Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Tak Jadi Pulang


__ADS_3

Ternyata kepulangan bu Renggo diundur karena anaknya tante Rita yang bernama Shinta masuk rumah sakit sehingga bu Renggolah yang merawatnya di rumah sakit.


Tante Rita tidak mempunyai saudara karena dia anak tunggal. Hanya bu Renggolah saudara sepupunya yang dekat dengannya.


Kemudian bu Renggo menghubungi Rehan dan akan memberitahu kalau kepulangannya diundur.


[“Assalamualaikum Ma...”] jawab Rehan saat menerima telepon dari mamanya.


[“Rehan, mama nggak jadi pulang besok.”]


[“Kenapa nggak jadi pulang Ma?”] tanya Rehan heran.


[“Shinta anak tante Rita masuk rumah sakit tadi malam jadi mama yang menjaga di rumah sakit.”]


Shinta adalah anak tunggal tante Rita. Saudara dari tante Rita maupun dari mantan suaminya juga sudah tidak ada lagi.


Hanya bu Renggolah satu-satunya famili tante Rita yang masih ada. Jadi bu Renggo yang merasa kasihan dengan Shinta akhirnya bersedia menjaga Shinta di rumah sakit.


[“Memangnya Shinta sakit apa Ma?”] tanya Rehan.


[“Asam lambungnya kambuh Rehan. Mama nggak tegah ninggalkan pulang karena nggak ada lagi familinya yang disini. Mama kasihan.”]


[“Ya udah Ma, nggak apa-apa. Yang penting Mama tetap sehat disana.”]


[“Kalau Shinta udah sembuh mama pasti segera pulang.”]


[“Iya Ma, yang penting Shinta sehat dulu.”]


Akhirnya Rehan mengizinkan mamanya untuk merawat Shinta yang sedang sakit.


Mamanya kasihan pada Shinta karena Shinta anak tunggal dan sudah tidak memiliki famili lagi selain keluarga Rehan.


Shinta merasa terpukul dengan kematian mamanya sampai jatuh sakit membuat bu Renggo merasa khawatir dan kasihan.


***


Sejak Siti dan bu Renggo pergi ke Pekanbaru tinggallah Rehan dan Jihan di rumah yang besar itu. Jihan sebenarnya merasa kesepian karena tinggal sendiri di rumah itu saat Rehan berangkat ke kantor sehingga waktunya dihabiskan untuk menonton TV setiap saat.


Kalau sudah bosan menonton TV, Jihan masuk ke kamarnya untuk istirahat.

__ADS_1


Begitulah aktivitasnya setiap hari membuat dia merasa bosan.


Akhirnya dia memutuskan untuk masak sendiri meskipun awalnya Rehan menentangnya dengan alasan Rehan tidak mau melihat Jihan capek karena dia khawatir dengan kondisi Jihan yang sedang hamil muda.


Tapi karena Jihan tetap berkeras untuk memasak akhirnya Rehan mengizinkannya dengan catatan dia tidak boleh keluar rumah untuk belanja. Sehingga bi Ijah yang setiap hari belanja ke warung untuk membeli keperluan dapur.


Hari ini adalah hari Minggu, hari libur bagi Rehan karena dia tidak masuk kantor. Selesai sarapan dia langsung membereskan meja makan sedangkan Rehan membantunya mencuci piring dan gelas. Keduanya tampak kompak mengerjakan tugas rutin di dapur.


Setelah piring dan gelas selesai dicuci Rehan, Rehan langsung mengajak Jihan untuk menonton TV di ruang keluarga.


“Jihan, ayo kita nonton TV...” ajak Rehan.


“Iya Mas,” jawab Jihan sambil berjalan di belakang Rehan.


Saat melewati meja makan terlihat masih ada mangkok kaca yang belum dicuci. Melihatnya Jihan merasa risi sehingga dia langsung mengambil mangkok kaca itu dan membawanya ke wastafel cucian piring. Rehan yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Sebenarnya Rehan ingin melarang Jihan untuk mencuci mangkok kaca itu, tapi karena mangkok bekas sambal ikan hanya satu dan tentunya tidak memberatkan Jihan mencucinya, akhirnya Rehan membiarkannya saja Jihan mencucinya.


Kemudian Rehan langsung menuju ke ruang keluarga. Saat Rehan akan duduk di sofa terdengar suara Jihan sedang muntah membuat Rehan langsung mengurungkan niatnya untuk duduk di sofa itu. Dia kembali pergi ke dapur lagi untuk melihat Jihan. Sampai di dapur terlihat Jihan sedang muntah di wastafel cucian piring. Rehan langsung mendekatinya dan memijit tengkuk Jihan.


“Lain kali, kamu jangan mencuci ya. Biar aja mas yang mencuci semuanya,” ucap Rehan mengingatkan.


Jihan hanya diam saja mendengar perkataan Rehan. Saat hamil seperti ini Jihan tidak bisa mencium bau amis sedikit saja. Dia langsung muntah kalau mencium bau amis.


“Sekarang kamu minum dulu ya,” ucap Rehan sambil memberikan gelas yang berisi air hangat itu.


Jihan langsung meminum air hangat itu sampai habis.


“Gimana perasaan kamu sekarang?” tanya Rehan memperhatikan wajah Jihan yang kelihatan sangat pucat.


“Sudah mendingan kok Mas.”


“Ayo sekarang kita masuk ke kamar.”


Rehan langsung memeluk pundak Jihan dari belakang dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sampai di kamar, Rehan membantu Jihan untuk berbaring di tempat tidur.


“Kamu istirahat dulu ya. Entar lagi kamu harus makan lagi,” ucap Rehan sambil menyelimuti Jihan.


“Nggak Mas, Jihan nggak selera,” ucap Jihan lemas.


Rehan berusaha untuk membujuk Jihan dengan mengelus kepala Jihan.

__ADS_1


“Kamu harus makan Jihan, karena apa yang baru kamu makan sudah keluar semua.”


Mendengar perkataan Rehan, Jihan langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


“Nggak mau Mas. Membayangkan aja rasanya Jihan mau muntah,” ucap Jihan sambil menggelengkan kepalanya.


Dia seperti trauma setelah habis muntah tadi sehingga membayangkan makanan yang baru dimakannya tadi rasanya ingin muntah lagi. Melihat reaksi Jihan yang tidak mau makan lagi Rehan pun merasa maklum. Rehan berpikir setelah rasa mualnya hilang pasti Jihan mau makan lagi.


“ Ya udah, kalau kamu nggak mau makan nggak apa-apa. Yang penting kamu istirahat dulu ya.”


“Iya Mas,” jawab Jihan yang sudah memejamkan matanya.


Rehan yang melihat wajah Jihan begitu pucat tidak sampai hati itu meninggalkannya sehingga dia masih duduk di samping Jihan sambil memainkan ponselnya.


Sesekali dia melirik ke arah Jihan untuk memastikan apakah Jihan sudah tidur atau belum.


Tapi beberapa kali Rehan melirik ke arah Jihan, ternyata Jihan belum juga tidur karena kelopak matanya masih tetap bergerak.


“Kenapa kamu belum tidur juga, Jihan?” tanya Rehan sambil memperhatikan wajah Jihan.


Mendengar ucapan Rehan, Jihan langsung terkejut tetapi dia masih tetap memejamkan matanya.


‘Berarti mas Rehan sejak tadi memperhatikan aku. Aku jadi malu,’ batin Jihan.


Melihat Jihan tidak menjawab pertanyaan Rehan, Rehan kembali bertanya.


“Kenapa kok belum tidur juga Jihan?”


“Jihan gak bisa tidur Mas,” jawab Jihan dengan suara yang begitu lemah.


Kemudian Rehan menggenggam tangan Jihan membuat dada Jihan berdetak kencang. Saat Jihan membuka matanya terlihat tatapan Rehan sangat dalam membuat Jihan merasa salah tingkah. Tangannya yang berada dalam genggaman Rehan langsung basah oleh keringat.


Begitu juga dengan keringat yang ada di badannya mengalir deras menahan rasa takut dan malu.


Jihan langsung memalingkan pandangannya ke arah lain karena dia tidak mau bertatapan dengan Rehan.


Melihat ekspresi Jihan yang tampak malu dan ketakutan Rehan langsung tersenyum. Dia semakin mempererat genggamannya.


Rehan merasa gemas melihat sikap Jihan yang tampak polos dan lugu. Kemudian Rehan mendekatkan wajahnya pada Jihan sehingga hembusan nafas Rehan menerpa wajah Jihan yang putih mulus.

__ADS_1


Jihan semakin ketakutan melihat wajah keduanya sudah sangat dekat sedangkan Rehan hanya tersenyum memperhatikan wajah Jihan.


__ADS_2