
“Jihan, diminum itu susunya nanti keburu dingin loh.”
“Bukankah itu susu buat Mas?” tanya Jihan heran.
“Itu susu ibu hamil buat kamu. Diminum ya supaya kamu tidak lemas lagi dan sehat.”
“Makasih Mas.”
Kemudian Jihan meneguk susu yang ada di gelas kaca itu. Tapi baru satu tegukkan Jihan merasa mual dan akan muntah sehingga dia menutup hidung dan mulutnya. Melihat hal itu Rehan langsung heran.
“Kamu kenapa Jihan?” tanya Rehan sambil merangkul pundak Jihan dari belakang.
“Jihan nggak apa-apa Mas. Jihan hanya nggak suka susu, makanya mencium baunya yang amis Jihan mau muntah,” jelas Jihan.
Kemudian Rehan yang merasa tidak percaya mengambil gelas itu dari tangan Jihan dan langsung menciumnya.
Tapi saat dia mencium susu itu sedikit pun dia tidak merasakan bau amis.
“Tapi nggak amisnya Jihan...” ucap Rehan melihat kearah Jihan.
“Entahlah Mas, mungkin karena Jihan tidak suka susu.”
“Mungkin juga. Makanya saat meminum, tutup hidung kamu jadi aroma dari susu itu tidak tercium.”
Kemudian Rehan mengambil gelas susu yang ada di tangan Jihan dan berusaha untuk membantu Jihan minum susu.
“Sekarang tutup hidung kamu biar tidak tercium bau amisnya dan langsung minum susunya,” pinta Rehan.
Rehan langsung meletakkan gelas kaca itu ke bibir Jihan. Jihan yang tidak suka minum susu akhirnya tidak bisa menolak. Tangan kirinya menutup hidungnya sedangkan tangan kanannya ikut memegang gelas yang sedang dipegang Rehan.
Rehan dengan telaten membantu Jihan meminum susu itu sampai habis. Setelah gelas itu kosong tanpa sisa Rehan meletakkan kembali di atas meja.
“Gimana rasanya, enak kan?” tanya Rehan sambil tersenyum.
“Tetap nggak enak Mas...” jawab Jihan sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Jihan merasa nggak enak, tapi karena terpaksa dihabiskan Jihan juga.
“Mulai besok, harus kamu paksakan diri kamu untuk minum susu ya. Semua ini demi kesehatan kamu dan bayi kamu, Jihan.” Rehan memberikan semangat pada Jihan yang sedang mengandung.
Jihan kemudian hanya mengangguk sambil tersenyum. Melihat senyuman Jihan, Rehan semakin salah tingkah.
Tanpa terasa dadanya berdebar-debar ketika tatapan mereka saling beradu sementara Jihan biasa saja ketika berhadapan dengan Rehan.
Dari kejauhan Siti memperhatikan sikap Rehan terhadap Jihan yang terlihat sangat sayang dan memperhatikan Jihan.
Api cemburu yang hinggap di dadanya semakin membara melihat kedekatan Rehan dengan Jihan.
Ingin rasanya meluapkan amarahnya tapi tidak ada alasan baginya untuk marah karena Rehan bukan siapa-siapanya Siti, jadi Siti tidak berhak untuk marah dalam hal ini.
Setelah Jihan selesai minum susu tiba-tiba bu Renggo muncul di hadapan mereka.
“Jihan, ada yang mau ibu sampaikan sama kamu.” Bu Renggo kemudian menarik kursi dan duduk di dekat mereka sedangkan Rehan langsung mengecilkan volume TV.
Jihan merasa heran dengan perkataan bu Renggo barusan.
Setelah bu Renggo duduk manis, kemudian dia mulai berkata.
“Begini Jihan... Rencananya ibu dan Rehan ingin mengantarkan kamu pulang ke rumah orang tua kamu,” ucap bu Renggo.
Mendengar ucapan bu Renggo, wajah Jihan langsung pucat karena dia belum mau untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dia masih ingin tinggal di rumah bu Renggo untuk menenangkan pikirannya.
“Tapi Bu...” jawab Jihan terputus.
“Bukannya ibu nggak suka kamu tinggal di sini, tapi ibu nggak mau nanti disalahkan oleh orang tua kamu karena membiarkan kamu tinggal di rumah kami.
Sementara orang tua kamu pasti sedang mencari kamu,” jelas bu Renggo.
“Tapi ayah sangat marah pada Jihan, Bu. Pasti ayah tidak akan mencari Jihan,” ucap Jihan dengan nada sedih.
“Kalau ayah kamu marah, itu hal yang wajar Jihan. Pasti ayah kamu terkejut ketika mendengar berita tentang kehamilan kamu. Jadi ibu maklum kalau saat itu ayah kamu marah dan mengusir kamu dari rumah.
__ADS_1
Tapi yakinlah, kemarahannya hanya sementara saja. Setelah itu pasti ayah kamu menyesal karena kamu telah pergi dari rumah.
Sebenarnya ibu senang kamu tinggal di sini karena rumah ini jadi ramai, tapi ibu nggak mau nantinya disalahkan oleh orang tua kamu.”
“Tapi Bu, gimana kalau ayah tetap tidak memperbolehkan Jihan pulang ke rumah,” ucap Jihan dengan nada ragu.
“Kalau memang ayah kamu tidak mau menerima kamu, ibu akan siap menerima kamu dengan tangan terbuka. Jadi kamu jangan khawatir ya.” Bu Renggo berusaha meyakinkan Jihan yang sedang bingung.
“Tapi Bu, bolehkah Jihan minta waktu satu bulan aja untuk tetap tinggal di rumah ini. Jihan ingin menenangkan diri dulu Bu,” pinta Jihan.
Bu Renggo langsung melihat ke arah Rehan untuk meminta tanggapan dari Rehan. Melihat mamanya seperti minta pendapat Rehan, akhirnya Rehan pun memberikan pendapatnya.
“Kalau menurut Rehan, gimana kalau Jihan sebulan ini tetap tinggal aja dulu di rumah kita untuk menenangkan pikirannya. Setelah itu baru Jihan kita antar ke rumah orang tuanya,” ucap Rehan memberikan pendapatnya.
“Ya udahlah kalau memang seperti itu. Ibu nggak bisa memaksa,” ucap bu Renggo sambil mengelus rambut Jihan.
Mendapat perlakuan yang begitu baik dari bu Renggo, Jihan Langsung menangis sedih. Dia ingat pada ibunya yang sangat menyayanginya bahkan memanjakannya meskipun dia sudah besar.
Karena dia anak satu-satunya sehingga ibunya selalu memberikan perhatian yang lebih padanya.
“Kamu kenapa menangis Jihan?” tanya bu Renggo sambil mengelus rambut Jihan.
“Jihan ingat sama ibu Jihan, Bu,” jelas Jihan.
“Kamu banyak berdo’a ya semoga ibu dan ayah kamu diberi kekuatan dalam menghadapi musibah yang kamu hadapi. Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah kesehatan kamu dan bayi yang ada dalam kandungan kamu.”
“Terima kasih Bu, terima kasih mas Rehan,” ucap Jihan sambil melihat ke arah Rehan yang duduk di sampingnya.
Rehan kemudian memegang pundak Jihan sambil berkata.
“Kamu jangan bersedih ya, kasihan bayi kamu pasti ikut sedih melihat ibunya sedih.”
Mendengar perkataan Rehan, Jihan langsung tersenyum pada Rehan. Rehan yang sudah mulai menyukai Jihan hanya bisa tersenyum saat menatap wajah Jihan. Ingin rasanya Rehan memeluk erat Jihan saat melihat wanita itu bersedih. Tapi mamanya ada di dekat mereka sehingga Rehan tidak berani melakukannya.
Dalam hati kecil Rehan, dia berkeingainan menjadikan Jihan istrinya kelak kalau nanti pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Baru beberapa hari tinggal serumah dengan Jihan, Rehan sudah melihat sifat maupun sikap Jihan yang tampak baik dan lembut, berbeda jauh dengan sifat mantan istrinya yang keras kepala.
__ADS_1
Hal inilah salah satu alasan kenapa Rehan bisa sampai jatuh cinta pada Jihan.Padahal sebelumnya Rehan sudah beberapa kali kenal dengan wanita tapi tidak satu pun yang singgah di hatinya. Begitu mengenal Jihan, dia langsung jatuh cinta.