
Akhir pekan yang dijanjikan oleh Tommy akan berkunjung ke rumah orang tua Ara, ditagih ketika bangun tidur, ia pun mengangguk pasrah dan kemudian menolak permintaannya. Faktanya Ara meminta berkunjung ke rumah Mertuanya kemudian ke rumah orang tuanya, tentu saja ia tidak membenarkan apa yang diinginkan sang istri, bukan hanya jarak rumah saja yang jauh, tetapi kediaman orang tua dan mertuanya beda jalur.
"Sekali tidak tetap tidak," tegas Tommy.
"Anak kita rindu Oma dan Neneknya," elak Ara.
"Stop bawa-bawa anak kita, aku tahu itu semua cuma akal-akalan kamu," kesal Tommy.
"Kamu nggak percaya banget sih sama aku, yang hamil itu aku sebagai emaknya bukan kamu, jadi aku tahu apa yang diinginkan adek bayi," ketus Ara.
"Sekarang kamu mandi, nanti kita lanjutkan lagi perdebatannya," seru Tommy beranjak dari tempat tidur.
"Aku nggak mau mandi sebelum kamu turuti permintaan aku." Ara bersikeras untuk mengunjungi rumah mertua dan orang tuanya sekaligus.
"Kalau kamu capek, bagaimana?" tanya Tommy penuh perhatian.
"Istirahat dong, gitu aja kok repot," santai Ara.
Tommy menghela napas kasar, Ia mendekati Ara kemudian mengapit hidung mancungnya. "Kapan sih kamu, nggak keras kepala."
"Aku mau ke rumah Mama," rengek Ara.
"Iya, iya. Sekarang kita mandi dulu." Tommy mengangkat Ara ala bridal style menuju kamar mandi, diletakkannya sang istri dengan hati-hati ke dalam bath up kemudian ia meninggalkan istrinya mandi.
Selama Ara mandi, Tommy ke dapur untuk menyiapkan sarapan, awalnya ia bingung untuk membuatkan sarapan untuk istrinya yang hamil, melihat ada persediaan telur dan juga beras merah akhirnya Tommy membuat omelet bayam dan nasi merah.
selesai menyiapkan sarapan, Tommy membersihkan tubuh di kamar mandi yang ada dibawah.
Ara yang selesai mandi turun ke lantai dasar, perutnya yang sudah minta diisi membuat dirinya menuju meja makan, ia yakin kalau suaminya sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.
Saat ingin mendaratkan tubuhnya, Tommy menghampiri sang istri, tidak butuh waktu yang lama baginya untuk membersihkan tubuh, lain dengan Ara jika sudah di kamar mandi, istrinya itu tahan sampai setengah jam lebih di kamar mandi.
Tommy dan Ara sarapan dengan santai, hanya ada obrolan kecil sampai makanan yang dilahap oleh mereka berdua habis.
"Jadi kita kemana?" tanya Ara setelah selesai sarapan.
"Terserah kamu, yang penting jangan berkunjung ke dua tempat sekaligus,"
"Honey, boleh ya!" manja Ara menghampiri Tommy, ia sengaja merangkul leher sang suami yang masih setia duduk dari arah belakang.
"Kamu nggak boleh capek,"
"Aku nggak capek, apalagi ada kamu disamping aku," rayu Ara.
"Sekarang kita ke rumah Mama mertua ya! Minggu depan kita ke rumah Mama,"
"Kalau aku menolak, bagaimana?"
"Ya sudah, tidak jadi pergi,"
__ADS_1
"Daddy, jahat ..."
Tommy hanya tertawa kecil.
"Oke, aku perginya sendiri saja, kamu nggak usah ikut," ancam Ara pura-pura berjalan meninggalkan Tommy.
"Kamu nggak boleh pergi tanpa seijinku,"
"Apa? Nggak dengar ..." teriak Ara, ia pura-pura berlari kecil ke lantai dua untuk mengambil tas dan juga kunci mobilnya.
Tommy menyusul sang istri dengan cepat, istrinya itu selalu saja ceroboh, membuat dirinya semakin khawatir.
"Mau kemana?" tanya Tommy pura-pura setelah sampai didekat Ara.
Dengan santainya Ara menjawab, "Pergi dong."
Tommy masih pura-pura bodoh. "Kemana?"
"Terserah aku mau kemana, yang penting nggak sama kamu," kesal Ara.
"Berani pergi tanpa aku? Padahal kamu belum minta ijin lho sama suami, kamu nggak takut, dosa kamu bertambah karena pergi nggak bilang-bilang," goda Tommy.
"Tuh kan, kamu ngeselin," gerutu Ara.
"Nggak,"
"Kamu kedinginan?" tanya Tommy untuk menggoda Ara lagi.
tak ada jawaban apapun dari balik selimut, Tommy mendekat ke arah istrinya, dengan lembut dibukanya selimut yang menutupi tubuh mungil sang istri.
"Honey, nggak jadi pergi?"
"Nggak, aku marah sama kamu," kata Ara yang siap untuk menangis.
"Harusnya aku dong yang marah sama kamu,"
"Kenapa jadi kamu? Yang buat aku kesal kan kamu, masa kamu marah sama aku," Ara tidak terima dengan ucapan suaminya.
"Iya deh, kamu menang," pasrah Tommy.
Lagi-lagi Ara mengerucutkan bibirnya, membuat Tommy tidak tahah melihat istrinya yang sangat menggemaskan.
"Kita pacaran di rumah saja, nggak usah pergi kemana-mana," ujar Tommy.
"Nggak mau, aku mau tidur, keluar sana," usir Ara.
"Kalau aku keluar, yang temani kamu disini, siapa?"
"Ih, menyebalkan," Ara kembali menutup dirinya dengan selimut.
__ADS_1
Tommy terkekeh geli, ia seperti membujuk putri kecilnya yang menangis karena tidak dikasih uang jajan.
"Aku hanya bercanda, kamu jangan marah terus, nanti anak kita jadi pemarah,"
Ara hanya diam.
"Honey ..."
Tetap tidak ada jawaban.
"Kamu ganti baju dulu, pakailah baju yang nyaman ketika tidur supaya anak kita tidak terlalu sesak di dalam sana," kata Tommy memperingatakan Ara yang belum mengganti pakainnya yang ingin keluar.
Ara benar-benar marah kepadanya, sedari tadi Tommy berbicara tetap tak ada sahutan dari istrinya. Ia pun diam tak lagi melanjutkan perkataannya. Ia merangkak naik ke atas ranjang, dengan hati-hati ia merebahkan dirinya disamping Ara dan memberi jarak diantara keduanya.
Dasar suami nggak peka, istri lagi marah, bukannya dibujuk malah ditinggal, kalau tahu tadi seperti itu mending aku nggak jadi marah. batin Ara dari balik selimut.
Merasa suaminya tidak lagi disisinya, perlahan ia membuka selimut dengan pelan untuk mengintip sang suami masih ditempatnya atau tidak, sedikit demi sedikit kepalanya muncul dari balik selimut.
"Beneran pergi," gumamnya sembari melihat ke arah samping.
"Kamu," kata Ara yang baru menyadari suaminya ikutan berbaring disampingnya.
"Iya, aku," seru Tommy tersenyum.
Ara kesal, ia mengambil posisi duduk lalu mengambil bantal, dilemparkannya bantal tersebut ke arah wajah suaminya.
"Aku makin kesal sama kamu,"
Ara hendak pergi meninggalkan suaminya, tetapi pergelangan tangannya langsung ditahan.
"Tunggu dulu,"
"Lepas," ia berontak untuk melepaskan diri.
Bukannya melepas malahan Tommy mendekat sehingga dirinya memeluk sang istri.
"Jangan marah-marah lagi, sekarang kita pergi ke rumah Mama," ucap Tommy.
"Mama mertua atau Mama aku?" tanya Ara penuh selidik.
"Kamu pilih salah satunya, jangan langsung berkunjung ke dua tempat,"
Ara mengangguk pasrah, "Iya, dari pada nggak jadi pergi,"
"Good girl," ucap Tommy, ia mengecup pucuk kepala Ara.
"Pakai lagi sepatu dan tas yang kamu lemparkan tadi," ledek Tommy.
Ara tersenyum malu dengan tingkahnya yang seperti anak-anak.
__ADS_1