dia akan hamil tapi setelah menjalankan sholat dzuhur, perasaannya sudah lebih tenang karena semuanya sudah diserahkan kepada Allah.
Tidak lama berselang setelah Jihan selesai sholat dzuhur, ibu dan ayahnya pun pulang dari rumah bu Nisa.
“Tok.. tok. Jihan ...” panggil ibunya dari luar kamar.
“Sebentar Bu...” Jihan langsung membuka pintu kamarnya.
“Kamu udah lama pulang Jihan?” tanya ibunya.
“Udah Bu. Jam sepuluh tadi Jihan udah sampai rumah,” jawab Jihan.
“Memangnya ada acara apa di rumah bu Nisa, Bu?” tanya Jihan penasaran.
“Acara pernikahan Dinda,” jawab ibunya Jihan sambil berjalan ke ruang tengah.
Jihan langsung berjalan di belakang ibunya menuju ke ruang tengah. Di sana ayahnya sedang menonton tv. Ketiganya langsung ngobrol di ruang tengah sambil menonton tv.
“Dinda menikah Bu?” tanya Jihan tidak percaya.
“Iya Jihan dan tadi pagi bu Nisa datang kemari menyuruh ayah dan ibu menghadiri pernikahan Dinda,” jelas ibunya Jihan.
__ADS_1
Melihat Jihan yang seperti tidak percaya ibunya langsung berkata. “Dinda sudah hamil makanya oleh orang tuanya langsung dinikahkan untuk menutupi rasa malu.”
Mendengar ucapan ibunya hati Jihan langsung sakit dan dadanya terasa sesak menahan rasa sakit yang amat dalam. Keringat dingin langsung mengguyur sekujur tubuhnya karena takut kalau nantinya dia hamil juda seperti Dinda. Kalau Dinda hamil tapi ada pria yang bertanggung jawab, sementara kalau Jihan hamil siapa yang akan bertanggung jawab karena Jihan tidak tau siapa yang telah menodainya.