Noda (Cermin Yang Retak)

Noda (Cermin Yang Retak)
CCTV


__ADS_3

Tanpa terasa waktu berjalan terus Jihan dan temannya pun berencana untuk pulang. Mereka pulang kembali dengan naik angkutan umum. Sampai di tengah perjalanan tiba-tiba Rani memikirkan tentang CCTV yang ada di cafe tempat kejadian saat Jihan diperkosa. Dia langsung mengirim pesan pada Jihan padahal Jihan duduk di sampingnya. Sengaja Rani melakukan hal itu supaya pembicaraan mereka tidak diketahui teman lainnya.


{Jihan, gimana kalau pulang dari sini kita langsung ke cafe itu untuk melihat CCTV yang ada di sana.}


Setelah membaca pesan Rani, Jihan langsung menjawabnya.


{Kenapa harus hari ini. Nanti teman kita pasti akan bertanya-tanya.}


{Supaya mereka tidak curiga, kita turun aja di depan rumah aku. Dari situ kita naik angkutan umum yang arah ke cafe itu. Nanti katakan aja sama teman lainnya kalau ada sesuatu yang akan kamu ambil dari rumah aku.}


Sambil tersenyum Jihan langsung menjawab pesan itu. {Oke lah kalau gitu.}


Tidak lama kemudian sampailah mereka di depan rumah dan angkutan umum itu pun berhenti. Rani dan Jihan langsung turun.


“Kami duluan ya...” ucap Rani dan Jihan.


Lusi yang melihat Jihan pun ikut turun langsung bertanya. “Jihan juga ikut turun?”


“Iya, ada yang mau diambil di rumah aku,” ucap Rani saat turun dari angkutan umum.


“Hati-hati ya...” ucap teman lainnya.


Rani dan Jihan pun melambaikan tangannya pada temannya yang masih ada di dalam angkutan umum.


Setelah angkutan umum itu tidak kelihatan Rani dan Jihan kembali naik angkutan umum yang ke arah Cafe Lestari. Setelah sepuluh menit perjalanan mereka pun sampai di depan Cafe Lestari.


Rani yang terkenal orangnya pemberani dan tidak pemalu langsung berjalan mendekati kasir sedangkan Jihan mengikutinya berjalan di belakangnya.


“Selamat sore Mbak...” sapa Rani dan Jihan bersamaan.


“Sore... ada yang bisa saya bantu?” jawab kasir itu dengan nada ramah.

__ADS_1


“Mbak, kami bisa ketemu dengan pemilik cafe ini?” tanya Rani.


“Maaf Dek, pak Dino pemilik cafe ini sedang keluar kota. Tadi pagi ada family-nya yang meninggal dunia. Pak Dino dan keluarganya pergi ke sana,” jelas wanita muda itu.


“Oh gitu...” jawab Rani sambil manggut-manggut paham.


“Memangnya Adik ini ada perlu apa, mungkin saja saya bisa membantu.”


Rani langsung memperhatikan wajah wanita cantik yang ada di depannya. Setelah dia yakin kalau wanita itu bisa membantunya Rani langsung berkata.


“Kami mau minta tolong Mbak. Bisa nggak kami melihat CCTV yang ada di cafe ini?”


Wanita itu pun terdiam sambil berpikir beberapa saat.


“Tolonglah Mbak karena kami sedang mencari bukti di malam saat ulang tahun teman kami sebulan yang lalu,” jelas Rani.


“Maksud Adik ini, ulang tahunnya Yuni?”


“Benar Mbak. Saat itu kami hadir dalam pesta itu dan kami mau tau siapa teman kami yang membawa Jihan,” ucap Rani sambil menunjuk ke arah Jihan.


“Mbak, saat itu justru Jihan tidak tau makanya kami mencari informasi dari CCTV yang ada.”


“Saat itu saya tidak sadar mungkin telah dimasukkan sesuatu ke minuman saya Mbak,” jelas Jihan mulai buka suara.


“Oh gitu... Entar ya Dik, saya tanya dulu mas Adit karena mas Adit yang tau tentang itu,” jelas mbak itu.


“Terima kasih sebelumnya ya Mbak.”


Kemudian wanita itu pergi masuk ke dalam mencari mas Adit sedangkan Rani dan Jihan masih duduk di depan kasir menunggu kedatangan mas Adit. Tidak lama kemudian mbak cantik itu kembali lagi bersama seorang pria yang masih muda. Pria itu langsung tersenyum ramah ke arah Jihan dan Rani.


“Adik ini ingin melihat CCTV ya?” tanya pria itu.

__ADS_1


“Iya Mas...” jawab Rani dan Jihan bersamaan.


“Ayo kita masuk Dik biar nanti kita lihat sama-sama.”


Rani dan Jihan kemudian masuk mengikuti mas Adit. Ternyata mas Adit adalah adik pemilik cafe ini sehingga dia mempunyai tanggung jawab yang penuh terhadap cafe ini.


Dengan perasaan takut Jihan memperhatikan layar yang ada di depannya. Dia khawatir kalau lelaki yang dimaksud itu adalah Leo. Rasa kekhawatiran Jihan karena Leo beda agama dengan Jihan sehingga akan sulit nantinya untuk meminta pertanggung jawaban dari Leo. Jihan berharap kalau lelaki yang telah menidurinya bukanlah Leo.


Mas Adit yang cukup mahir dalam bidang IT langsung bisa melihat saat kejadian itu. Saat kejadian itu lebih kurang pukul sembilan malam. Ketika mereka melihat ke layar monitor tepat dipukul sembilan malam terlihat jelas kalau Leo sedang merangkul pundak Jihan dan membawanya keluar dari ruang tempat mereka merayakan ulang tahun itu.


“Jihan, ternyata dugaan kamu benar. Leo adalah orang yang terakhir bersama kamu,” ucap Rani.


Setelah mendapat informasi yang cukup akurat kemudian Rani dan Jihan pamit pulang.


“Kalau begitu kami mengucapkan terima kasih banyak ya Mas atas informasi yang sudah Mas berikan,” ucap Rani saat akan pergi.


“Iya Mas, kami terima kasih banyak ya,” ucap Jihan lagi.


Rani dan Jihan berjalan keluar dari cafe itu masih terdiam. Sedikit pun mereka tidak ada bicara karena mereka sedang memikirkan apa yang baru mereka lihat. Rasanya tidak percaya dengan CCTV yang ada karena mereka tidak menyangka kalau Leo yang baru saja mereka kenal tegah melakukan hal itu. Jihan juga sempat terkejut dan takut ketika melihat ternyata pria yang terakhir bersamanya adalah Leo. Jihan langsung terduduk lemas saat itu. Dia sangat kecewa karena pria itu ternyata Leo yang tidak mungkin diminta pertanggung jawabannya karena beda agama.


Setelah mengetahui hasil CCTV itu Rani dan Jihan langsung berjalan pulang. Keduanya kemudian duduk di pinggir jalan untuk naik angkutan umum lagi.


“Rani, menurut kamu apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus minta pertanggung jawaban Leo, sementara kan kamu tau sendiri kalau kami beda agama,” ucap Jihan minta pendapat Rani.


“Kalau menurut aku, bagaimana pun kamu harus mengatakannya pada Leo, Jihan karena bagaimana pun bayi yang ada di dalam kandungan kamu adalah anaknya Leo.”


“Tapi aku masih ragu apakah Leo mau mengakui ini anaknya?”


“Kalau memang dia nggak mau mengakuinya, nanti sampai bayi kamu lahir langsung kamu tes DNA-nya.”


“Tapi kami beda agama Ran...”

__ADS_1


“Kalau menurut aku, yang penting kamu cerita dulu sama dia. Kalau dia mau bertanggung jawab dan mau masuk Islam ya kamu terima saja. Tapi kalau dia mau mengakuinya tapi kamu yang diajak masuk Kristen, ya jangan mau. Jangan kamu korbankan agama kamu karena untuk mendapatkan pertanggung jawaban dari dia. Lebih baik kamu melahirkan tanpa seorang ayah dari pada baru pindah agama,” jelas Rani.


Jihan hanya diam saja merenungi ucapan temannya itu.


__ADS_2