
Hati Leo hancur berkeping-keping mendengar ucapan mamanya. Dia merasa sangat bersalah atas masalah ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yang tersisa hanya penyesalan yang amat dalam.
Bu Rini merasa hancur perasaannya karena Leo adalah harapan satu-satunya di keluarganya. Leo merupakan anak tunggal dan akan menjadi penerus usaha papanya.
Tapi dengan masalah yang sedang dihadapinya tidak mungkin Leo bisa meneruskan usaha papanya. Masa depannya akan hancur karena ulahnya sendiri.
Harapan bu Rini akan mengkuliahkan Leo pupus sudah. Bu Rini tidak yakin Leo bisa kuliah kalau sudah mempunyai anak dan istri. Tapi untuk meneruskan usaha papanya harus mempunyai modal pendidikan di bidang managemen.
Papanya Leo sudah menyarankan Leo agar kuliah mengambil jurusan managemen supaya nantinya bisa meneruskan usaha papanya.
Apalagi Leo anak satu-satunya yang merupakan harapan keluarganya
Usaha yang ditekuni papanya Leo adalah usaha kakek Leo yang sudah meninggal dunia.
Dulu kakeknya Leo lah yang merintis usaha ini sampai sekarang menjadi besar.
Kebetulan papanya Leo adalah anak satu-satunya sehingga dia lah yang meneruskan usaha kakeknya. Sekarang papanya Leo berencana akan menyerahkan usahanya pada Leo kalau Leo sudah mampu mengurusnya sendiri tanpa bantuan dari papanya..
Bu Rini terdiam sambil memikirkan masalah ini. Rasanya kepalanya mau pecah memikirkannya.
Anak yang selama ini didik dengan baik tapi telah mengecewakannya.
Tidak lama kemudian bu Rini yang sudah dapat mengontrol emosinya kembali berkata pada Leo.
“Apa salah mama, Leo? Kenapa kamu bisa sebejat itu. Mama nggak pernah mengajarkan kamu berperilaku yang tidak baik bahkan sampai merenggut kesucian gadis itu.
Apa kamu tidak kasihan dengan kelakuan kamu itu masa depan gadis itu hancur,” ucap bu Rini setelah tau kalau Leo telah memperk**a Jihan.
“Maafkan Leo, Ma. Leo sangat menyesal dan Leo berjanji akan bertanggung jawab,” ucap Leo.
“Percuma kamu minta maaf Leo karena semuanya sudah terjadi.
Kalau kamu mau bertanggung jawab maka nikahi gadis itu,” pinta bu Rini.
“Tapi sekarang yang jadi masalah, Jihan nggak mau Leo nikahi Ma...”
“Kenapa dia nggak mau kamu nikahi? Bukankah dia sudah hamil anak kamu, jadi kamu harus bertanggung jawab dalam hal ini.”
“Semua ini karena kami beda keyakinan Ma.”
“Jadi maksud kamu, dia ..?”
“Benar Ma.”
Bu Rini pun terdiam sesaat memikirkan perbedaan keyakinan antara Leo dan Jihan.
Perasaan bu Rini semakin kecewa karena tidak dapat menyatukan Leo dengan Jihan karena perbedaan keyakinan.
Bu Rini juga tidak berani memaksakan kehendaknya agar Jihan mempunyai keyakinan yang sama dengan anaknya. Karena masalah keyakina seseorang tidak bisa dipaksakan sama seperti antara Leo dan Jihan.
__ADS_1
Bu Rini tidak dapat melakukan sesuatu kalau sudah menyangkut keyakinan seseorang.
“Kamu benar-benar sudah gila ya Leo. Kenapa kamu nodai wanita yang mempunyai keyakinan yang berbeda. Kalau sudah begini apa yang bisa kita lakukan?” tanya bu Rini marah.
“Kalau wanita itu tidak mau menikah dengan kamu karena berbedaan keyakinan maka tidak bisa kita paksakan,” jelas mamanya.
“Tapi Ma, anak yang sedang dikandungnya adalah anak Leo jadi Jihan harus mengikut Leo,” ucap Leo.
“Keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan meskipun di dalam rahimnya ada anak kamu.
Kalian belum resmi menikah jadi kamu tidak punya hak atas anak itu. Apalagi sampai memaksa dia untuk mengikuti keyakinan kamu,” jelas bu Rini.
Mendengar ucapan mamanya, Leo hanya bisa diam saja. Sebenarnya dia ingin mendapatkan hak atas anak itu kalau Jihan tidak mau diajaknya menikah.
Tapi setelah mendengar penjelasan dari mamanya, Leo akhirnya membatalkan niatnya. Apa yang diucapkan mamanya ada benarnya bahwa dia tidak punya hak atas anak itu.
***
Selesai makan malam bu Dwi dan suaminya duduk di ruang tengah sambil menonton TV.
“Bu, Jihan mana?” tanya pak Herman pada istrinya.
“Barusan masuk ke kamarnya Yah. Memangnya ada apa Yah?” tanya bu Rini pada sauminya.
“Nggak ada. Ayah hanya mau ngobrol aja tentang jurusan yang akan diambilnya. “
“Sebenarnya dia mau ngambil jurusan apa Yah?”
“Bentar Yah, biar ibu panggilkan.”
Kemudian bu Dwi berjalan ke kamar Jihan dan mengetuk pintunya.
“Tok...Tok, Jihan...” panggil ibunya dari luar kamar.
Jihan yang merasa perutnya mual sehabis makan, kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Begitu mendengar panggilan ibunya, Jihan buru-buru bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Bu Dwi yang melihat wajah Jihan tampak pucat langsung bertanya.
“Kamu kenapa Jihan. Kenapa wajah kamu pucat?’ tanya bu Dwi sambil memegang pipi anak gadisnya.
“Jihan nggak apa-apa Bu. Ibu jangan khawatir ya?”
“Gimana ibu nggak khawatir sedangkan wajah kamu pucat.”
“Mungkin karena Jihan mual Bu.”
“Apa kamu masuk angin lagi?” tanya bu Dwi.
Jihan pun menggelengkan kepalanya.
“Ya udahlah, kalau gitu kamu istirahat sana,” pinta bu Dwi.
__ADS_1
Melihat ibunya akan keluar, Jihan langsung bertanya.
“Apa jadi Jihan kuliah di Jogjakarta Bu?” tanya Jihan.
Mendengar pertanyaan putrinya bu Dwi jadi bingung.
“Ya iya. Memangnya kenapa Jihan?” tanya ibunya heran.
Jihan langsung menggelengkan kepalanya.
“Eh... nggak apa-apa Bu,” jawabnya sambil tersenyum.
“Ya udah, sekarang kamu istirahat ya,”
Kemudian bu Dwi kembali duduk bersama suaminya di ruang tengah. Melihat bu Dwi yang berjalan sendiri tanpa Jihan, pak Herman merasa heran.
“Mana Jihan, Bu?”
“Katanya perutnya mual lagi makanya ibu suruh istirahat aja,” jelas bu Dwi.
“Apa dia masuk angin lagi?”
“Nggak tau Yah. Tapi tadi udah ibu suruh kasih minyak angin supaya lebih enakan.”
“Kalau sampai besok belum juga sembuh harus segera kita bawa ke rumah sakit Bu.”
“Iya Yah. Oh ya Ayah, jadi kita berangkatnya ke Jogjakarta kapan?”
“Nantilah kalau sudah dekat pendaftaran.”
“Berarti nanti ibu temani Jihan sampai masuk kuliah dan ayah pulang duluan kan?”
“Iya Bu.”
“Rencana ibu juga seperti itu Yah. Biar ibu temani dulu JIhan sampai Jihan kuliah nanti. Setelah dia masuk kuliah beberapa hari baru ibu pulang. Jadi kita akan tenang kalau dia sudah masuk kuliah nanti.”
“Benar Bu, ide Ibu itu.”
“Oh Yah, kenapa sih Ayah maksakan diri supaya Jihan kuliah di Jogja.”
“Karena di sana kan kuliahnya bagus Bu. Jadi ayah mau dia tamatan dari sana.”
“Di sini juga kan banyak tempat kuliah yang bagus Yah.”
“Tapi kalau dibandingkan di Jogja, ya jauh lebih bagus di Jogja. Kalau nanti masuk kerja asal kuali itu jadi prioritas juga Bu.”
“Tapi ibu rasanya berat loh berpisah dengan Jihan,” jelas bu Dwi.
“Memang seperti itu perasaan seorang ibu. Tapi yakinlah nanti kalau sudah jalan beberapa bulan pasti Ibu sudah bisa melepasnya.”
__ADS_1
“Mudah-mudahan ya Ayah karena dari kecil kan dia tidak pernah bisa pisah sama kita.”
“Tapi sekarang kan dia sudah dewasa, jadi dia udah mandiri. Kita akan lebih tenang melepasnya. Apalagi di sana kan banyak family ayah, jadi Ibu jangan khawatir ya.