Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Tak sanggup


__ADS_3

“Bukankah semalam Ibu katakan kalau Dinda menikah karena hamil. Berarti hamil Dinda sudah besar Bu?” tanya Jihan heran.


“Kalau hamilnya belum kelihatan, bahkan tidak terlihat kalau dia sedang hamil. Tapi itulah namanya kekuasaan Allah. Kebanyakan orang yang hamil duluan seperti itu perutnya tidak kelihatan padahal di dalamnya bayinya sudah besar.


Sama seperti yang dialami Dinda. Saat ibu melihat semalam dia menikah, perutnya biasa aja dan belum kelihatan. Ternyata tadi kata bidan yang menanganinya usia kandungan Jihan sudah tujuh bulan sehingga wujud bayinya sudah normal seperti bayi biasa.”


Jihan yang mendengar perkataan ibunya hanya bisa terdiam memikirkan nasibnya. ‘Apakah aku juga akan seperti Dinda. Walaupun nanti usia kandunganku sudah banyak tapi tidak kelihatan seperti orang hamil.


Sehingga bisa mengelabui semua orang termasuk ayah dan ibuku. Tapi aku nggak mau seperti Dinda.


Aku harus menceritakan pada ibu tentang masalah ini karena bagaimana pun ibu pasti akan tau nantinya.


Lebih baik aku menceritakan dari sekarang dari pada nanti kalau perutku sudah semakin besar.


Walaupun ayah dan ibu nantinya marah besar, aku harus siap menerima semua ini. Aku juga harus siap seandainya ayah dan ibu mengusir aku dari rumah ini. Ya Allah, bantulah aku dalam mengatasi masalah ini. Aku sangat menyesal karena telah membohongi ibu pada saat itu.


Aku mengatakan akan bermalam di rumah Rani karena kedua orang tuanya sedang pergi ke luar kota, padahal alasannya utama adalah untuk datang ke pesta ulang tahun Yuni. Sekarang aku mendapatkan karma atas kebohonganku,’ batin Jihan sedih.


Bu Dwi yang melihat sejak tadi Jihan banyak melamun langsung bertanya.


“Kamu kenapa Jihan, kok sejak tadi ibu perhatikan banyak melamun. Ya udah sekarang kamu sarapan dulu. Ibu mau menyiangi sayur dulu,” ucap bu Dwi meninggalkan Jihan.


Jihan berusaha untuk tetap tenang dan tegar walaupun kepalanya rasanya mau pecah memikirkan masalah yang sedang dihadapinya. Tidak ada tempat untuk mengadu selain hanya kepada Rani yang merupakan teman dekatnya.


Bahkan untuk bercerita kepada ibunya, Jihan masih ragu. Dia masih takut kalau ibunya akan sok berat ketika mendengar ceritanya.


Sambil melamun Jihan berusaha untuk makan walaupun nasi yang ada di mulutnya tidak dapat dirasakan pahit manisnya karena pikirannya yang sedang kacau.


‘Aku harus kuat dan tegar menghadapi ini semua. Dan untuk saat ini aku lebih baik tak usah cerita dulu pada ibu. Aku harus fokus dulu pada ujian yang akan dilakukan Senin besok.


Nanti setelah ujian selesai aku akan menceritakan semuanya. Kalau pun ayah dan ibu marah, aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada karena ini semua kesalahanku,’ batin Jihan dalam hati.


Selesai makan Jihan langsung masuk ke kamarnya. Dia duduk di meja belajarnya sambil memainkan ponselnya.


Tiba-tiba masuk pesan wa dari Rani.

__ADS_1


{Nanti aku ke rumahmu Jihan sekalian mengantarkan kartu ujian kamu.} Isi pesan wa Rani.


Sebelumnya Jihan sudah mengirim pesan pada Rani minta tolong diambilkan kartu ujiannya. Tapi Rani tidak menjawab mau atau tidak mengambilkan kartu ujian Jihan.


Sebaliknya Rani bertanya tentang hasil tespeknya tadi pagi. Jihan tidak menjawab karena sulit untuk diceritakan melalui pesan tersebut. Tentu hal ini membuat Rani semakin penasaran sehingga Rani berniat pulang dari sekolah akan langsung ke rumah Jihan.


Saat Jihan asik memainkan ponselnya tiba-tiba perutnya terasa mual lagi sehingga Jihan langsung pergi ke kamar mandi. Melihat Jihan yang setengah berlari masuk ke kamar mandi sambil menutup mulutmu bu Dwi merasa heran.


Bu Dwi langsung meninggalkan pekerjaannya dan menunggu Jihan di luar kamar mandi.


“Kamu muntah lagi Jihan?” tanya bu Dwi khawatir sambil merangkul pundak anak gadisnya.


Jihan hanya menganggukkan kepalanya.


“Kita pergi ke dokter ya?” ucap bu Dwi khawatir.


“Nggak usah Bu, paling sebentar lagi juga udah mendingan. Sekarang Jihan mau tidur dulu ya Bu,” pamit Jihan pada ibunya.


Bu Dwi hanya bisa menatap putrinya dengan perasaan khawatir.


***


“Rani, kamu yang ngambil kartu ujian Jihan?” tanya Rika.


“Iya Rika. Jihan nggak hadir ke sekolah karena sakit.”


“Jadi pulang sekolah mau kamu antar rumahnya?”


“Rencananya sih iya. Pulang sekolah ini aku mau langsung ke rumahnya.”


“Aku ikut ya, kebetulan aku juga ada keperluan dengan Jihan.”


Mendengar permintaan Rika, Rani hanya diam sesaat memikirkan jawaban yang tepat karena Rani tidak mau kalau sampai Rika juga ikut ke rumah Jihan. Rencananya Rani akan berbicara empat mata dengan Jihan tentang hasil tes tesnya jadi nggak mungkin kalau Rika diajaknya ke sana.”


“Gimana Rani. Aku ikut ya biar aku aja juga Lusi.”

__ADS_1


Dengan perasaan gugup Rani langsung berkata. “Maaf Rika, lain kali aja ya karena aku mau mampir dulu ke rumah famili aku yang rumahnya tidak jauh dari rumah Jihan,” ucap Rani berbohong.


Untuk menghindari pertanyaan Rika lebah banyak lagi, Rani langsung pergi dari hadapan Rika. Rika hanya terbengong melihat Rani meninggalkannya.


‘Kenapa Rani tidak mau kalau aku ikut ke rumah Jihan. Memangnya ada apa sih. Apa ada yang dirahasiakan Rani sehingga aku tidak boleh ikut ke rumah Jihan. Aku nggak boleh berburuk sangka pada temanku sendiri,’ batin Rika bingung.


***


Begitu sampai rumah Jihan, Rani yang merupakan teman dekatnya langsung masuk ke kamar Jihan. Rani yang merupakan teman dekat Jihan kalau datang ke rumah Jihan mereka selalu ngobrol di kamar. Begitu juga dengan hari ini saat sampai rumah Jihan, ibunya Jihan langsung mempersilahkan Rani menemui Jihan di kamarnya.


“Kamu masuk aja ke kamar Jihan, Rani. Jihannya sedang istirahat di kamar,” ucap bu Dwi ketika Rani tiba di rumah Jihan.


Rani langsung berjalan menuju kamar Jihan.


“Tok... Tok, Jihan...” panggil Rani dari depan pintu kamar Jihan.


Jihan yang malas turun dari tempat tidurnya hanya bisa menjawab. “Masuk Rani. Buka aja pintunya nggak dikunci kok,” ucap Jihan ketika mendengar suara Rani.


“Ceklek...” Rani langsung membuka pintu itu dan berjalan masuk ke dalam.


Terlihat Jihan sedang rebahan di tempat tidurnya. Rani langsung duduk di tempat tidur sambil memperhatikan wajah Jihan yang tampak pucat.


“Ini Jihan kartu kamu,” ucap Rani sambil menyodorkan kartu ujian.


Jihan langsung bangkit dari tidurnya dan memeluk Rani sambil menangis. Rani yang melihat reaksi Jihan yang begitu sedih dan takut sudah bisa menebak kalau hasil tespeknya pasti positif. Kemudian dielusnya rambut Jihan sambil berkata.


“Kamu yang sabar ya Jihan. Kalau kamu sabar menerima cobaan ini, yakinlah Allah akan membantu kamu.”


Rani berusaha menghibur Jihan supaya Jihan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


“Karena semuanya sudah terjadi, jadi apa pun hasilnya harus bisa kamu terima dengan lapang dada. Anggap aja ini semua adalah ujian dari Allah.”


“Tapi aku nggak sanggup Rani menghadapi semua ini.”


Jihan merasa sangat berat akan beban yang sedang dihadapinya.

__ADS_1


__ADS_2