
“Rehan juga nggak tau Ma. Tadi Rehan menemukannya di jalan sedang pingsan makanya Rehan bawa kemari. Ma tolong urus dulu ya wanita ini Rehan mau sholat magrib dulu,” ucap Rehan buru-buru pergi.
Wanita yang merupakan mamanya Rehan merasa heran dan bingung menghadapi Jihan yang sedang tidak sadarkan diri. Kemudian mamanya Rehan memanggil pembantunya bernama Siti.
“Siti.... Siti, kemari dulu.”
Tidak lama kemudian Siti setengah berlari menuju ke ruang TV.
Sampai di ruang TV Siti merasa terkejut ketika melihat Jihan yang sedang pingsan.
“Siapa wanita itu Bu?” tanya Siti heran.
“Kamu jangan banyak tanya, sekarang ambilkan dulu minyak kayu putih,” pinta mamanya Rehan.
Siti langsung pergi ke kamar untuk mengambil minyak kayu putih.
“Ini Bu minyak kayu putihnya.”
Kemudian mamanya Rehan mengoleskan hidung Jihan dengan minyak kayu putih. Jihan langsung tersadar. Dibuka matanya perlahan dan dia merasa heran karena berada di rumah yang cukup besar dan megah.
“Saya di mana Bu?” tanya Jihan dengan nada lemah.
“Kamu sekarang di rumah saya.
Tadi kata anak saya kamu pingsan di pinggir jalan makanya kamu dibawa kemari oleh anak saya.”
Mendengar ucapan wanita itu Jihan langsung menangis.
Dia tidak menyangka kalau kehidupannya akan seperti ini setelah diusir oleh ayahnya.
Jihan merasa bersyukur ternyata masih ada orang yang baik di dunia ini yang mau menolongnya.
Kemudian Siti membantu Jihan untuk duduk di sofa dan menyandarkan badan Jihan ke sofa. Tampak Jihan sangat lemah tidak bertenaga.
“Siapa nama kamu?” tanya mamanya Rehan.
“Jihan Bu,” jawab Jihan pelan.
“Rumah kamu di mana, Jihan?” tanya mamanya Rehan lagi.
Mendengar pertanyaan dari wanita itu Jihan kembali menangis.
Dia juga merasa takut kalau nanti akan diantarkan pulang ke rumah orang tuanya karena orang tuanya telah mengusirnya. Akhirnya Jihan pun tidak berani menjawab. Dia hanya diam saja.
“Kamu sebenarnya kenapa Jihan? Kenapa kamu bisa pingsan di pinggir jalan?” tanya mamanya Rehan.
__ADS_1
Jihan merasa bingung harus menjawab apa. Kalau dia berterus terang, dia khawatir kalau si pemilik rumah akan mengusirnya sehingga dia belum menjawab pertanyaan wanita itu.
Bersamaan saat itu Rehan pun muncul di hadapan mereka.
“Kamu udah sadar?” tanya Rehan sambil memperhatikan Jihan dengan seksama.
“Terima kasih ya Om sudah menolong saya,” ucap Jihan pelan.
Melihat kondisi Jihan yang sangat lemas tidak berdaya kemudian mamanya Rehan menyuru Siti untuk mengambilkan nasi.
“Siti, sana ambilkan dulu nasi untuk Jihan.”
Siti langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan nasi buat Jihan.
“Sebenarnya rumah kamu di mana Jihan, biar nanti saya antar pulang,” tanya Rehan.
“Rehan, nanti aja nanyanya biar Jihan makan dan mandi dulu,” ucap mamanya Rehan.
Kemudian Siti pun datang dengan membawa sepiring nasi.
“Jihan, kamu makan dulu ya,” ucap Siti sambil memberikan sepiring nasi.
Kemudian Jihan langsung memakannya karena sudah sangat lapar.
Setelah selesai makan, Jihan langsung disuruh mandi oleh mamanya Rehan. Mamanya Rehan sangat baik dan perhatian pada Jihan. Dia pun memberikan pakaian ganti untuk Jihan.
“Coba sekarang kamu jelaskan sama mama awal kamu menemukan Jihan.” Tanya mamanya.
Kemudian Rehan pun menceritakan kejadiannya.
Saat dia pulang kerja dan berencana hendak sholat ke masjid tiba-tiba dia melihat sosok wanita tidak sadarkan diri di pinggir jalan di dekat sebuah pohon yang besar.
Karena saat itu tidak ada seorang pun yang lalu lalang di tempat itu sehingga Rehan langsung membawanya ke rumahnya.
“Jadi kamu tidak kenal sama sekali dengan wanita itu?” tanya mamanya Rehan.
“Rehan nggak kenal Ma. Memangnya kenapa Ma?” tanya Rehan lagi.
“Ya nggak ada. Mama pikir wanita itu kekasih baru kamu, Rehan.”
Mendengar ucapan mamanya Rehan langsung tertawa.
“Apa nggak Mama lihat tadi Jihan tidak berdaya dan wajahnya pucat,” ucap Rehan tersenyum.
“Mama nggak perhatikan.
__ADS_1
Dalam hati mama, mama bersyukur karena kamu telah menemukan wanita idaman kamu. Itulah yang ada dalam hati mama tadi.”
“Mama bisa aja,” jawan Rehan sambil tersenyum tipis.
Mendengar ucapan mamanya, Rehan hanya bisa tersenyum. Dia tidak menyangka ternyata pemikiran mamanya sudah sangat jauh ke depan. Sementara untuk saat ini Rehan belum mau memikirkan masalah wanita.
Hatinya masih sakit kalau mengingat perceraiannya dengan Reva yang merupakan mantan istrinya dulu.
Sudah lima tahun ini Rehan hidup menduda setelah bercerai dengan istrinya. Perceraiannya terjadi karena istrinya ketauan selingkuh padahal usia pernikahan mereka belum genap setahun.
Rehan langsung menggugat cerai istrinya karena dia merasa sakit hati atas pengkhianatan istrinya itu.
Sejak bercerai dengan istrinya sampai sekarang Rehan belum berani untuk mendekati wanita lain. Pernikahannya yang pertama gagal membuatnya merasa takut dan trauma untuk mendekati wanita.
Mamanya sempat menjodohkannya dengan anak teman mamanya tapi Rehan menolak dengan alasan belum siap untuk menikah lagi.
Luka yang diakibatkan penghianatan mantan istrinya masih membekas di hatinya membuatnya belum mau membuka hatinya untuk wanita lain. Hal itulah salah satu alasan kenapa sampai sekarang dia belum menikah lagi.
“Mama udah pingin segera punya cucu Rehan sebelum mama meninggal.
Kamu anak satu-satunya mama jadi hanya dari kamu, mama mengharap cucu. Makanya kamu secepatnya menikah lagi,” jelas mamanya Rehan.
“Ma... jodoh sudah diatur Allah jadi Mama bersabar ya. Yakinlah suatu saat pasti Rehan akan dipertemukan sama jodoh Rehan. Jadi Mama jangan terlalu khawatir.”
Tidak lama kemudian Jihan yang baru selesai mandi muncul di hadapan mereka. Dia sudah rapi dan wangi. Melihat kedatanggan Jihan Rehan dan mamanya memperhatikan Jihan tidak berkedip.
Mereka berdua seperti tidak percaya dengan Jihan yang ternyata gadis yang cantik. Tatapan Rehan yang tidak berkedip membuat Jihan merasa malu sendiri.
“Duduk sini Jihan...” ucap mamanya Rehan mempersilahkan Jihan untuk duduk.
Jihan pun duduk di samping mamanya Rehan. Setelah Jihan sudah duduk manis mamanya Rehan langsung menanyakan tentang alasan Jihan pergi dari rumah.
Awalnya Jihan ragu antara menceritakan atau tidak tapi setelah dipikir-pikir beberapa saat akhirnya di hadapan Rehan dan mamanya, Jihan menceritakan masalah yang sedang dihadapi sampai ayahnya mengusirnya dari rumah sakit. Sambil bercerita Jihan tak kuasa menahan tangisnya. Rehan dan mamanya merasa kasihan pada Jihan.
“Jadi apa rencana kamu selanjutnya Jihan?” tanya mamanya Rehan.
“Nggak tau Bu, saya bingung harus bagaimana,” jawab Jihan sedih.
Rehan dan mamanya terdiam sesaat memikirkan rencana selanjutnya.
“Gimana kalau kamu datangi keluarga Leo dan minta pertanggung jawabannya,” ucap Rehan mencari solusi.
“Tapi saya nggak mau berpindah keyakinan Om. Kalau saya meminta pertanggung jawaban Leo pasti orang tua Leo akan menyuruh saya pindah keyakinan seperti Leo.
Biarlah saya menghidupi anak ini sendiri dari pada harus berpindah keyakinan,” jelas Jihan.
__ADS_1
Rehan pun langsung terdiam. Apa yang dikatan Jihan memang benar adanya. Rehan juga sudah bisa menebak kalau Jihan meminta pertanggung jawaban Leo pasti dia kan dipaksa berpindah keyakinan..