
Saat Rehan sampai di rumah terlihat Jihan sedang mencuci wajan bekas memasak. Rehan yang melihatnya langsung melarangnya karena takut kalau Jihan akan muntah mencium bau amis.
“Jihan, biar mas aja nanti yang mencuci wajan itu.” Jihan langsung menoleh ke belakang dan ternyata Rehan baru pulang dari kantor.
“Nggak apa-apa Mas. Mas udah pulang?” tanya Jihan mengalihkan pembicaraan.
Rehan tidak menjawab pertanyaan Jihan, dia hanya memandang Jihan yang masih tetap melanjutkan mencuci wajan tersebut.
“Nanti kamu muntah loh...” ucap Rehan khawatir.
“Nggak loh Mas. Wajan ini kan nggak bau amis karena baru digunakan untuk memasak sayur.”
Melihat Jihan tetap mencuci wajan itu, Rehan langsung mendekatinya dan memeluk pinggang Jihan dari belakang.
Jihan langsung terkejut ketika tangan kekar Rehan memegang pinggangnya.
“Mas Rehan apa-apaan sih...” ucap Jihan yang merasa malu.
“Kan tadi udah Mas katakan jangan mencuci wajan itu. Biar Mas aja yang cuci.”
“Tapi tanggung loh Mas,” jawab Jihan masih tetap mencuci wajan itu.
Rehan yang merasa kesal karena ucapannya tidak ditanggapi akkhirnya mempererat pelukannya dan melabuhkan wajahnya di pundak Jihan.
“Mas...” ucap Jihan sambil menggeliat kegelian karena kumis Rehan menyentuh telinganya.
“Kalau tidak kamu hentikan juga, maka kamu akan menerima akibatnya,” ucap Rehan tegas membuat Jihan buru-buru mencuci tangannya.
Setelah tangannya bersih dari sunlight kemudian dia mengeringkannya dengan kain yang ada di atas shower.
“Sudah Mas, sekarang lepaskan...” Jihan berusaha melepaskan tangan Rehan yang masih melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Sambil tersenyum puas Rehan melepaskan tangannya. Tapi sebelumnya dia sempat mencium pipi Jihan membuat Jihan merasa malu dan wajahnya langsung merah padam.
Kemudian Rehan membalikkan tubuh Jihan sehingga mereka saling berhadapan. Tampak jelas wajah Jihan merah padam karena malu. Jihan hanya menundukkan kepalanya saat keduanya sudah saling berhadapan. Sedikit pun dia tidak berani menatap wajah Rehan membuat Rehan semakin gemas melihatnya.
“Sekarang kamu duduk manis di depan TV ya. Mas mau mandi dulu.”
Setelah mengucapkan kata itu, Rehan langsung pergi meninggalkan Jihan. Begitu Rehan pergi dari hadapan Jihan, Jihan langsung memegang dadanya yang masih berdetak kencang. Dia kemudian menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
Setelah dirasakan jantungnya sudah normal kembali, Jihan kemudian pergi ke ruang keluarga untuk menonton TV.
***
Setelah hampir lima belas menit terlalu Rehan pun keluar dari kamarnya dan duduk di samping. Jihan yang melihat Rehan duduknya sangat dekat bahkan saling bersentuhan langsung menggeser duduknya supaya tidak saling bersentuhan.
Melihat Jihan yang menggeser duduknya Rehan merasa geli sendiri. Dia langsung tersenyum melihat sikap Jihan yang ketakutan. Kemudian Rehan langsung memasang aksinya. Dipeluknya pundak Jihan dari belakang membuat Jihan semakin takut. Kemudian Jihan berusaha melepaskan tangan Rehan yang memegang pundaknya tetapi Rehan bukan melepaskannya sebaliknya Rehan langsung menggenggam tangan Jihan erat.
“Mas, lepaskan...” ucap Jihan.
“Bukan Mas,” ucap Jihan lagi.
“Lalu, kalau nggak takut kenapa kamu minta dilepas?” tanya Rehan penasaran.
“Nggak enak Mas nanti ada yang melihat kita.”
“Memangnya siapa yang akan melihat kita. Di rumah ini kan hanya ada kita berdua,” jelas Rehan lagi.
“Tapi Mas, Jihan merasa nggak enak aja. Kita kan tidak ada hubungan apa-apa,” ucap Jihan ragu.
“Tapi nanti kan kita pasti punya hubungan yang spesial.”
“Maksud Mas apa?” tanya Jihan.
__ADS_1
“Kalau kamu tidak jadi menikah dengan ayah dari bayi yang kamu kandung, maka mas yang akan menikahi kamu,” bisik Rehan di telinga Jihan.
Jihan merasa terkejut mendengar pengakuan Rehan yang begitu tiba-tiba. Jihan seperti tidak percaya mendengar pengakuan Rehan. ‘Apa mungkin mas Rehan mau sama aku, sementara aku sedang mengandung anak orang lain.
Tapi kalau dilihat dari sikap mas Rehan selama ini sepertinya mas Rehan benar-benar serius dan mau sama aku. Tapi aku tidak boleh terlalu percaya diri seperti ini. Bisa saja mas Rehan bersikap baik sama aku karena dia menganggap aku sebagai adiknya yang harus disayangi dan dilindunginya,’ batin Jihan dalam hati.
Setelah tidak mendapat jawaban dari Jihan kemudian Rehan bertanya lagi.
“Apa kamu nggak mau kalau mas nikahi nanti?” tanya Rehan lagi.
Jihan hanya menundukkan kepalanya karena dia bingung harus menjawab apa. Yang pasti jawabannya antara iya atau pun tidak.
Rehan yang merasa tidak puas karena tidak mendengar jawaban dari Jihan, akhirnya menoleh ke arah Jihan dan langsung memegang kedua pundak Jihan.
“Sekarang kamu tatap mata mas,” ucap Rehan memberikan perintah kepada Jihan.
Kemudian Jihan mengikuti kemauan Rehan. Dia langsung menatap mata Rehan sehingga kedua manik bola maka mereka saling beradu. Tatapan Rehan pada Jihan begitu dalam sampai menusuk ke jantung membuat jantung Jihan berdebar-debar. Ada perasaan malu yang menyelimuti pikirannya ketika saling bertatapan dengan Rehan. Belakangan ini Jihan merasakan perasaan yang berbeda ketika berdekatan dengan Rehan, padahal sebelumnya Jihan tidak merasakan apa-apa karena perasaan Jihan pada Rehan hanya sebatas adik terhadap abangnya.
Tapi entah sejak kapan benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya membuat dia merasa nyaman ketika berdekatan dengan Rehan.
Perkataan Rehan barusan juga telah membuat Jihan merasa sangat bahagia. Tapi Jihan belum sepenuhnya percaya pada Rehan.
Jihan juga masih merasa takut untuk dekat dengan pria lain karena statusnya yang akan mempunyai seorang anak. Jihan masih takut kalau dia menikah dengan pria yang bukan ayat biologis anaknya maka dia khawatir kalau pria itu tidak akan menyayangi anaknya karena bukan darah dagingnya. Hal itulah yang menjadi pertimbangan Jihan sehingga dia tidak berani untuk menjawab permintaan Rehan.
Begitu juga dengan Rehan merasakan perasaan yang sama ketika berdekatan dengan Jihan. Rehan yang sempat frustasi karena bercerai dan belum bisa untuk move on dari istrinya tapi begitu ketemu Jihan, benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Semakin hari perasaan cinta itu semakin besar membuat Rehan merasa kangen ketika tidak melihat Jihan sedetik pun.
Rehan merasa muda kembali seperti saat SMA dulu. Rasanya berbunga-bunga ketika berdekatan dengan orang yang dicintainya. Sebaliknya ketika tidak ketemu dengan orang yang dicintainya dia merasa kehilangan. Hal itulah yang dirasakan Rehan saat ini.
Ketika sedang berada di kantor ingin rasanya untuk cepat-cepat pulang agar bisa ketemu dengan Jihan. Begitu melihat wajah Jihan, Rehan langsung merasa puasa dan senang.
Semakin hari benih-benih cinta yang tumbuh di hatinya semakin tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Walaupun benih itu tidak pernah dipupuk tapi tetap tumbuh subur di dalam hati Rehan dan Jihan. Keduanya sudah saling mencintai.
__ADS_1