
Rehan yang tidak dapat tidur juga akhirnya memutuskan untuk keluar kamar mencari angin di teras depan.
Tapi saat sampai di ruang tengah dia berpapasan dengan Jihan. Jihan baru saja keluar dari ruang mushollah dan selesai menunaikan sholat tahajud.
Kebetulan di ruang tengah lampu masih padam. Sehingga cahayanya remang-remang yang berasal dari teras depan.
Keduanya sama-sama terkejut ketika bertemu. Jihan yang terkejut langsung menjerit tetapi ketika samar-samar yang dilihatnya adalah Rehan, dia langsung menutup mulutnya supaya suaranya tidak terdengar sampai ke mana-mana.
Sedangkan Rehan juga terkejut karena tiba-tiba melihat kemunculan Jihan yang tidak jelas wujudnya akibat lampu sedang padam.
“Mas....” ucap Jihan terputus.
Rehan hanya tersenyum dan langsung mendekati Jihan. Begitu sudah berada di depan Jihan, Rehan langsung meluapkan perasaannya dengan menarik tubuh Jihan dalam pelukkannya. Jihan dipeluknya sangat erat membuat Jihan merasa susah bernafas. Dadanya naik turun menahan gejolak yang ada di dalam jiwanya sekaligus menahankan rasa sesak akibat pelukan Rehan yang begitu erat.
“Mas.... lepaskan,” ucap Jihan dengan suara pelan.
Tapi Rehan tidak memperdulikannya bahkan dia semakin erat memeluk Jihan.
“Mas.... lepaskan,” ucap Jihan lagi.
Entar kalau mas sudah puas ya...” bisik Rehan di telinga Jihan.
“Mas, nanti ibu bangun loh.”
Dengan posisi masih berdiri dan memeluk Jihan, Rehan pun berbisik.
“Besok kamu sudah pulang dan mas nggak akan bisa seperti ini lagi.”
“Tapi Mas....” ucap Jihan terputus.
“Jihan, mas nggak mau kehilangan kamu.
Gimana kalau kita menikah saja, Jihan?”
“Tapi Mas...”
__ADS_1
“Apa kamu tidak mencintai mas?”
Rehan kemudian melepaskan pelukkannya dan melihat wajah Jihan.
“Sekarang tatap mata mas...”
Jihan langsung menatap bola mata Rehan. Walaupun cahayanya tidak terlalu terang, hanya cahaya lampu dari luar yang masuk, tapi Jihan dapat melihat jelas tatapan Rehan yang begitu dalam padanya.
Tatapan itu membuat jantung Jihan seperti mau copot rasanya. Tatapan mata Rehan seperti minta belas kasihan Jihan.
“Sekarang jawab pertanyaan mas, apa kamu tidak mencintai mas?”
Jihan yang merasa bingung harus menjawab apa akhirnya hanya menundukkan kepalanya.
“Mas ingin mendengar jawaban langsung dari kamu supaya mas tidak terlalu berharap banyak. Sekarang mas mau kejujuran kamu, Jihan. Jawab yang jujur meskipun akan menyakitkan hati mas. Apakah kamu mencintai mas?” tanya Rehan lagi.
Jihan yang tidak bisa menjawab akhirnya buru-buru melepaskan tangan Rehan yang sedang memegang pundaknya. Dia langsung pergi ke kamarnya tanpa menjawab sepatah katapun.
***
Sejak kejadian semalam siang ketika bu Renggo berdebat dengan Siti, Siti langsung berubah. Dia banyak diam seperti malu ketika berhadapan dengan Jihan. Sikapnya yang biasa tidak suka pada Jihan, tapi sekarang sudah berubah.
Selain banyak diam, Siti juga bersikap manis pada Jihan. Melihat perubahan sikap Siti yang begitu baik pada Jihan, bu Renggo merasa heran.
***
Setelah Rehan berangkat kantor, Siti dan Shinta sibuk membereskan dapur. Hari ini Shinta belum masuk sekolah karena masih akan didaftarkan Rehan. Rencananya siang ini Rehan akan pergi ke sekolah Shinta yang baru.
Selesai sarapan pagi Shinta langsung membantu Siti di dapur. Bu Renggo dan Jihan masih duduk di meja makan dan keduanya masih ngobrol.
***
Hari ini di kantor Rehan tidak fokus mengerjakan pekerjaannya. Bahkan ketika memeriksa laporan bulanan banyak yang bersalahan karena dia tidak fokus.
Hati dan pikirannya tertuju ke rumah memikirkan Jihan yang akan diantar pulang sore ini.
__ADS_1
Saat di kantor Rehan seperti orang bingung dan kesal. Pak Saidi yang sejak tadi memperhatikan Rehan hanya geleng-geleng kapala.
Pak Saidi langsung bertanya pada Rehan yang sedang dilanda masalah.
“Mas Rehan ada masalah apa sih?” tanya pak Saidi ketika melihat Rehan sedang mencoret-coret kertas yang ada di atas mejanya.
Mendengar pertanyaan pak Saidi, Rehan langsung bingung. Dia bingung harus menjawab apa.
“Nggak ada masalah Pak...” jawab Rehan bohong.
“Mas Rehan jangan bohong. Saya kan tau kalau mas Rehan sedang ada masalah. Sejak tadi saya perhatikan mas Rehan banyak termenung dan mencoret-coret kertas yang ada di meja itu,” jelas pak Saidi.
Akhirnya Rehan pun menyerah dan dia menceritakan semua pada pak Saidi. Dengan tekun pak Saidi mendengarkan cerita Rehan. Setelah Rehan selesai bercerita tentang perasaannya dan keinginannya untuk menikahi Jihan, pak Saidi sempat terdiam memikirkan saran yang tepat yang akan disampaikan pada Rehan yang merupakan rekan kerjanya.
“Kalau menurut saya, semuanya tergantung pada Jihan. Jihan yang bisa memutuskan mau menikah dengan siapa. Meskipun Leo mau berpindah keyakinan dan ingin menikahi Jihan, tapi kalau Jihan tidak mau maka pernikahan itu tidak akan terjadi meskipun dia sudah mengandung anaknya. Jadi Jihan nggak bisa dipaksakan harus menikah dengan Leo.
Leo juga nggak bisa memaksakan kehendaknya meskipun dia sudah berpindah keyakinan.
Jihan berhak menikah dengan orang yang dicintainya. Kalau nanti Jihan lebih memilih Leo, berarti dia tidak mencintai mas Rehan. Jadi mas Rehan harus sudah siap dengan hal itu.
Tapi yakinlah kalau Jihan benar-benar mencintai mas Rehan pasti dia akan lebih memilih mas Rehan walaupun mas Rehan bukan ayah biologis anaknya.
Jadi saran saya, supaya mas Rehan tidak frustasi lagi mas Rehan jangan terlalu pusing memikirkannya. Mas Rehan harus belajar untuk bisa mencintai dan melepaskannya karena cinta itu tidak harus memiliki.
Mas Rehan harus siap ketika Jihan nantinya lebih memilih Leo dari pada mas Rehan sendiri. Itu berarti mas Rehan tidak berjodoh dengan Jihan karena jodoh sudah ditentukan oleh Allah.
Jadi kalau mas Rehan tidak jadi menikah dengan Jihan, mas Rehan harus sudah siap dan ikhlas menerima semua ini. Kita tidak bisa memilih sesuai kemauan kita. Dan perlu mas Rehan ingat bahwa jodoh kita adalah orang yang terbaik buat kita. Kalau mas Rehan tidak jadi menikah dengan Jihan berarti Jihan bukan orang yang terbaik buat mas Rehan.
Jadi sekali lagi mas Rehan harus kuat dan sabar seandainya keinginan mas Rehan tidak dikabulkan oleh Allah,” jelas pak Saidi.
“Tapi saya rasanya nggak sanggup berpisah dengan Jihan, Pak.”
“Memang diawal sulit bagi kita untuk melupakan orang yang telah kita cintai. Apalagi ketika melihat dia menikah dengan orang lain, pasti hati kita sangat sakit.
Makanya dari sekarang mas Rehan harus belajar untuk bisa menerima semua ini. Kuncinya kita harus ikhlas menerima semua ini.”
__ADS_1
“Saya takut Pak akan mengalami masa-masa ketika saya baru bercerai dulu. Rasanya sakit dan sulit untuk bangkit lagi,” jelas Rehan.
“Makanya mas Rehan banyak belajar dari pengalaman. Kalau dulu mas Rehan merasa sangat sakit karena berpisah, jadi dari sekarang mas Rehan harus belajar untuk ikhlas supaya tidak terlalu sakit ketika berpisah.”