
“Gimana Leo, apakah Jihan sudah ditemukan?” tanya Bobby.
“Belum Bobby. Hal itulah yang membuat aku bingung dan khawatir.”
“Apa kamu sudah tanya sama temen-temennya Jihan?” tanya Tino.
“Udah Tino, tapi tidak ada yang tau di mana keberadaan Jihan saat ini. Makanya aku bingung. Aku juga merasa bersalah pada Jihan dan juga keluarganya,” jelas Leo.
“Makanya Leo, sebelum bertindak itu harus pikir akibatnya. Kalau sudah begini, apa yang bisa kamu lakukan. Nasi sudah jadi bubur,” jelas Tino.
“Benar Tino. Aku sangat menyesal tapi apa mau dikata. Semuanya telah terjadi dan berlalu begitu cepat.”
“Itulah yang namanya hidup Leo. Makanya kita harus pintar-pintar dalam menjalani hidup ini,” ucap Bobby menenangkan Leo.
“Tapi aku dengar dari Bobby, katanya kamu mau dituntut keluarganya ke pihak yang berwajib.” ungkap Tino.
“Benar. Awalnya keluarganya tidak terima dengan kejadian yang menimpa Jihan dan rencananya akan menuntut aku ke pihak yang berwajib.
Tapi syukurnya tidak jadi karena kedua orang tua aku minta tolong pada orang tua Jihan untuk membatalkan niatnya itu,” jelas Leo.
“Jadi dibatalkan oleh orang tuanya Jihan?” tanya Tino lagi.
“Iya, makanya aku tidak jadi di penjara. Tapi aku merasa sangat bersalah. Aku merasa malu atas perbuatanku. Aku sangat menyesal pada Jihan dan keluarganya.”
“Kamu sudah pernah minta maaf dan menemui kedua orang tua Jihan?” tanya Tino.
Leo menggelengkan kepalanya. “Belum Tino. Masih kedua orang tuaku aja yang datang menemui orang tua Jihan.
Rencananya kalau Jihan sudah ditemukan, aku akan pergi ke rumahnya dan meminta maaf pada Jihan dan keluarganya,” jelas Leo.
“Hanya minta maaf?” tanya Tino lagi.
“Ya enggaklah. Selain meminta maaf, aku akan bertanggung jawab pada kehamilan Jihan.”
“Maksudnya, kamu mau menikahi Jihan?”
Leo kembali mengganggukah kepalanya.
“Gimana kalian mau nikah sementara kepercayaan kalian berbeda.”
“Itulah yang membuat aku pusing sampai saat ini.”
“Ya jalan satu-satunya dari kalian harus ada yang mengalah,” ucap Bobby.
“Benar Bobby apa yang kamu katakan. Hal itulah yang membuat aku bingung sampai saat ini karena aku kan nggak mungkin pindah kepercayaan, begitu juga dengan Jihan.
__ADS_1
Mana mungkin aku memaksakan dia untuk berpindah kepercayaan karena kepercayaan itu adalah hak kita masing-masing,” jelas Leo.
“Kalau memang seperti itu masalahnya, ya tidak ada titik temunya Leo. Kamu harus bisa menentukan pilihan.
Mempertahankan kepercayaan yang kamu anut saat ini, tapi kamu tidak akan bisa memiliki anak kamu. Atau kamu memiliki anak kamu tapi kamu harus mengorbankan kepercayaan yang kamu anut saat ini,” ucap Tino sambil memberikan pandangan.
“Benar apa yang dikatakan Tino, Leo. Kamu harus menentukan pilihan dan semua itu kamu yang memutuskannya. Kami juga tidak bisa memaksakan kehendak kamu,” ucap Bobby.
Bobby berusaha menenangkan temannya itu dengan menepuk-nepuk pundak Leo.
“Tapi untuk saat ini aku belum mikir masalah itu Bobby.”
“Kenapa Leo. Seharusnya kamu dari sekarang sudah bisa memikirkannya dan harus bisa mengambil keputusan nantinya.”
“Tapi untuk saat ini aku masih fokus mencari Jihan dulu. Nanti setelah Jihan ditemukan, aku baru bisa memutuskannya seperti apa yang kalian katakan barusan,” ucap Leo.
“Semoga saja kamu menemukan jalan keluar yang terbaik ya Leo,” ucap Bobby memberikan semangat.
“Terima kasih teman...” jawab Leo.
Setelah bertemu dengan Bobby dan Tino, Leo merasa lebih tenang. Sekarang yang dipikirkan bagaimana menemukan Jihan secepatnya.
***
Rehan langsung bangkit dari tidurnya dan hendak keluar kamar tapi baru sampai di depan pintu kamarnya terdengar suara mamanya sedang memanggilnya.
“Rehan, bangun...” panggil bu Renggo dengan nada keras.
Rehan langsung membuka pintu kamarnya dan terlihat bu Renggo sedang menangis. Melihat mamanya menangis Rehan langsung panik.
“Ada apa Ma? Kenapa mama menangis?” tanya Rehan mendekati mamanya.
“Tante Rita, Rehan...” ucap mamanya.
“Kenapa dengan tante Rita, Ma?” tanya Rehan bingung.
“Tante Rita baru saja meninggal Rehan,” ucap bu Renggo sambil menangis.
“Apa, tante Rita meninggal?” ucap Rehan seperti tidak percaya.
Bu Renggo hanya menganggukkan kepalanya.
“Innalilahi wainnailaihi roji’un...” ucap Rehan.
Tante Rita adalah sepupu mamanya yang tinggal di Pekanbaru. Sebulan yang lalu tante Rita baru saja berkunjung ke rumah Rehan. Hubungan keluarga Rehan dan keluarga tante Rita sangat dekat membuat bu Renggo merasa kehilangan.
__ADS_1
“Sekarang mama duduk dulu ya.” Rehan langsung merangkul pundak mamanya dan membawanya duduk di sofa yang ada di depan kamar.
Jihan tidak lama kemudian muncul dengan membawa segelas air putih.
“Bu, minum dulu airnya ya biar Ibu lebih tenang.” Jihan langsung memberikan gelas yang berisi air putih itu pada bu Renggo.
“Mama minum dulu ya biar lebih tenang,” ucap Rehan sambil mengelus pundak mamanya.
Kemudian bu Renggo langsung meminum air putih itu sampai habis. Setelah gelas itu kosong Jihan memintanya kembali dan langsung membawanya ke dapur.
“Jadi Mama mau pergi naik apa, mau naik pesawat atau naik mobil?” tanya Rehan.
Bu Renggo masih terdiam memikirkannya.
“Kalau mau naik mobil biar Rehan suruh pak Maman yang menyetir. Tapi Rehan nggak bisa ikut Ma karena ada tugas kantor yang harus Rehan selesaikan hari ini,” jelas Rehan.
“Kalau kamu banyak kerjaan di kantor, yang nggak apa-apa nggak ikut. Yang penting mama harus pergi,” jelas bu Renggo.
“Rehan kirim salam aja ya Ma pada keluarga tante Rita.”
“Iya Rehan. Kalau mama pergi naik mobil nanti nggak ketemu dengan jenazah tante Rita karena siang ini tante Rita akan dimakamkan.”
“Kalau memang seperti itu, Mama harus naik pesawat biar Rehan pesankan tiketnya ya.”
“Iya Rehan. Tolong pesankan tiket satu untuk mama ya,” pinta bu Renggo.
“Tapi Mama jangan pergi sendiri ya.”
“Jadi mama pergi dengan siapa. Kamu sendiri kan nggak bisa nemani mama.”
“Memang iya Ma, Rehan nggak bisa ikut. Jadi Mama pergi dengan Siti ya.”
“Pergi dengan Siti?” tanya Bu Renggo lagi.
“Iya Ma. Mama harus pergi dengan Siti.”
“Tapi mama kan bisa pergi sendiri Rehan. Mama juga nggak mau ngerepotin Siti.”
“Tapi Ma, Rehan khawatir terjadi sesuatu pada Mama kalau pergi sendiri.”
“Mama masih sehat loh, Rehan. Jadi kamu jangan terlalu khawatir.”
“Nggak Ma. Mama harus ada temannya kalau pergi jauh-jauh seperti ini.”
Akhirnya bu Renggo mengikuti saja keinginan Rehan meskipun sebenarnya bu Renggo lebih senang pergi sendiri dari pada ditemani Siti
__ADS_1