Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
Maafkan Jihan Bu


__ADS_3

Seperti biasa sebelum berangkat kerja ayah Jihan sarapan bersama keluarganya yaitu istri dan anaknya Jihan. Meskipun Jihan sudah tidak sekolah lagi menunggu masuk ke perguruan tinggi, tapi dia tetap bangun pagi.


Begitu Jihan keluar dari kamarnya bu Dwi memperhatikannya dengan seksama. Ada segudang rasa ketakutan mengingat belakangan ini Jihan sering mual dan muntah.


“Ayo cepat sarapannya entar Ayah terlambat,” ucap bu Dwi pada suaminya.


“Ibu santai aja deh, ayah nggak akan terlambat.”


Ketiganya tampak menikmati sarapan pagi.


“Makan yang banyak Jihan biar kamu sehat dan gak mual-mual lagi,” ucap bu Dwi.


Sejak tadi bu Dwi memperhatikan putrinya. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Jihan karena belakangan ini Jihan sering mual dan muntah membuat bu Dwi semakin penasaran.


Walaupun bu Dwi tidak yakin kalau putrinya hamil tapi kemungkinan untuk hamil pasti ada. Bu Dwi tidak yakin kalau Jihan hamil karena sampai saat ini Jihan tidak mempunyai kekasih.


Bu Dwi tau kalau dia tidak mempunyai kekasih karena bu Dwi sering menanyakan hal itu pada Jihan. Jihan yang merupakan anak tunggal sering curhat pada ibunya dan selalu mengatakan bahwa dia belum mempunyai kekasih


Hal inilah yang membuat bu Dwi tidak yakin kalau Jihan hamil. Tapi kemungkinan itu tetap bisa saja terjadi, Mengingat pergaulan anak jaman sekarang


. Itulah pemikiran bu Dwi membuat perasaannya sangat takut kalau hal itu benar terjadi pada Jihan.


Untuk memastikannya bu Dwi sengaja menyodorkan telur dadar yang hampir hangus di hadapan Jihan dan kemudian bu Dwi melihat reaksi dari Jihan.


Saat telur dadar itu sudah ada di depan Jihan tiba-tiba Jihan menutup mulutnya. Dia seperti merasa mual dan muntah.


Jantung bu Dwi langsung berdetak kencang dan dadanya terasa sesak karena perkiraan bu Dwi sangat kuat kalau Jihan sedang hamil. ‘Untuk memastikannya lebih baik nanti aku tanyakan aja pada Jihan langsung dari pada aku hanya menerka-nerka saja.


Tapi gimana kalau Jihan tidak berkata jujur. Mana mungkin Jihan mau berbohong apalagi sama aku, ibunya sendiri,’ batin bu Dwi.


Kemudian Jihan buru-buru hendak beranjak dari tempat duduknya tapi langsung ditanya oleh ayahnya.


“Kamu kenapa Jihan?” Sambil menutup mulutnya Jihan langsung pergi ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.


“Pasti Jihan mual lagi Yah.”


Pak Herman pun terdiam beberapa saat. Tiba-tiba nafsu makannya langsung hilang padahal sebelumnya pak Herman sangat lahap menikmati sarapan pagi.


Bu Dwi yang memperhatikan sikap pak Herman langsung bertanya.

__ADS_1


“Kenapa Yah...”


Sambil tersenyum pak Herman menjawab pertanyaan istrinya.


“Ayah udah kenyang Bu.”


“Bukankah makanannya belum habis.”


“Seperti yang Ibu katakan tadi bahwa ayah nggak boleh terlambat makanya ayah buru-buru. Kalau gitu ayah berangkat kerja dulu ya Bu,” pamit pak Herman.


***


Setelah pak Herman pamit pada istrinya bu Dwi yang sejak tadi sudah selesai makannya langsung mengantarkan suaminya sampai pintu depan.


Bu Dwi merasa khawatir terhadap putrinya, dia sengaja mengambil nasinya sedikit saja karena pikirannya tidak tenang memikirkan Jihan.


Pak Herman berangkat kerja, bu Dwi kembali ke meja makan untuk membereskan piring dan gelas yang masih berserakan.


Bu Dwi buru-buru membereskan semuanya karena bu Dwi ingin menanyakan langsung pada Jihan tentang kondisi Jihan yang belakangan ini sering mual dan muntah.


Saat bu Dwi sedang mencuci piring tiba-tiba Jihan muncul di belakangnya.


Bu Dwi langsung menoleh ke belakang dan berkata pada putrinya.


“Kamu duduk aja Jihan. Lagian tanggung nih, ibu dan mau selesai.”


Akhirnya Jihan pun duduk di meja makan menunggu sampai selesai ibunya mencuci piring. Setelah bu Dwi selesai mencuci piring dia kemudian ikut duduk di meja makan tepat di depan Jihan.


“Kamu tadi muntah lagi Jihan?” tanya bu Dwi sambil memperhatikan wajah putrinya yang tampak pucat.


“Iya Bu,” jawab Jihan pelan.


“Gimana kalau hari ini kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan kamu.”


“Tapi Jihan nggak apa-apa Bu. Jihan sehat kok.”


“Tapi kamu belakangan ini sering muntah Jihan. Ibu khawatir kalau kamu menderita suatu penyakit makanya dari sejak dini kita periksakan biar tau kita mengobatinya.”


“Ibu jangan khawatir Jihan nggak apa-apa kok,” Jawab Jihan sambil tersenyum.

__ADS_1


Perasaan bu Dwi semakin takut. Dia takut kalau ibunya mengetahui atas kehamilannya.


‘Sebaiknya aku ceritakan aja dari sekarang. Sekarang kan udah selesai ujian. Tapi gimana kalau nanti ibu marah.


Aku harus berbuat apa. Aku nggak boleh seperti ini. Lebih baik aku ceritakan hari ini supaya beban pikiranku semakin berkurang dan ibu bisa memberikan solusi yang terbaik,’ batin Jihan.


Sebenarnya sengaja bu Dwi berbicara seperti itu supaya Jihan terbuka padanya. Karena kalau Bu Dwi langsung menanyakan kebiasaan Jihan yang sering mual dan muntah dikhawatirkan Jihan akan tersinggung dan tidak mengakuinya. Sementara dugaan bu Dwi sangat kuat kalau Jihan sedang hamil.


Melihat wajah Jihan yang begitu pucat bu Dwi langsung mendekatinya dan berbicara dengan nada lembut.


“Ibu takut terjadi sesuatu pada kamu, Jihan. Sebelum terlambat lebih baik dari sekarang kita periksa ke dokter.”


“Tapi Jihan mual biasa Bu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap Jihan tetap ngotot tidak mau diperiksa ke rumah sakit.


“Kamu bisa tenang, tapi ibu nggak bisa tenang.” Bu Dwi mengelus rambut putrinya.


Mendapat perlakuan yang begitu lembut dan sayang dari ibunya Jihan merasa bersalah. Tanpa terasa keluar bulir-bulir hangat dari sudut matanya yang membasahi kedua pipinya. Rasanya dia tidak kuat menanggung beban ini sendiri.


Sebenarnya dari semalam dia berniat untuk menceritakan pada ibunya tetapi kadang niat itu tidak dilaksanakannya karena Jihan merasa ragu untuk menceritakan semuanya pada ibunya. Dia takut kalau ibunya akan marah besar dan akan mengusirnya. Tapi terkadang Jihan sudah siap seandainya ibunya akan mengusirnya dari rumah itu. Antara perasaan ragu dan bimbang akhirnya Jihan memutuskan untuk menceritakan semuanya pada ibunya meskipun nantinya ibunya akan marah dan mengusirnya.


Melihat putrinya menangis bu Dwi langsung mengelus pundaknya.


“Kenapa Jihan, kamu menangis?”


Jihan berusaha untuk mengumpulkan kekuatan karena dia akan menceritakan semuanya.


“Ibu, maafkan Jihan ya...”


“Kenapa Jihan?” tanya bu Dwi semakin penasaran.


“Tapi Ibu jangan marah ya.”


“Memangnya ada apa Jihan. Cerita donk sama ibu mana tau ibu bisa mencari jalan keluarnya.”


Jihan langsung mencium tangan ibunya sambil menangis. Ibunya yang sudah tidak sabar menunggu ucapan Jihan yang sempat terputus langsung bertanya lagi.


“Ada apa Jihan?”


“Bu, sebenarnya Jihan hamil....”

__ADS_1


Tangis Jihan langsung pecah sedangkan bu Dwi seperti tidak percaya. Dia hanya bisa diam terbengong seperti orang bodoh. Bibirnya terasa keluh untuk mengucapkan sepatah kata. Sekujur tubuhnya langsung lemas sehingga bu Dwi terduduk di kursi. Ternyata apa yang sangat ditakutkan benar-benar terjadi. Dia seperti tidak percaya mendengar perkataan putrinya.


__ADS_2