
“Sebenarnya apa alasan Jihan. Kenapa dia tidak mau langsung pulang ke rumah mas Rehan?” tanya bu Dwi yang merasa penasaran.
“Ibu kan tau sendiri Jihan itu korban. Jadi psikis Jihan terganggu.
Dia merasa bersalah pada Ibu dan Bapak sehingga dia belum siap untuk ketemu dengan Ibu dan Bapak. Rencananya besok atau lusa Jihan akan dibawa mama untuk psikolog,” jelas Rehan.
“Memangnya Jihan kenapa, kok harus dibawa ke psikolog mas Rehan?” tanya pak Herman merasa heran.
“Untuk memulihkan kembali kesehatan Jihan terutama mentalnya maka Jihan harus dibawa ke psikolog Pak. Bapak kan tau sendiri kalau orang yang korban biasanya akan terganggu jiwanya karena dia merasa trauma dan takut untuk ketemu orang. Perasaan takut dan malunya sangat besar. Biasanya hal itu sering dialami oleh korban, Pak.
Maka rencananya Jihan akan dibawa mama ke psikolog,” jelas Rehan.
Mendengar penjelasan Rehan, pak Herman dan bu Dian merasa sedih sekaligus senang karena Rehan dan keluarganya sangat memperhatikan putrinya.
“Mas Rehan, kami mengucapkan banyak ribuan terima kasih pada mas Rehan dan juga mama mas Reyhan karena telah merepotkan,” ucap pak Herman dan bu Dwi bersamaan.
“Sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk saling menolong umatnya Pak, Bu,” jawan Rehan.
“Tapi kami merasa segan karena kita tidak kenal sebelumnya tapi mas Rehan dan keluarga mau menolong Jihan,” ucap bu Dwi.
“Itulah hidup Bu. Ada kalanya kita menolong orang, ada kalanya juga kita ditolong orang. Jadi Ibu nggak perlu segan dalam hal ini. Yang penting Ibu selalu doakan Jihan dan bayi yang ada di dalam kandungannya semoga selalu sehat dan diberikan kemudahan dalam menjalani masalah ini,” jelas pak Saidi.
“Kami ikhlas membantu Jihan, Bu. Mama sempat menginginkan cucu saat saya belum bercerai tapi sayangnya kami belum memberikan cucu pada mama sudah bercerai. Makanya mama menjaga betul kandungan Jihan karena mama takut terjadi sesuatu pada kandungan Jihan,” ucap Rehan.
“Syukurlah kalau seperti itu. Kami sangat berterima kasih pada mas Rehan dan mama mas Rehan. Kami tidak bisa membalas kebaikan mas Rehan,” ucap bu Dwi.
“Sama-sama Bu. Selagi kami bisa menolong, ya kami tolong,” ucap Rehan.
“Berarti mas Rehan belum menikah lagi sampai sekarang?” tanya bu Dwi.
“Belum Bu,” jawab Rehan.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat mas Rehan bisa menemukan jodoh ya,” ucap bu Dwi.
“Aamiin...” jawab Rehan dan pak Saidi bersamaan.
__ADS_1
“Oh ya Pak, Bu. Kalau Bapak dan Ibu ingin mengetahui kondisi Jihan saat ini, Bapak dan Ibu bisa menyuru seseorang datang ke rumah saya untuk melihat kondisi Jihan supaya Ibu tidak khawatir lagi terhadap Jihan,” pinta Rehan.
“Benar Bu apa yang dikatakan mas Rehan.
Kalau memang Ibu ingin mengetahui kondisi Jihan yang sebenarnya, Bapak dan Ibu bisa menyuruh orang untuk melihat kondisi Jihan di rumah mas Rehan tetapi orang tersebut jangan kenal Jihan.
Pura-pura aja orang tersebut datang ke rumah mas Rehan untuk memeriksa listrik atau apalah,” tambah pak Saidi.
“Baiklah Pak nanti akan kami pertimbangkan saran Bapak dan mas Rehan,” jawab pak Herman.
Setelah berbicara cukup lama akhirnya Rehan dan pak Saidi pun pamit pulang. Pak Herman maupun bu Dwi merasa tenang setelah mendengar kondisi anaknya yang ternyata dalam keadaan sehat.
***
Sampai di rumah suara kumandang adzan maghrib pun terdengar. Rehan buru-buru memasukkan sepeda motornya ke garasi. Melihat Rehan sudah pulang ke rumah bu Renggo merasa tenang.
“Kamu kenapa lama kali pulangnya Rehan?” tanya bu Renggo ketika melihat Rehan masuk ke dalam rumah.
Tidak jauh dari bu Renggo berdiri, terlihat Jihan sedang duduk menonton TV membuat Rehan tidak dapat berbicara terus terang pada mamanya.
“Kenapa kamu tidak ngabari mama.
Biasanya kalau lembur kamu pasti chatting mama, jadi mama kan nggak khawatir,” jelas bu Renggo.
“Ya udah, Rehan minta maaf ya Ma.” Rehan berusaha menenangkan mamanya dengan mengelus pundak mamanya.
“Sekarang cepat mandi sana keburu magrib habis,” ucap bu Renggo menyuruh Rehan mandi
***.
Seperti biasa selesai magrib makanan di meja makan sudah selesai dihidangkan Siti asisten rumah tangga Rehan. Terlihat Jihan dan mamanya sudah duduk di meja makan sambil menunggu kedatangan Rehan. Melihat Jihan dan mamanya masih duduk dan belum mengambil nasi Rehan merasa heran.
“Mama kenapa kok belum makan juga?” tanya Rehan yang baru muncul di meja makan.
“Kami menunggu kamu, Rehan,” ucap mamanya sambil memberikan mangkuk yang berisi nasi pada Rehan.
__ADS_1
“Kenapa harus menunggu Rehan, Ma. Kalau udah lapar makan aja duluan.
Kasihan tuh si Jihan pasti udah kelaparan sejak tadi,” jelas Rehan sambil melirik Jihan.
“Nggak kok Mas, Jihan belum lapar,” ucap Jihan.
“Kalau kamu udah lapar, jangan malu-malu Jihan. Langsung aja makan,” jelas Rehan.
“Iya Mas...” jawab Jihan.
“Jihan, kalau malam kamu lapar langsung aja makan ya jangan kamu tahan-tahan. Apa yang kamu inginkan katakan aja. Misalnya pingin makan sate atau lontong, katakan aja biar dibeli Rehan,” ucap bu Renggo sambil melirik ke arah anaknya.
Rehan yang merasa mamanya menunjuk ke arah dia, akhirnya Rehan pun mengiyakannya.
“Iya Jihan. Kalau kamu pingin makan sesuatu, katakan aja ya biar Mas belikan,” pinta Rehan lagi.
“Iya Mas. Tapi saat ini Jihan nggak ada pingin apa-apa kok,” ucap Jihan yang merasa segan.
“Biasanya kalau orang hamil banyak loh penginnya. Jadi kalau kamu pingin sesuatu jangan ditahan ya. Kasihan nanti anak kamu,” jelas bu Renggo.
Siti yang berada di dekat mereka merasa kesal mendengarnya. Kekesalannya langsung diluapkan pada piring yang sedang disusunnya ke dalam lemari.
Sengaja dia meletakkan piring ke lemari dengan kasar membuat suara benturannya terdengar keras.
Bu Renggo langsung terkejut. “Siti, kalau kerja itu hati-hati donk...” ucap bu Renggo marah.
“Maaf Bu,” ucap Siti pelan.
Bu Renggo bisa merasakan kalau Siti sepertinya tidak suka dengan keberadaan Jihan di rumah itu. ‘Kenapa Siti sepertinya tidak suka pada Jihan. Apakah dia cemburu pada Rehan. Kalau Siti cemburu pada Jihan, berarti Siti tidak tau diri.
Mana mungkin Rehan mau sama Siti. Pasti Rehan akan lebih memilih Jihan walaupun Jihan sedang hamil anak orang lain.
Jihan selain cantik juga lembut. Aku tau sekali selera Rehan. Rehan suka pada gadis yang cantik dan lembut seperti Jihan.
Sedangkan Siti udah wajahnya nggak cantik, sifatnya juga kasar. Mana mau Rehan sama dia. Aku juga nggak setuju kalau Siti jadi menantu aku,’ batin bu Ronggo kesal.
__ADS_1