
Pagi hari yang cerah dengan alam yang sangat mendukung, seperti mengetahui bahwa hari ini acara wisuda Ara dan para sahabatnya, Ara beserta keluarga bersiap-siap untuk menghadiri acara wisuda Ara.
Senyuman indah selalu Ara terbitkan sebelum berangkat ke gedung peresmian wisuda nya. Seketika senyuman itu menghilang untuk sementara waktu, setelah mendapat kabar bahwa calon suami nya tidak dapat hadir karena harus ke luar kota untuk menangani proyek yang sedang bermasalah.
Ara bersedih mendengar Tommy yang tidak bisa datang, ia berusaha menampilkan senyuman indah. Sebenarnya Tommy tidak tega saat melihat wajah calon masa depannya cemberut, tetapi dipaksakan untuk tetap tersenyum. Ara yang merengek meminta untuk mampir sebentar ke rumah sebelum berangkat, ditolak oleh Tommy demi menjalankan peran.
Tommy sudah memberitahu kepada semua keluarga untuk tidak membongkar kejutan yang di siapkannya, sehingga semua keluarga juga mengambil peran dalam kejutan Tommy. Dia ingin setiap kejutan yang diberikan untuk calon istrinya menjadi berkesan sehingga tidak akan pernah melupakannya.
Tiba lah saat nya acara wisuda, Ara mengikuti setiap acara yang di selenggarakan mulai dari awal sampai selesai. Ara sangat bahagia ketika menjadi mahasiswa terbaik di fakultas nya dengan nilai tertinggi atau sering di sebut dengan cum laude. Hal itu tidak membuat seorang Ara menyombongkan diri, menurut nya dia bisa sampai ke titik itu, semua karena kebaikan Yang Maha Kuasa dan dukungan orang-orang yang menyayangi dirinya.
Walupun Ara sedikit kecewa akan ketidakhadiran calon suami, tetapi hal itu tidak bisa menutupi rasa kebahagian nya saat ini. Melihat dirinya bisa lulus bersama dengan teman-teman nya. Suka duka mereka jalani mulai dari SMA, mengerjakan skripsi dan kemana-kemana selalu bersama. Ara ingin ketika mereka menentukan masa depan masing-masing nanti, hal itu tidak membuat kedekatan mereka menjadi renggang walaupun setelah wisuda sudah pasti jarang bertemu.
Ketika Ara dan sahabatnya ingin menghampiri Rio tiba-tiba para fans Rio meminta untuk berfoto bersama. Dengan Rio diapit ditengah-tengah membuat orang yang melihat nya menjadi tertawa meledek akan reaksi Rio saat ini, Rio tidak bisa menolak bahkan berkomentar sedikit pun.
"Ya ampun... Rio kasihan bangat lo, bukannya dapat kado berupa uang. Eh, malah dapat fans alay." ledek Jel ketika sudah di hadapan Rio.
"Bantuin gue dong," ucap Rio memelas
"Syukurin," ucap mereka bertiga serempak lalu meninggalkan Rio dikerumuni perempuan-perempuan alay.
"Tega banget sih lo bertiga gak ingat apa? selama ini gue bagai pengawal jagain tiga bidadari," teriak Rio masih bisa didengar para sahabatnya.
"Oh, lo gak rela memberikan kebaikan lo dengan tulus." Ara berkacak pinggang membalikkan tubuhnya.
"Sudah, kita pergi saja biarkan dia sendirian," ucap Liz menarik kedua sahabat nya.
Ara keluar dari gedung bersama sahabat-sahabatnya, sebelum nya orang tua mereka sudah keluar duluan untuk menemui orang-orang yang sedang menunggu yang baru wisuda.
Sesampainya di lapangan gedung, mereka semua mendapatkan berupa ucapan selamat dan kado yang telah disiapkan, seketika Ara melihat ke sekitarnya berharap seseorang muncul memberikan ucapan selamat secara langsung. Mama Tommy yang memperhatikan gerak-gerik Ara menjadi tersenyum sendiri. "Nak, Tommy menitipkan kata selamat dan pelukan hangat untuk calon istrinya," ucap Mama Tommy pura-pura sembari memeluk Ara.
Ara melihat calon mertuanya sebisa mungkin dia tersenyum. "Terimakasih tante." membalas pelukan calon mertua.
__ADS_1
"Jangan sedih ya! maafkan Tommy yang tidak bisa hadir," lirih Papa Tommy.
"tidak apa-apa om." menampilkan senyuman manis.
"Cantik bangat calon menantu kita ya Pa!" goda mama Tommy karena melihat polesan make up Ara yang tipis.
Papa Tommy tersenyum mengangguk kepala, saat ini tangan nya sudah memeluk pinggang istrinya dari samping. "Tommy tidak salah pilih," ujar Papa Tommy memperhatikan calon menantunya yang ditarik oleh sahabatnya untuk berfoto.
Ara sedang sibuk foto-foto dengan yang lain nya, sehingga keringat sudah membanjiri kening nya. Ara yang sudah gerah, ingin sekali rasa nya membuka kebaya yang dipakainya, tetapi hal itu tidak memungkinkan karena situasi nya saat ini dia lah ratu nya. "Aduh gue capek." gumam Ara yang masih bisa didengar Ryan dan Alex.
"Apalagi gak ada calon makin terasa ya dek capeknya." goda Alex.
"Jangan memperkeruh suasana hati adek deh bang," kesal Ara.
Ryan dan Alex hanya terkekeh mendengar perkataan Ara.
Semua keluarga setuju untuk merayakan wisuda Ara dan teman-temannya digabung saja di salah satu hotel milik keluarga William, dimana lokasi itu berdekatan dengan pantai sehingga Ara dan teman-temannya merasa terharu akan kebaikan orang sekitarnya.
"Ya elah, operatornya mau minta diisikan pulsa kali ya!" ucapnya nyeleneh karena tidak mendapat balasan suara dari seberang sana.
"Hahaha ratu sehari senyum dong, masa mau merayakan hari gelarnya cemberut gitu." goda Ryan yang saat itu mengemudikan mobil.
"Adek kesal bang, belum nikah aja udah dibuat kecewa berulang kali gimana kalau udah nikah." gerutu Ara memajukan bibir bawahnya.
"Hahaha." tawa Ryan enggan rasanya membalas perkataan sang adik.
"Ih... abang jangan ketawa dong adek lagi kesal ini." manja Ara memukul pelan lengan Alex yang sedang memegang kemudi.
"Aduh calon pengantin, udah mau dihalalin juga masih aja kayak bocah gak malu apa sama gelarnya." ledek Alex melirik sekilas.
"Udah ah, adek mau tidur. Nanti kalau sudah sampai bangunin ya bang!" ucap Ara memejamkan matanya.
__ADS_1
Setelah semua orang sampai di hotel, mereka langsung menuju pantai karena acara nya sudah di persiapankan mulai dari pagi hari, saat itu masih sore dengan cuaca yang sangat mendukung. sebelum menuju pantai Alex meminta Ara menutup mata dengan kain yang telah disiapkan, karena pesan dari Tommy, sesudah sampai hotel yaitu untuk menutup mata terlebih dahulu.
Selama di perjalanan menuju pantai, Ara selalu menggerutu karena kesal. Hanya dia saja yang ditutup mata nya tidak dengan teman-teman nya, sesampai nya di pantai seseorang membuka kain yang menutup mata Ara dari belakang. dia pun membelalakkan mata melihat situasi pantai yang di ubah menjadi menarik dimata Ara.
"Wow, keren banget," gumamnya merasa takjub.
Karena fokus melihat ke arah depan, Ara tidak menyadari seseorang dibalik punggungnya, ketika Ara berbalik ingin bertanya. Tiba-tiba Ara dikagetkan akan kehadiran seseorang yang sedang tersenyum dengan wajah khas Tommy dirgantara, ia dengan memasukkan tangannya ke saku celana.
"Selamat datang didunia sesungguhnya, selamat menikmati dunia pengangguran calon istri," ucap Tommy dengan senyum khasnya.
"Hahahaha," semua orang tertawa mendengar perkataan Tommy.
"Honey, jahat bangat sih..." Ara reflek menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, ia tahu bahwa saat ini dirinya sedang keceplosan.
Mengingat Ara tidak pernah mengatakan kata-kata manis seperti itu membuat Tommy terkejut mendengarnya kemudian ia tersenyum penuh arti.
"Kamu panggil aku dengan sebutan sayang?" tanya Tommy antusias matanya sudah berbinar-binar menunggu jawabana dari wanita yang ada didepannya.
Ara yang menyadari perkataannya menjadi merona karena malu. "Salah dengar."
"Pendengaran ku itu tidak rusak. Dipertahankan ya! panggilannya," ucap Tommy sembari mengedipkan sebelah mata. "Tidak ada penolakan." sambung Tommy tegas.
"Iya, honey," goda para sahabat nya serempak
Seketika nyali Ara ciut dengan mengangguk kepala, banyak godaan yang dilontarkan sahabat nya karena keceplosan memanggil Tommy dengan sebutan honey.
Acara wisuda Ara dan teman-teman nya dilakukan dengan senyuman dan tawa bahagia, mereka menikmati setiap momen bersama keluarga mereka yang sedang berkumpul.
__ADS_1