Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Khawatir


__ADS_3

Setelah wajah keduanya sangat dekat Rehan tidak dapat mengendalikan nafsunya sehingga dia langsung menci*m bibir Jihan dengan lembut membuat Jihan sontak terkejut. Ingin rasanya Jihan menolakkan tubuh Rehan tapi belaian Rehan yang begitu lembut dan hangat membuat Jihan merasa tenang dan nyaman.


Bahkan dia menikmati kehangatan itu. Rehan yang sudah lama tidak mencium seorang wanita akhirnya ciumannya pada Jihan dipuaskannya.


Setelah puas di bibir kemudian ciumannya mendarat ke bagian leher membuat Jihan menggeliat kegeliat.


Rehan kelihatan sangat menikmati aktivitas itu karena sudah lama tidak dilakukan.


Bahkan saat Jihan berusaha untuk menolaknya dengan lembut, Rehan tidak memperdulikannya. Rehan tampak seperti orang yang kehausan karena sudah lama berpuasa membuat ciuman Rehan semakin panas.


Ketika ciuman itu turun ke dada Jihan mulai tersadar.


Dia langsung memberontak dan menangis membuat Rehan langsung menghentikan aktivitasnya.


“Maafkan mas ya Jihan. Mas khilaf,” ucap Rehan sambil mengancingkan kemeja Jihan.


Kemudian Rehan rebahan di samping Jihan dan berusaha menenangkan Jihan yang masih menangis.


Disandarkannya kepala Jihan ke dadanya dan Rehan kemudian mengelus rambut Jihan lembut. Dalam hati Rehan, dia bersyukur karena Jihan telah menyadarkannya sehingga aktivitasnya tidak kebablasan.


Sdangkan Jihan merasa bersalah dan berdosa karena telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukannya.


***


Bu Renggo yang khawatir dengan keadaan Jihan hampir setiap hari selalu menghubungi Rehan dan menanyakan keadaan Jihan. Seperti hari ini saat jam istirahat tiba, bu Renggo langsung menelepon .


[“Assalamualaikum Ma...”] ucap Rehan ketika menerima telepon masuk dari mamanya.


[“Waalaikumsalam Rehan. Kamu sedang di kantor ya?”] tanya bu Renggo.


[“Iya Ma. Memangnya ada apa Ma?”] tanya Rehan.


[“Mama hanya mau nanya aja. Gimana kondisi Jihan, Rehan?”]


[“Alhamdulillah Jihan baik-baik aja Ma.”]


[“Syukurlah kalau gitu. Kamu sendiri gimana, sehatkan?”]


[“Alhamdulillah Rehan sehat Ma. Mama sendiri gimana?”]


[“Mama juga sehat Rehan. Mama selalu khawatir dengan keadaan Jihan.”]


[“Mama hanya khawatir sama Jihan aja. Sama Rehan nggak khawatir.”]

__ADS_1


[“Kamu itu ya, seperti anak kecil aja.”]


Rehan langsung tertawa mendengar perkataan mamanya. Hampir setiap hari bu Renggo selalu menyempatkan diri menelpon Rehan hanya untuk menanyakan kabar Jihan.


Meskipun bu Renggo terkenal cerewet tapi pada Jihan, bu Renggo terlihat sangat sayang. Hal inilah yang membuat Rehan merasa heran.


Saat Rehan masih mempunyai istri, bu Renggo selalu ribut dengan istrinya dan terkadang membuat Rehan merasa pusing sendiri.


Selalu ada saja masalah yang membuat mereka sering ribut. Sedangkan sama Jihan, bu Renggo tidak pernah ribut. Bahkan bu Renggo sangat sayang dan perhatian pada Jihan.


‘Apa karena Jihan sedang hamil makanya mama tidak pernah ribut dengannya. Bahkan masalah pekerjaan rumah mama selalu melarang Jihan untuk melakukannya. Semua pekerjaan rumah tidak boleh dikerjakan oleh Jihan sementara saat aku masih tinggal bersama Lili,


Lili selalu disalahkan mama karena katanya malas mengerjakan pekerjaan rumah.


Bahkan kalau Lili mencuci piring, mama kurang terima dengan pekerjaan Lili dengan alasan Lili mencuci piringnya tidak bersih,’ batin Rehan heran.


Pak Saidi yang mendengar pembicaraan Rehan dengan mamanya langsung bertanya.


“Mama mas Rehan sepertinya sayang sekali pada Jihan ya,” ucap Pak Saidi yang meja kerjanya bersebelahan dengan Rehan.


“Benar Pak, saya juga heran melihatnya. Hampir setiap hari mama selalu menanyakan kondisi Jihan.”


“Mungkin mamanya mas Rehan khawatir dengan Jihan.”


“Itulah namanya seorang ibu mas Rehan.”


“Tapi Jihan bukan anak kandungnya Pak.”


“Walaupun Jihan bukan anak kandungnya, tapi melihat nasib yang diterima Jihan saat ini membuat mama mas Rehan merasa kasihan.


Apalagi mama mas Rehan sangat menginginkan seorang cucu. Makanya dia sangat sayang dan perhatian pada Jihan,” jelas pak Saidi.


“Tapi kalau Jihan nanti melahirkan, mama tetap nggak bisa memiliki anak Jihan, Pak.”


“Memang sih iya Mas Rehan. Tapi mungkin mama mas Rehan merasa puas walaupun tidak bisa memiliki anak Jihan.


Paling tidak dengan mengurus Jihan, mamanya mas Rehan merasa puas dan senang.”


“Entahlah Pak. Saya juga heran melihat sikap mama.”


Pak Saidi langsung tersenyum mendengar ucapan Rehan.


“Kalau saran saya, Mas Rehan lebih baik menikahi Jihan aja nanti setelah dia melahirkan.”

__ADS_1


“Kan nggak segampang itu Pak.”


“Maksud mas Rehan gimana?” tanya pak Saidi tidak mengerti.


“Yang lebih berhak menikahinya kan ayah dari bayi itu.”


“Tapi kalau nanti ayah bayi itu tidak jadi menikahi Jihan, ya udah mas Rehan aja nanti yang menikahi Jihan.”


“Saya belum mikir sampai ke situ Pak,” jawab Rehan.


Sebenarnya Rehan sudah merencanakan kalau nanti Jihan tidak jadi menikah dengan Leo, maka Rehan bersedia untuk menikahinya. Tapi itu hanya rencana Rehan yang belum pernah diungkapkan pada pak Saidi. Kalau nanti Leo sudah pasti tidak jadi menikahi Jihan, maka Rehan akan menceritakannya pada pak Saidi karena pak Saidi merupakan teman dekat Rehan sekaligus tempat dia curhat.


***


“Ayah, sebaiknya kita memberitahu orang tua Leo kalau Jihan sudah ditemukan ya?” tanya bu Dwi pada suaminya.


“Ayah pikir nggak perlu Bu,” jawab pak Herman.


“Kenapa nggak perlu Yah? Bukankah orang tua Leo sudah meminta kita agar memberitahu mereka kalau Jihan sudah ditemukan,” jelas bu Dwi lagi.


“Terserah Ibu aja deh. Kalau ayah pikir nggak perlu karena nggak ada juga untung dan ruginya bagi mereka,” ucap pak Herman dengan nada marah.


“Ayah nggak boleh seperti itu.”


“Ayah hanya kesal aja dengan anaknya. Kalau saja saat itu anaknya yang bernama Leo itu datang kemari, habis ayah buat.”


“Ayah banyak istighfar... Biarlah Allah yang akan membalas semua kejahatannya. Kita nggak perlu membalasnya.” Bu Dwi memberi nasehat pada suaminya.


“Gimana ayah nggak kesal Bu. Masa depan Jihan sudah hancur karena perbuatan anaknya.”


“Tapi semuanya sudah terjadi Ayah. Kita nggak perlu saling menyalahkan. Kita harus melihat ke depan. Yang lalu biarlah berlalu karena itu akan menjadi pengalaman yang berharga bagi kita. Yang perlu kita pikirkan adalah masa depan yang akan kita lalui.”


“Kalau seandainya Leo tidak mau bertanggung jawab, gimana Bu?”


“Tapi kedua orang tuanya kan sudah datang kemari dan akan bertanggung jawab.”


“Itu kan kata orang tuanya. Kalau anaknya sendiri tidak mau, gimana?”


“Ayah jangan terlalu pusing mikirkannya. Banyak aja berdo’a semoga kita diberi kesehatan dan kemudahan dalam menghadapi masalah ini.


Kalau kita ikhlas menerima musibah ini pasti Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik. Do’akan juga Jihan semoga Jihan tabah dan sabar menghadapi ujian ini.”


“Ayah selalu berdo’a untuk Jihan, Bu. Hanya saja ayah masih kesal dengan lelaki yang telah memperkosa Jihan. Ayah juga nggak yakin kalau Leo mau bertanggung jawab.”

__ADS_1


__ADS_2