Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Singgah


__ADS_3

Setelah sampai parkiran keduanya pun mengambil kendaraannya masing-masing dan menuju ke rumah orang tua Jihan.


Setelah hampir setengah jam perjalanan keduanya pun sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat indah dengan ditumbuhi bunga mawar yang ada di halaman rumah. Bunga mawar yang berwarna-warni itu menambah keindahan suasana tempat tinggal Jihan.


Rumah itu berwarna coklat muda dan berpagar besi berwarna hitam. Sampai di depan rumah Jihan, gerbang rumahnya sedang terbuka sehingga Rehan dan pak Saidi bisa langsung masuk ke halaman rumah itu.


Kemudian Rehan dan pak Saidi memarkirkan sepeda motor mereka tepat di bawah pohon rambutan yang ada di depan rumah itu. Setelah itu keduanya pun memasuki teras rumah.


Suasananya sangat sunyi dan tidak ada satu orang pun yang kelihatan. Di samping kanan kiri rumah Jihan ada juga rumah yang juga kelihatan sunyi dan tidak ada satu orang pun yang kelihatan di sana.


Rehan dan pak Saidi sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah benar rumah yang mereka datangi adalah rumah Jihan. Tapi karena tidak terlihat satu orang pun di sekitar rumah itu, akhirnya Rehan langsung masuk ke teras rumah dan mengetuk pintunya.


“Assalamualaikum...” ucap Rehan sambil mengetuk pintu rumah itu.


Karena tidak terdengar sahutan dari dalam akhirnya Rehan mengetuk pintu itu lagi. Ketukan yang kedua kalinya juga tidak ada sahutan membuat Rehan dan pak Saidi saling pandang-pandangan.


“Jangan-jangan ini bukan rumahnya Jihan, Mas,” ucap pak Saidi.


“Tapi berdasarkan alamat yang saya dapat dari Dino, ini bener alamat rumah Jihan, Pak,” jelas Rehan.


“Coba ketuk sekali lagi Mas,” pinta pak Saidi yang berdiri di belakang Rehan.


Saat Rehan mengangkat tangannya dan akan mengetuk pintu itu tiba-tiba terdengar suara sahutan dari dalam.


“Waalaikumsalam....” Terdengar suara sautan dari seorang wanita yang merupakan ibunya Jihan.


Pintu terbuka bu Dwi merasa terkejut dengan kedatangan dua orang pria yang tidak dikenalnya. Dia langsung memperhatikan kedua pria itu. Sedangkan Rehan langsung tersenyum pada bu Dwi.


“Maaf kalau mengganggu waktunya Bu. Apa benar ini rumahnya Jihan, Bu?” tanya Rehan.


Mendengar kata Jihan, bu Dwi seperti tidak percaya.


“Iya benar. Mas dan Bapak ini siapa ya kalau Boleh saya tau,” ucap bu Dwi.

__ADS_1


“Perkenalkan saya Rehan, Bu,” ucap Rehan sambil menyodorkan tangan kananya.


Setelah Rehan selesai bersalaman, kemudian pak Saidi maju dan menyelam bu Dwi lagi.


“Saya Saidi teman kantornya mas Rehan, Bu.”


Bu Dwi masih terdiam sepertinya dia masih bingung dengan kedatangan Rehan dan pak Saidi. Karena bu Dwi tidak mempersilakan Rehan dan pak Saidi masuk ke dalam karena masih bingung akhirnya Rehan berkata.


“Bisa kita duduk sebentar Bu karena ada yang akan kami sampaikan berhubungan dengan anak Ibu, Jihan.”


Mendengar kata Jihan, jantung bu Dwi berdetak kencang. Bu Dwi juga sudah tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan kedua pria itu.


“Memangnya Mas kenal dengan Jihan?” tanya bu Dwi seperti tidak percaya.


Rehan langsung menganggukkan kepalanya.


“Ayo Mas, Pak silakan masuk.”


Bu Dwi buru-buru langsung masuk ke dalam diikuti oleh Rehan dan pak Saidi. Kemudian bu Dwi memanggil suaminya.


Setelah Rehan dan pak Saidi duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu, kemudian pak Herman pun muncul. Pak Herman langsung menyalam Rehan dan pak Saidi dan duduk di hadapan kedua tamunya itu.


Setelah diam beberapa saat kemudian Rehan membuka percakapan di antara mereka.


“Begini Pak, Bu,” ucap Rehan sambil melihat ke arah pak Herman dan bu Dwi.


Bu Dwi sepertinya tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan Rehan.


“Mas ini kenal dengan Jihan?” tanya bu Dwi penasaran.


“Benar Bu, saya kenal dengan Jihan. Maksud dan tujuan kami kemari ingin memberitau Bapak dan Ibu bahwa Jihan anak ibu sekarang berada di rumah saya,” jelas Rehan.


“Apa, dia sudah ditemukan?” tanya pak Herman seperti tidak percaya.

__ADS_1


Bu Dwi yang mendengar ucapan Rehan langsung menangis terharu. Dia tidak menyangka kalau Jihan akan ditemukan karena sudah beberapa hari ini bu Dwi dan pak Herman sudah mencarinya kemana-mana tapi Jihan tidak kunjung ditemukan juga.


“Benar Pak. Beberapa hari yang lalu saat pulang kantor saya menemukan Jihan pingsan di dekat masjid di dekat komplek perumahan Sari Mutiara.”


“Gimana keadaan Jihan saat ini Mas?” tanya bu Dwi penasaran.


“Alhamdulillah sekarang Jihan dalam keadaan sehat,” jelas Rehan lagi.


“Alhamdulillah...” ucap bu Dwi dan pak Herman bersamaan.


Kemudian Rehan melanjutkan ceritanya lagi.


“Saat itu tidak ada seorang pun yang berada di tempat itu sehingga Jihan langsung saya naikkan ke mobil dan saya bawa pulang ke rumah. Sampai di rumah setelah sadar Jihan dirawat oleh mama saya. Rencananya setelah dia sehat betul akan kami antar pulang kemari tapi Jihan menolak. Dia tidak mau pulang untuk saat ini.”


“Kenapa dia nggak mau pulang Mas? Kami sangat khawatir Mas,” ucap bu Dwi sambil menangis.


“Benar Mas. Kami khawatir sekali pada putri kami. Saya juga menyesal karena telah mengusirnya dari rumah,” jelas pak Herman yang merasa bersalah.


“Bapak dan Ibu nggak perlu khawatir ya karena Jihan sehat,” jelas pak Saidi walaupun pak Saidi tidak pernah melihat Jihan langsung.


Tapi dari penjelasan Rehan, pak Saidi mengetahui kalau Jihan dalam keadaan sehat.


“Tapi saya ingin melihat anak saya Pak. Saya kangen sekali pada Jihan,” ucap bu Dwi.


“Kami maklum dengan perasaan Bapak dan Ibu. Tapi demi kesehatan Jihan kami harap Ibu bisa menerima keputusan Jihan untuk tidak menemuinya dalam sebulan ini sampai dia benar-benar siap untuk bertemu dengan Ibu,” jelas pak Saidi.


“Benar apa yang dikatakan Bapak ini Bu. Ibu Jangan memaksakan kehendak Ibu sendiri. Ibu juga harus memikirkan bagaimana kondisi Jihan saat ini. Kalau kata mas Rehan saat ini kondisi Jihan sudah lebih baik dari sebelumnya maka Ibu harus mendengarkan saran mas Rehan dan pak Saidi,” jelas pak Herman.


Mendengar perkataan suaminya bu Dwi langsung marah.


“Ayah bisa berbicara seperti itu karena Ayah tidak pernah merasakan apa yang ibu rasakan saat ini. Hampir setiap malam ibu nggak bisa tidur nyenyak karena selalu memikirkan Jihan.”


“Tapi Bu, saat ini kan kita sudah tau keadaan Jihan dari mas Rehan bahwa Jihan saat ini baik-baik aja. Jadi Ibu jangan terlalu mengkhawatirkannya,” ucap pak Herman lagi.

__ADS_1


“Iya Bu. Ibu jangan terlalu khawatir ya pada Jihan. Jihan saat ini aman dan sehat. Kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Demi menjaga perkembangan psikis Jihan, lebih baik untuk sementara waktu Ibu dan Bapak tidak usah ketemu Jihan dulu. Nanti kalau dia sudah siap untuk ketemu dengan Bapak dan Ibu, pasti akan kami antar pulang kemari,” jelas Rehan.


__ADS_2