Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Masuk RS


__ADS_3

Jihan ditemani oleh bu Ratna dan bu Nisa pergi ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Jihan hanya bisa menangis menyesali atas kejadian ini. Walaupun dia sebagai korban dalam masalah ini tetapi dia menyesal.


Masalah ini terjadi karena dia membohongi ibunya dengan alasan ingin nginap di rumah Rani,


Apalagi saat ini ibunya masuk rumah sakit tentu membuat Jihan semakin merasa bersalah.


Melihat Jihan menangis saja bu Ratna dan bu Nisa pun menenangkannya.


“Kamu yang sabar ya Jihan, semoga ibu kamu tidak apa-apa.”


“Terima kasih Bu,” jawab Jihan.


“Kamu banyak berdoa ya, semoga ibu kamu baik-baik saja,” ucap bu Nisa.


“Terima kasih juga Bu,” jawab Jihan lagi.


Bu Ratna dan bu Nisa berusaha menenangkan Jihan. Mereka menunggu di depan ruang UGD.


Perasaan Jihan sangat sedih melihat kondisi ibu seperti itu.


“Kenapa ibu bisa seperti ini Jihan? Gimana awal terjadinya?” tanya bu Ratna.


“Iya Jihan, apakah ibu kamu punya penyakit darah tinggi?” tanya bu Nisa.


“Ibu memang punya penyakit darah tinggi Bu. Mungkin karena tensinya naik makanya seperti ini,” ucap Jihan.


“Udah pasti itu, karena tensinya naik makanya bisa pingsan seperti itu,” tambah bu Ratna.


“Mudah-mudahan saja tidak stroke ya,” ucap bu Nisa khawatir.


Mendengar kata stroke Jihan langsung lemas.


Jihan sangat takut kalau ibunya mengalami stroke seperti yang dikatakan bu Nisa.


Tidak lama kemudian seorang perawat keluar dari ruang UGD memanggil keluarga Jihan. Karena ayah Jihan belum tiba di rumah sakit sehingga Jihan ditemani masuk oleh bu Ratna.

__ADS_1


“Gimana keadaan ibu saya Dokter? tanya Jihan khawatir.


“Iya Dokter, gimana keadaan bu Dwi?” tanya bu Ratna lagi.


“Alhamdulillah ibu kamu sudah sadarkan diri. Hanya saja ibu kamu mengalami stroke ringan membuat tangan kirinya sulit untuk digerakkan karena tidak ada tenaga,” jelas dokter.


“Apa Dokter, ibu saya stroke?”


tanya Jihan seperti tidak percaya.


“Iya benar, ibu kamu mengalami stroke,” jelas dokter.


“Apa bisa sembuh total Dok?” tanya Jihan lagi.


“Biasanya kalau stroke ringan bisa sembuh total, yang penting harus rajin terapi. Tapi kalau tidak pernah terapi maka penyakitnya akan semakin parah. Maka dari itu saya sarankan agar ibunya Adik kalau sudah keluar dari rumah sakit ini harus rajin terapi ya biar segera sembuh total seperti semula,” pinta dokter muda itu.


“Iya Dokter, terima kasih ya Dok atas informasinya,” jawab Jihan dan bu Ratna bersamaan.


Sambil menunggu kedatangan ayahnya Jihan, bu Dwi masih ditempatkan di ruang UGD.


Tapi Jihan percaya diri saja kalau seandainya ibunya marah maka dia sudah siap untuk menerima kemarahan itu.


Begitu sudah dekat dengan bu Dwi, Jihan langsung menangis dan memeluk ibunya.


“Maafkan Jihan, Bu.” Jihan langsung memegang tangan ibunya.


“Kamu jangan khawatir, karena ibu nggak apa-apa,” ucap bu Dwi.


“Gimana keadaan bu Dwi sekarang? Apa yang Ibu rasakan?” tanya bu Ratna dan bu Nisa.


“Alhamdulillah, saya udah mendingan Bu. Hanya badan saya aja yang masih lemas dan kata dokter saya harus rajin terapi. Tangan kiri saya sangat lemah sulit untuk digerakkan,” jelas bu Dwi.


“Syukurlah kalau sekarang Ibu sudah mendingan. Oh ya, terima kasih ya Bu atas bantuan bu Ratna dan bu Nisa karena sudah mengantarkan saya ke rumah sakit. Semoga Allah yang akan membalas kebaikan kalian.”


“Aamiin... Sudah menjadi kewajiban kami Bu membantu sesama yang saling membutuhkan. Nanti suatu saat Ibu juga akan membantu kami juga,” jawab bu Nisa dan bu Ratna.


“Yang terpenting sekarang ini, Ibu sehat,” ucap bu Ratna memberikan semangat pada bu Dwi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pak Herman pun sampai di rumah sakit. Terlihat wajah pak Herman tampak khawatir melihat istrinya yang terbaring lemah di tempat tidur.


“Gimana keadaan kamu, Bu?” tanya pak Herman begitu berada di dekat istrinya.


“Alhamdulillah ibu nggak apa-apa Yah, hanya tangan kiri ibu aja yang susah digerakkan,” jawab bu Dwi.


“Maksud Ibu apa?” tanya pak Herman tidak mengerti.


“Bu Dwi menderita stroke ringan Pak,” jelas bu Nisa.


“Stroke ringan?” tanya pak Herman lagi.


“Benar Pak dan kata dokter kalau bu Dwi rajin terapi akan segera sembuh,” jelas bu Ratna.


Jihan yang sejak tadi berada di samping ibunya hanya diam saja. Selain merasa bersalah dia juga merasa takut pada ayahnya. Ayahnya pasti akan marah sekali kalau nanti ibunya menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.


“Oh ya bu Dwi, pak Herman... kalau gitu kami pamit dulu ya,” ucap bu Ratna.


“Semoga bu Dwi cepat sembuh ya,” ucap bu Nisa.


Kemudian bu Ratna dan bu Nisa pun pamit pulang sedangkan Jihan masih tinggal di rumah sakit bersama kedua orang tuanya. Jihan serasa tidak mau beranjak dari sisi ibunya. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya. Ibunya bisa sakit seperti ini karena mendengar kalau Jihan sedang hamil sehingga Jihan merasa sangat bersalah dan berdosa pada ibunya.


Setelah bu Ratna dan bu Nisa pamit pulang, pak Herman duduk di samping istrinya sedangkan Jihan duduk di sofa sambil menonton TV. Walaupun siaran di TV cukup menarik tetapi sedikit pun Jihan tidak fokus pada acara di TV. Pikirannya melayang entah ke mana. Dia membayangkan kalau nantinya ayahnya mengetahui hal ini pasti akan mengusirnya sehingga Jihan sudah berpikir akan pergi kemana seandainya ayahnya mengusirnya dari rumah.


Jihan tau bagaimana sifat ayahnya. Kalau sudah emosi susah untuk diredakan.


“Kenapa Ibu bisa seperti ini?” tanya pak Herman sambil memegang tangan istrinya.


“Namanya juga musibah Yah, jadi kita nggak tau kapan datangnya,” jawab bu Dwi.


“Iya, kalau itu ayah tau. Tapi awalnya gimana kok bisa Ibu seperti ini?” tanya pak Herman lagi.


Bu Dwi terdiam sesaat memikirkan jawaban apa yang harus disampaikan pada suaminya. Kalau dia berkata jujur, dia khawatir kalau nanti suaminya akan marah besar karena bu Dwi nggak sampai hati melihat Jihan dimarahi ayahnya. Tapi kalau tidak diceritakan semuanya pada suaminya, suatu saat suaminya pasti akan marah karena kehamilan Jihan tidak bisa disembunyikan.


“Kenapa Bu, kok diam aja?” tanya pak Herman lagi.


Jihan yang mendengar pertanyaan ayahnya mulai tidak tenang. Jantungnya berdetak kencang. Dia sangat takut karena ayahnya pasti akan marah. Kemudian bu Dwi melihat ke arah Jihan dan terlihat Jihan seperti ketakutan membuat bu Dwi ingin mengurungkan niatnya untuk menceritakan pada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2