Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Kecelakaan


__ADS_3

Bu Rini yang mendapat kabar kalau Jihan sudah pulang ke rumahnya merasa senang. Dia langsung memberitahu suaminya.


“Papa, kapan kita ke rumah Jihan?” ucap bu Rini saat duduk sambil menonton TV.


“Memangnya dia sudah pulang Ma?” tanya pak Rinto.


“Sudah Pa, tadi sore ibunya Jihan memberitahu mama dan mengatakan kalau Jihan sudah pulang,” jelas bu Rini pada suaminya.


“Syukurlah kalau Jihan sudah pulang. Ya udah panggil Leo, Ma biar kita bicarakan. Kalau bisa besok sore kita sudah ke rumah Jihan untuk membicarakan masalah mereka.”


Bu Rini langsung pergi ke kamar Leo.


“Tok, Tok, Leo....” panggil mamanya dari depan pintu.


“Masuk Ma, pintu tidak dikunci.” Terdengar suara Leo dari dalam kamar.


Bu Rini langsung masuk ke dalam dan terlihat Leo sedang rebahan di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Melihat kedatangan mamanya, Leo merasa heran dan langsung bertanya.


“Ada apa Ma?” tanya Leo.


Bu Rini langsung duduk di samping Leo sambil memperhatikan putranya.


“Mama tadi sore diberitahu oleh ibunya Jihan dan Jihan katanya semalam sore udah pulang ke rumah.”


“Syukurlah kalau Jihan sudah pulang. Jadi kapan kita ke sana Ma?”


“Ya itulah yang akan mama dan papa bicarakan dengan kamu. Ayo keluar papa udah menunggu tuh...”


Leo yang merasa senang karena Jihan sudah pulang ke rumah langsung bangkit dari tempat tidurnya. Sampai di ruang tengah terlihat pak Rinto sedang duduk di sofa sambil menunggu kedatangan istri dan putranya.


“Ini Pa, Leo,” ucap bu Rini sambil duduk di samping suaminya.


Leo langsung duduk di depan kedua orang tuanya.


“Rencananya besok sore kita akan ke rumah Jihan. Kamu Leo harus mau mempertanggung jawabkan atas semua kelakuan kamu.


Karena tingkah laku kamu masa depan Jihan hancur. Kamu harus mengerti itu,” ucap pak Rinto tegas.


“Iya Pa, Leo mengaku salah.”


“Jangan hanya mengaku salah aja, tapi kamu harus bertindak.”


“Iya Pa, Leo akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan Leo.”

__ADS_1


“Meskipun kamu harus menikahinya?” tanya pak Rinto lagi.


“Benar Pa, Leo bersedia untuk menikahi Jihan.”


“Tapi kalian beda kepercayaan,” ucap bu Rini.


“Kalau masalah itu Leo sudah mengerti Ma.”


“Jadi apa yang bisa kamu lakukan Leo?” tanya mamanya lagi.


“Leo berniat untuk menikahi Jihan, Ma,” ucap Leo tegas.


“Walaupun kepercayaan kalian berbeda?” tanya bu Rini.


Leo hanya diam saja. Dia bingung karena berbeda keyakinan tidak akan bisa menikah.


“Seandainya saja masih diperbolehkan kawin sipil, mama akan mengizinkan kalian menikah. Tapi di Indonesia ini sudah tidak diperbolehkan lagi kawin sipil,” jelas bu Rini.


Leo hanya terdiam karena bingung harus menyampaikan pada mamanya. Sebenarnya dia lebih memberatkan anak yang ada dalam kandungan Jihan sehingga dia berniat untuk berpindah keyakinan.


“Mau nggak mau, Leo harus berpindah keyakinan Ma demi mendapatkan anak Leo.”


“Kamu sudah gila ya Leo,” bentak bu Rini marah.


“Leo menginginkan anak Leo, Ma.”


“Tapi tidak harus mengorbankan kepercayaan kamu.”


“Karena tidak ada jalan lain maka Leo harus berpindah keyakinan mengikuti Jihan, Ma.”


“Kamu memang benar-benar bodoh Leo. Seharusnya Jihan yang mengikuti kamu, bukan kamu yang mengikuti Jihan.”


“Tapi kalau Jihan nggak mau, nggak bisa dipaksa Ma.”


“Ya jalan satu-satunya Leo-lah yang harus mengalah.”


“Apa kamu sudah memikirkan matang-matang Leo?” tanya pak Rinto.


Leo hanya menganggukkan kepalanya.


“Pokoknya mama nggak setuju kalau sampai kamu berpindah keyakinan mengikuti Jihan. Masih banyak wanita di luar sana yang lebih dari Jihan.” Bu Rini sangat marah.


“Tapi Leo menginginkan anak Leo, Ma.”

__ADS_1


“Kalau kamu menikah dengan wanita lain yang seakidah, kamu akan memiliki anak juga.”


“Tapi gimana dengan anak Leo dari Jihan, Ma?”


Bu Rini sempat terdiam sesaat memikirkan jawaban yang tepat.


“Kalau Jihan tidak mau mengikuti kepercayaan kamu, lebih baik kamu tinggalkan aja dia. Kamu cari wanita lain yang seakidah.”


“Leo nggak bisa Ma karena Leo merasa bersalah pada Jihan. Leo telah menghancurkan masa depan Jihan.”


Bu Rini pun terdiam lagi karena apa yang dikatakan Leo memang benar.


“Leo telah melakukan kesalahan yang fatal pada Jihan dan sekarang Jihan sudah hamil. Kan nggak mungkin Leo meninggalkannya.”


“Kalau memang dia tidak mau mengikuti keyakinan kamu, lebih baik tinggalkan saja. Hanya itu aja pesan mama,” ucap bu Rini masih dengan nada marah.


Kerena suasana semakin panas akhirnya Leo pun pergi ke kamarnya.


***


Sudah jam sebelas malam tapi Leo tidak dapat memejamkan matanya juga. Dia masih kesal dengan mamanya. Tidak lama kemuddian dia memutuskan untuk pergi keluar nongkrong bersama teman-temannya.


“Kok tumben Leo, kamu keluar. Sudah lama kamu nggak pernah keluar,” ucap Sidik ketika melihat Leo bergabung dengan teman-temannya.


“Aku lagi suntuk nih...” ucap Leo langsung duduk di samping Leo.


“Memangnya ada masalah apa sih?” tanya Sidik lagi.


“Aku barusan ribut dengan mamaku.”


“Pantas saja kamu main kemari karena sudah lama kamu nggak pernah main kemari. Oh ya Leo, sebentar lagi ada lomba balap liar. Kamu mau ikut nggak?” tanya Sidik.


Leo yang sedang kesal dengan mamanya karena tidak menemukan jalan keluar terhadap masalahnya dengan Jihan, akhirnya menyetujui untuk ikutan balap liar.


***


Tepat pukul dua belas malam lomba balap liar pun dimulai. Leo terlihat sangat bersemangat untuk mengikuti lomba itu.


Dua tahun yang lalu Leo pernah ikut balap liar dan mendapat kecelakaan sehingga tangannya patah. Sejak saat itu Leo sudah jerah dan tidak mau lagi untuk mengikuti lomba balap liar. Hari ini kebetulan sedang ada masalah sehingga tanpa berpikir panjang Leo setuju untuk mengikuti lomba itu. Dalam lomba itu Leo bersaing dengan Ferdi yang juga teman SMA nya.


Saat lomba dimulai keduanya pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan berharap akan menjadi pemenang dalam lomba itu. Leo melajukan sepeda motornya dengan kecepatan maksimal. Begitu juga dengan Ferdi. Keduanya sudah tidak memikirkan keselamatannya.


Tapi baru sepuluh menit berlalu, tiba-tiba Leo yang tidak fokus karena pikirannya bercabang akhirnya menabrak pohon mahoni di pinggir jalan. Begitu sepeda motornya menghantam batang pohon yang cukup besar itu, Leo langsung terpelanting ke aspal sehingga kepalanya terbentur ke aspal. Dia langsung tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Teman-temannya yang menyaksikan kejadian itu langsung menjerit histeris melihat detik-detik Leo tercampak ke aspal yang begitu keras. Semuanya berlarian untuk melihat kejadian itu. Karena sudah larut malam sehingga hanya satu dua kendaraan yang melalui jalan itu membuat Sidik dan teman-temannya susah mencari pertolongan.


__ADS_2