
“Tok... Tok, Rehan...” panggil bu Renggo dari luar.
“Sebentar Ma,” sahut Rehan dari dalam kamarnya.
Kemudian Rehan membuka pintu kamarnya dan berdiri di depan pintu sambil memperhatikan kedatangan mamanya.
“Ada apa Ma?” tanya Rehan.
“Ayo makan malam, hidangan sudah selesai disiapkan di meja makan,” ucap bu Renggo.
“Iya Ma, entar Rehan kesana,” jawab Rehan.
Setelah memanggil putranya, bu Renggo langsung pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sedangkan Rehan langsung ke ruang makan.
Sampai di ruang makan terlihat hidangan sudah tersedia lengkap, tapi tidak ada satu orang pun di sana.
Tidak lama kemudian mamanya Rehan muncul dan mengambil duduk di dekat kulkas, sedangkan Rehan duduk di depan mamanya.
Melihat Jihan belum muncul, bu Renggo langsung memanggil Siti yang kebetulan Siti ada di dapur yang bersebelahan dengan ruang makan.
“Siti, panggil Jihan...” ucap bu Renggo dari ruang makan.
“Baik Bu...” jawab Siti dari dapur.
“Biar Rehan aja yang manggil Jihan, Bu,” ucap Rehan langsung bangkit dari duduknya.
“Mungkin dia sedang menonton TV di ruang tengah Rehan,” ucap bu Renggong pada Rehan.
Kemudian Siti yang akan memanggil Jihan keluar dari dapur dan akan berjalan ke ruang tengah tapi langsung dilarang bu Renggo.
“Siti, nggak jadi biar Rehan aja yang manggil Jihan,” ucap bu Renggo saat melihat Siti keluar dari dapur.
“Baik Bu,” jawab Siti dan kembali pergi ke dapur.
Sampai di dapur Siti sempat menggerutu dalam hati. Dia sangat kesal pada majikannya dan juga Jihan.
‘Seperti tuan putri aja harus dipanggil-panggil saat mau makan. Biarin aja kenapa, nggak harus dilayani seperti raja.
Memangnya dia itu siapa sih, kenapa ibu dan pak Rehan sepertinya sangat memperhatikannya. Ibu lagi, sudah tua masih suka marah, entar stroke baru tau rasa,’ batin Siti kesal.
***
__ADS_1
Rehan langsung menuju ke ruang tengah. Terlihat Jihan sedang asyik menonton TV.
“Jihan, ayo kita makan malam,” ucap Rehan dengan nada lembut.
Jihan yang mendapat perlakuan begitu lembut dari Rehan merasa tersanjung. Selama ini Jihan merasa seperti hidup sendiri di dunia ini. Ternyata masih ada orang yang baik di dunia ini yang memperhatikannya yaitu bu Renggo dan mas Rehan.
“Iya Mas...” Jihan langsung bngkit dari duduknya dan berjalan ke ruang makan.
Di meja makan bu Renggo sedang menunggunya.
“Ayo Jihan, kita makan keburu dingin loh,” ucap bu Renggo.
“Iya Bu...” jawab Jihan sopan.
“Kamu harus makan yang banyak ya Jihan. Pikirkan bayi yang ada dalam kandungan kamu,” ucap bu Renggo memberi nasehat pada Jihan.
“Iya Bu,” jawab Jihan.
“Oh ya Jihan, tadi mas ada membelikan susu hamil buat kamu,” ucap Rehan.
“Maaf Mas, Mas nggak perlu repot-repot. Jihan jadi merasa nggak enak loh...”
“Ngak apa-apa Jihan. Mas mau kamu dan bayi kamu tetap sehat.”
“Jihan, biar Siti aja yang mengerjakannya semua. Kamu sekarang istirahat aja, sana nonton TV di ruang tengah,” ucap bu Renggo.
“Iya Bu,” jawab Jihan.
“Rehan, ajak Jihan nonton TV di ruang tengah sana biar Siti yang mengerjakan semuanya.”
Mendengarkan ucapan bu Renggo, Jihan langsung pergi ke ruang tengah disusul oleh Rehan.
Sengaja bu Renggo memberi kesempatan pada Rehan dan Jihan untuk sering ngobrol bersama karena niat bu Renggo ingin menjodohkan Rehan dengan Jihan.
Walaupun Jihan sedang hamil anak pria lain tapi bu Renggo tampak sayang dan mengharapkan bisa memiliki anaknya Jihan nantinya.
Apalagi setelah mendengarkan cerita Jihan bahwa ayah dari bayi yang ada dalam kandungnya berbeda akidah dengan Jihan membuat bu Renggo ingin menikahkan Rehan dengan Jihan. Bu Renggo tidak yakin kalau Jihan akan menikah dengan ayah bayi itu yang berbeda akidah.
Sampai di ruang tengah Jihan duduk di sofa sambil menonton TV sedangkan Rehan pergi ke ruang kerjanya.
Diraihnya tas kerjanya yang ada di atas meja. Kemudian dia mengambil kotak susu di dalam tas kerjanya itu dan membawanya ke dapur. Sampai di dapur terlihat Siti sedang mencuci piring.
__ADS_1
“Siti, nanti kamu buatkan susu Jihan ya,” ucap Rehan dan langsung memberikan kotak susu yang ada di tangannya pada Siti.
Siti yang kurang menyukai Jihan sebenanrnya malas untuk membuatkan susu itu.
Tapi dia tidak berani menolak karena yang menyuruhnya adalah majikannya juga.
“Ukurannya gimana Pak?” tanya Siti.
“Kamu lihat aja di kotak itu, kan ada takaran dan cara membuatnya,” jawab Rehan dan langsung meninggalkan Siti.
Siti yang tidak suka dengan Jihan tentu merasa kesal dan cemburu karena Rehan tampak sangat menyayangi Jihan. Bahkan untuk membuat susunya sendiri harus Jihan padahal Jihan sebenarnya bisa. Rehan tampak sangat memanjakan Jihan membuat Siti semakin kesal dan marah.
Bu Renggo yang melihat Rehan baru keluar dari dapur langsung bertanya.
“Kamu dari mana Rehan, kenapa Jihan tidak ditemani nonton. Kasihan dia nonton sendiri di ruang tengah,” jelas bu Renggo.
“Iya Ma, ini Rehan mau ke ruang tengah. Barusan Rehan menyuruh Siti membuatkan susu buat Jihan,” ucap Rehan.
“Maksud kamu susu hamil?” tanya bu Renggo.
“Iya Ma. Tadi pulang kantor Rehan singgah ke apotek untuk membeli susu ibu hamil buat Jihan supaya dia tidak lemas dan kuat.”
“Syukurlah kalau kamu pengertian. Kamu harus selalu memperhatikannya ya.
Saat ini dia sangat membutuhkan perhatian kita supaya dia tidak stress. Orang hamil tidak boleh terlalu stress karena akan mengganggu perkembangan janin yang ada di dalam kandungannya.”
“Mama jangan khawatir, Rehan akan selalu memperhatikan Jihan karena Rehan juga kasihan sama Jihan Ma.”
Kemudian Rehan pergi ke ruang tengah untuk menemani Jihan yang sedang menonton TV. Begitu melihat kedatangan Rehan, Jihan langsung menggeser duduknya agak ke pinggir supaya Rehan bisa duduk di sampingnya.
Sambil tersenyum Rehan pun duduk di samping Jihan. Keduanya tampak diam karena perhatiannya tertuju pada TV yang ada di depan mereka.
Tidak lama kemudian Siti pun muncul dengan membawa segelas susu dan menyerahkan pada pada Rehan. .
“Ini Pak susunya.”
“Letakkan aja di meja,” pinta Rehan.
Siti yang sempat melirik ke arah Rehan dan Jihan yang duduknya saling berdekatan membuat dia merasa sangat cemburu dan kesal.
Wajahnya pun langsung cemberut seperti tidak senang. Jihan yang melihat Siti memberikan segelas susu buat Rehan dipikirnya susu itu untuk Rehan sehingga Jihan tenang saja.
__ADS_1
‘Jihan semakin hari semakin manja dan mencari perhatian pak Rehan. Ingat Jihan, suatu saat pak Rehan akan meninggalkanmu dan mendekati aku,’ batin Siti percaya diri.