
Ketika Rehan sampai di rumah, mamanya dan Jihan sudah berpakaian rapi karena rencananya sore ini Jihan akan diantar pulang ke rumahnya. Rehan dengan perasaan sedih langsung memasukkan barang-barang Jihan ke dalam mobil.
Sejak Jihan tinggal di rumah Rehan, bu Renggo yang merasa kasihan dan sayang pada Jihan ada beberapa kali membelikan Jihan pakaian baru. Bu Renggo ada juga memberikan pakaian bekasnya sendiri yang masih bagus pada Jihan sehingga pakaian Jihan lumayan banyak.
Pakaian itu langsung disusun Jihan ke dalam tas dan dimasukkan ke bagasi mobil oleh Rehan.
Sejak tadi Rehan tidak ada bertegur sapa pada Jihan membuat Jihan merasa bersalah. ‘Kenapa mas Rehan sejak tadi tidak ada berbicara sedikit pun sama aku. Apakah dia marah karena tadi malam aku tidak menjawab pertanyaannya.
Aku bingung harus menjawab apa, makanya aku hanya diam saja,’ batin Jihan dalam hati.
“Sudah bisa berangkat sekarang Ma?” tanya Rehan pada mamanya.
“Sudah Rehan, mama dan Jihan sudah selesai dari tadi. Ayo Jihan kita langsung naik ke mobil.”
Bu Renggo langsung menggandeng lengan Jihan untuk masuk ke mobil. Siti dan Shinta langsung muncul di hadapan mereka.
“Hati-hati ya mbak Jihan...” ucap Shinta sambil menyalam tangan Jihan.
Begitu juga dengan Siti. Dia langsung mendekati Jihan dan ketika sudah dekat, Siti yang selama ini merasa bersalah pada Jihan langsung memeluk Jihan.
“Maafkan kakak ya Jihan, kakak banyak salah sama kamu.”
“Sama-sama Kak, Siti juga minta maaf mungkin selama ini telah banyak salah dan sering membuat kak Siti kesal. Untuk itu maafkan Jihan ya Kak...”
“Iya Jihan. Nanti jangan lupa sering main kemari ya,” pinta Siti ramah.
Jihan hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Setelah Jihan dan bu Renggo masuk ke dalam mobil, Rehan langsung melajukan mobilnya. Bu Renggo yang sejak tadi memperhatikan Rehan tidak ada berbicara sedikit pun langsung bertanya pada putranya.
“Kamu kenapa Rehan, apa kamu sakit?” tanya bu Renggo khawatir.
“Nggak apa-apa Ma, Rehan sehat kok. Memangnya kenapa Ma?” tanya Rehan sambil menoleh ke belakang.
Kebetulan bu Renggo duduk di belakang Rehan sedangkan Jihan duduk di samping Rehan.
“Mama perhatikan sejak tadi kamu diam aja. Mama pikir kamu sakit,” tanya bu Renggo.
__ADS_1
“Nggak kok Ma, Rehan sehat-sehat aja,” jawab Rehan tetap fokus pandangan ke depan.
“Atau kamu sedang ada masalah di kantor?” tanya mamanya lagi.
“Nggak juga Ma.”
Mendengar ucapan Rehan, bu Renggo merasa penasaran. Kemudian sambil tersenyum bu Renggo berkata lagi pada Rehan.
“Pasti kamu sedang memikirkan Jihan kan?” tanya bu Renggo sambil melirik Jihan yang ada di depannya.
“Mama sok tahu...”
“Habis kalau tidak memikirkan kerjaan pasti kamu sedang memikirkan Jihan kan?”
“Ngapain juga Rehan mikirkan Jihan, sedangkan Jihan aja nggak pernah memikirkan perasaan Rehan.”
Ucapan Rehan membuat Jihan merasa bersalah. ‘Kenapa mas Rehan bisa berkata seperti itu. Pasti mas Rehan tersinggung dan sakit hati karena perkataannya tadi malam tidak bisa aku jawab.
Tapi aku harus jawab apa. Kalau aku menjawab bahwa aku mencintainya, tetapi tidak mau menikah dengannya pasti dia akan lebih kecewa dan sakit hati. Lebih baik aku diam aja walaupun sebenarnya aku sangat mencintainya.’
Setelah hampir setengah jam perjalanan mobil pun sampai di halaman rumah Jihan. Rumah itu tampak sunyi seperti tidak ada penghuninya.
Jihan yang sudah kangen pada kedua orang tuanya langsung buru-buru turun dari mobil sehingga ketika akan melangkahkan kakinya ke teras rumah dia hampir terjatuh karena kakinya menendang pot bunga yang ada di dekatnya.
Rehan yang berjalan di belakangnya langsung menangkap tubuh Jihan. Dari dalam rumah kedua orang tua Jihan melihat kejadian itu dan langsung berlari untuk melihat kondisi anaknya.
Syukurnya Jihan tidak terluka hanya saja kakinya terkilir sehingga susah untuk berjalan.
Melihat Jihan susah berjalan Rehan langsung mengangkat tubuh Jihan membuat Jihan langsung terkejut.
“Mas, apaan sih...” bisik Jihan saat berada dalam gendongan Rehan.
Rehan tidak menjawab tapi dia langsung masuk ke dalam. Sampai di dalam Jihan langsung direbahkan di sofa yang ada di ruang tamu. Bu Dwi tampak khawatir melihat kondisi putrinya. Dia langsung memeluk putrinya sambil menangis.
“Kamu nggak apa-apa kan Jihan?” tanya bu Dwi.
“Nggak apa-apa Bu. Mungkin Jihan hanya terkilir aja.”
__ADS_1
Pak Herman juga tampak panik melihat putrinya dibopong Rehan masuk ke dalam. Dia berpikir kalau anaknya kondisinya parah.
“Kamu baik-baik aja kan Jihan?” tanya pak Herman khawatir.
“Jihan nggak apa-apa Yah.”
Setelah dipastikan Jihan tidak apa-apa, bu Dwi yang baru menyadari kedatangan bu Renggo kemudian menyalam bu Renggo dan Rehan. Pak Herman dan bu Dewi mengucapkan banyak terima kasih pada bu Renggo dan Rehan karena telah menolong Jihan.
“Maafkan kami sebelumnya ya Bu karena telah membuat mas Rehan dan Ibu repot harus mengurus dan merawat Jihan,” ucap pak Herman.
“Sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat manusia untuk saling tolong menolong Pak. Mungkin saat ini kami menolong Jihan, dan mudah-mudahan nanti ketika kami membutuhkan pertolongan ada orang yang mau menolong kami.”
“Kami sebenarnya malu pada Ibu karena masalah Jihan,” ucap bu Dwi.
“Kenapa Ibu harus malu. Semua ini kan bukan kemauan Jihan. Jihan hanya sebagai korban saja.”
“Tapi ayahnya yang merasa malu langsung mengusirnya pada saat itu,” jelas bu Dwi membuat Pak Herman hanya menundukkan kepalanya.
“Mungkin ayahnya Jihan sedang emosi Bu, jadi wajar saja kalau orang sedang emosi pasti tidak memikirkan akibatnya,” ucap bu Renggo.
“Benar Bu..” jawab bu Dwi sambil melirik suaminya.”
“Tapi saya menyesal Bu karena tidak berpikir panjang,” ucap Pak Herman.
“Sekarang yang harus kita pikirkan masa depan Jihan, Pak Bu.” Bu Renggo berusaha memberi nasehat pada kedua orang tua Jihan.
“Benar Bu. Orang tua pria yang memperkosa Jihan sudah datang dan berjanji akan bertanggung jawab terhadap masalah ini,” jelas bu Dwi.
“Syukurlah kalau mereka mau bertanggung jawab. Tapi yang sekarang jadi masalah antara Jihan dan Leo, mereka berdua berbeda keyakinan,” ucap bu Renggo lagi.
“Hal itulah yang membuat kami bingung Bu. Memang mereka berjanji akan bertanggung jawab tetapi apakah Leo mau berpindah keyakinan? Kami khawatir kalau Leo nantinya tidak mau berpindah keyakinan mengikuti Jihan,” ucap bu Dwi dengan nada ragu.
“Jadi Ibu dan Bapak harus tegas. Jangan karena mengharapkan status dari cucu Bapak Ibu, Jihan harus berpindah keyakinan.”
“Mudah-mudahan hal itu nggak akan pernah terjadi Bu,” ucap bu Dwi lagi.
“Syukurlah kalau memang seperti itu. Apa pun bisa kita korbankan kecuali akidah jangan sampai tergadai hanya karena ingin mendapatkan status,” ucap bu Renggo lagi.
__ADS_1