
“Ada apa Mas manggil saya?” tanya Jihan saat sudah di dekat Rehan.
“Kamu duduk aja dulu biar kita ngobrol.”
Mendengar permintaan Rehan, Jihan langsung duduk di sampingnya.
“Sekarang kamu minum dulu ya keburu dingin.”
Rehan langsung meraih gelas yang ada di hadapannya dan mengangkatnya. Dia langsung menyodorkan ke mulut Jihan sehingga Jihan tidak dapat menolaknya.
Seteguk demi seteguk susu itu diminumnya sampai tidak tersisa. Setelah itu Rehan meletakkan gelas yang sudah kosong itu kembali ke atas meja sedangkan Jihan langsung menutup mulutnya karena takut muntah karena dia tidak suka susu.
“Kenapa Jihan, apa kamu mau muntah?” tanya Rehan.
Jihan hanya menggelengkan kepalanya. Setelah Jihan tampak tenang Rehan langsung bertanya.
“Apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Rehan.
Mendengar pertanyaan Rehan yang membuatnya bingung, dia langsung menoleh ke arah Rehan.
“Maksud Mas apa?” tanya Jihan.
“Maksud Mas. Nanti setelah kamu sudah tenang apa yang kamu lakukan terhadap ayah dari bayi yang ada dalam kandungan kamu?”
“Entahlah Mas. Saat ini Jihan masih bingung mau minta pertanggung jawaban Leo.”
“Kenapa bingung?” tanya Rehan heran.
“Jihan nggak yakin kalau Leo mau bertanggung jawab dan menikahi Jihan.”
“Tapi Jihan, bagaimana pun dia harus bertanggung jawab terhadap bayi yang ada dalam kandungan kamu,” ucap Rehan.
“Tapi gimana Mas kalau seandainya dia mau bertanggung jawab terhadap anak ini dan mau menikahi Jihan tapi Jihan harus berpindah keyakinan dengan dia.”
“Ya kamu jangan mau.”
__ADS_1
“Itulah yang Jihan takut Mas.”
“Kalau memang kamu tidak sanggup menuruti kemauannya, ya jangan mau. Mas juga yakin, dia tidak akan memaksakan kehendaknya.”
“Berarti dia nggak jadi menikahi Jihan donk.”
“Ya memang seperti itu. Maka dari itu kamu harus sudah mempersiapkan mental kamu seandainya hal itu terjadi. Kamu juga nggak bisa memaksakan kehendak kamu agar dia mengikuti kepercayaan kamu karena namanya kepercayaan itu tidak bisa dipaksakan.”
“Memang iya Mas, makanya rencana Jihan tidak akan memaksakan kehendak Jihan pada Leo. Hanya Leo perlu mengetahui kalau Jihan telah mengandung anaknya. Itu saja Mas.”
“Kalau seandainya kamu menuntut dia masuk penjara, itu juga bisa karena itu hak kamu,” jelas Rehan.
“Tapi Jihan nggak mau menuntut dia, Mas. Biarlah Allah yang akan menghukumnya atas dosa-dosanya yang sudah diperbuat pada Jihan. Jihan sudah berjanji pada diri sendiri akan membesarkan bayi ini sendiri seandainya Leo tidak mau bertanggung jawab dalam hal ini.”
Melihat Jihan yang bersedih Rehan langsung memberikan semangat.
Dipeluknya pundak Jihan dari belakang.
“Kamu yang sabar ya Jihan. Yakinlah Allah tidak tidur. Allah akan membantu umatnya. Semua musibah yang kita hadapi pasti ada hikmahnya di balik itu. Yang penting kita harus yakin dan percaya dan kita juga tidak boleh mengeluh dengan semua yang kita alami saat ini. Terimalah cobaan ini dengan ikhlas. Mudah-mudahan Allah akan memberikan jalan yang terbaik,” nasehat Rehan.
“Kamu harus bangkit Jihan dari keterpurukan ini. Kamu jangan langsung menyerah begitu saja.”
“Tapi apa masih ada pria yang mau sama Jihan, Mas?” tanya Jihan.
“Serahkan semuanya pada Allah, Jihan. Kamu jangan pernah takut menghadapi masalah ini karena semua sudah diatur oleh Allah. Baik maut, rezeki, jodoh semuanya sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Jadi kamu jangan pernah takut ya. Dan satu lagi yang perlu mas ingatkan sama kamu. Jangan pernah korbankan akidah hanya karena untuk mendapatkan status anak kamu.
Yakinlah setelah anak kamu lahir pasti akan ada pria yang mau menikahi kamu dan memberikan status buat anak kamu sehingga anak kamu nantinya punya seorang ayah.”
Mendengar ucapan Rehan perasaan Jihan semakin tenang. Dia tidak menyangka Rehan bisa memberikan ketenangan pada batinnya. Jihan yang sempat putus asa dengan musibah yang menimpanya sekarang kembali bangkit.
Semangatnya kembali tumbuh setelah mendapatkan perhatian dan nasehat dari keluarga Rehan.
***
__ADS_1
Sudah dua minggu ini Leo tidak pernah ketemu dengan Bobby dan Tino yang merupakan teman dekatnya. Malam ini mereka bertiga berencana untuk kumpul di tempat biasa.
Tepat jam delapan malam Bobby dan Tino sudah menunggu di tempat biasa. Tapi Leo belum muncul juga membuat keda temannya itu merasa kecewa.
“Tino, coba kamu hubungi Leo kenapa sampai sekarang dia belum datang juga,” pinta Bobby pada Tino.
Kemudian Tino menghubungi Leo tapi ponselnya tidak aktif.
“Ponselnya tidak aktif Bobby,” ucap Tino yang barubsaja menghubungi Leo.
“Oh, ya. Ya udahlah kita tunggu aja.
Padahal dia yang ngajak kita ketemuan, tapi dianya belum nongol juga,” ucap Bobby sedikit kesal.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara sepeda motor Leo. Bobby dan Tino langsung menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata dugaan mereka benar bahwa yang datang barusan adalah Leo.
Begitu turun dari sepeda motornya, Leo berjalan mendekati kedua temannya itu. Bobby dan Tino merasa heran melihat penampilan Leo seperti orang yang tidak mempunyai semangat hidup. Badannya tampak lemas dan seperti tidak bersemangat.
“Kalian sudah lama di sini?” tanya Leo pada Bobby dan Tino.
“Belum terlalu lama lah,” jawab Bobby sambil memperhatikan wajah Leo yang sangat kusut.
“Kamu kenapa Leo?” tanya Bobby sambil menepuk pundak temannya itu.
Leo hanya diam saja. Tidak mendapat jawaban dari Leo, Tino kembali bertanya.
“Pasti kamu sedang ada masalah ya?” tanya Tino penuh selidik.
“Kamu kok tau,” jawab Leo.
“Penampilan kamu, raut wajah kamu tidak bisa dibohongi. Pasti kamu sedang ada masalah besar,” tanya Bobby lagi.
Sejak mereka selesai ujian akhir, ketiganya tidak pernah saling bertemu lagi karena kesibukannya masing-masing. Bobby sibuk ikut bimbel untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi negeri sedangkan Tino yang tidak mau kuliah mengikuti jejak ayahnya yaitu mengurus kebun sawit ayahnya. Sehingga belakangan ini Tino mengelola usaha ayahnya di daerah Tapanuli Selatan dan tadi sore baru pulang dari sana.
Sedangkan Leo yang tersandung masalah dengan Jihan hanya banyak diam di rumah. Rencananya akan kuliah di Jakarta akhirnya dibatalkan dan dia lebih memilih kuliah di Medan ini. Dia berencana untuk kuliah di perguruan tinggi swasta saja sehingga dia tidak mau ikut bimbel seperti Bobby. Baginya yang penting dia kuliah aja dan tidak harus kuliah di perguruan tinggi negeri karena saat ini pikirannya sedang bercabang. Yaitu memikirkan Jihan yang belum tau rimbanya saat ini. Hal itulah yang membuat Leo merasa khawatir dan merasa bersalah pada Jihan.
__ADS_1
Leo selain memikirkan Jihan yang belum pulang ke rumah, dia juga memikirkan perbedaan keyakinan antara dirinya dan Jihan.