
Beberapa Tahun Kemudian.
Setelah tahap demi tahap dilalui oleh Ara beberapa tahun belakangan ini. Akhirnya ia berhasil menjadi dokter spesialis obgyn di salah satu rumah sakit yang berada di jakarta atau lebih tepatnya tempat dia koas dulu.
Ps: Dokter obgyn atau disebut dokter spesialis obstetri dan ginekologi yaitu dokter kandungan yang berperan dalam memeriksa ibu hamil, membantu persalinan serta perawatan setelah persalinan.
Begitu juga dengan para sahabatnya. Saat ini Jel sudah menjadi salah satu dosen kedokteran di kampus nya dulu, walaupun dirinya pecicilan seperti Ara, tetapi dirinya mempunyai stok kesabaran dalam mengajar atau pun mendidik. Sudah bertahun-tahun Jel menjalin hubungan dengan Alex. Hal itu membuat Jel semakin tidak berani membangun rumah tangga bersama kekasihnya, berkali-kali Alex melamar Jel, tetapi selalu di tolak, dengan alasan masih trauma atas kejadian dimasa lalu.
Temannya yang satu lagi yang bernama, Liz Mahendra. Memilih menjadi dokter umum, ia tidak berniat mengambil dokter spesialis seperti sahabatnya karena ia ingin fokus terhadap keluarga kecilnya. Ya, setelah dirinya sumpah dokter beberapa tahun yang lalu, ia dilamar oleh Ryan. Sehingga membuat dirinya bahagia karena keinginannya terkabul untuk menikah dengan pria yang sangat dicintainya.
Saat ini Liz dan Ryan dikarunia seorang putra yang bernama Abdiel Lautner atau sering di panggil dengan sebutan, baby El. Usia anak mereka yang menginjak satu tahun membuat kedua orang tuanya kewalahan karena, baby El yang sangat aktif tidak mau diam, ketika mereka bekerja putranya akan dititipkan kepada kedua orang tua mereka secara bergantian.
Sedangkan Rio sama seperti Ara yang mengambil dokter spesialis obgyn, ia juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Ara, walaupun sudah bertahun-tahun Ara sudah menikah, hal itu tidak membuat Rio melupakan Ara malahan ia semakin tertarik dengan Ara. Alasan dirinya bekerja di rumah sakit yang sama dengan Ara sebenarnya rencana Rio untuk bisa tetap dekat dengan Ara. Tetapi walaupun begitu, dirinya tidak berniat untuk merebut istri orang hanya saja ia belum bisa melupakan Ara.
***
Kediaman Tommy dan Ara.
Tommy beberapa hari yang lalu melakukan perjalanan bisnis selama tiga hari di luar kota, hal itu membuat dirinya merindukan sosok sang istri. Hari ini dia sudah pulang ke rumah nya karena urusan bisnis yang telaj di hadiri beberapa hari sudah beres, sesampainya dirumah ia mendapati rumah kosong, tidak mendapati sosok sang istri padahal dirinya sengaja tidak memberitahu sang istri akan kepulangannya karena ingin membuat kejutan terhadap istrinya.
Tommy menghela nafas melangkahkan kakinya menuju kamar lantai atas, ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang ada di dalam kamar mereka, ia memilih tidur sembari menunggu istrinya pulang ke rumah.
Sore harinya Ara ingin pulang ke rumah karena semua urusan di rumah sakit sudah selesai Ara mengurungkan niatnya untuk pulang karena tiba-tiba Rio mengirimkan pesan untuk bertemu, mengobrol sebentar di cafe dekat rumah sakit, Ara melangkah kan kakinya menuju cafe.
__ADS_1
Ara masuk kedalam cafe mencari sosok seseorang yang ada di cafe itu, setelah ia melihat orang yang dicari, ia menghampiri orang tersebut. "Ada apa, Ri?" menarik kursi yang ada di dekat meja tersebut mendaratkan tubuhnya dikursi itu.
Rio tersenyum melihat Ara yang baru datang. "Cuma mau bilang temani gue makan! tadi siang gue belum makan." memilih menu makanan dan minuman yang ada di buku menu.
Menatap Rio dengan kesal, ia sudah lelah ingin merebahkan tubuh nya di atas kasur yang empuk, tetapi teman nya ini tidak mengerti akan dirinya yang kelelahan nya. " Parah lo, gue kira ada yang mau dibicarakan." berdiri dari duduknya ingin meninggalkan Rio.
"Kita udah lama gak makan barang, Ra. Sekali ini aja temani gue makan ya!" Rio memelas dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada berharap bahwa perempuan yang afa didepannya mengabulkan permintannya.
Menatap tajam ke arah Rio. "Eh, anak ayam, gak usah drama deh lo! kita sering makan sama ya di kantin," Jika kedua nya tidak sibuk maka saat jam makan siang mereka akan makan bersama dikantin rumah sakit.
Rio hanya cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maksud gue makan di cafe ini bukan di kantin, ayo dong, Ra! duduk lagi ya, temani gue makan ya! atau lo pesan makanan juga deh gue yang traktir." mengeluarkan jurus jitu jika masalah traktiran Ara langsung mau menemaninya, sebenarnya jika makan berdua, Rio yang selalu membayar tagihan makanan mereka, entah kenapa jika, Rio sudah mengatakan 'Gue traktir' mata Ara langsung berbinar-binar sehingga Rio menggeleng kepala melihat sahabatnya yang satu ini.
Ia duduk kembali dikursi yang ada didekatnya. "Dari tadi kek." mengambil buku menu lalu memilih makanan yang ada dibuku menu dipilihnya seseua selera.
Rio langsung tertawa gemas melihat tingkah Ara yang tampil apa adanya, hal itu yang membuat dirinya tidak bisa jauh dari Ara. "Gak hilang-hilang ya Ra! jiwa kemiskinannya." ledek Rio.
Menghela nafas, pertanyaan yang selalu membuat dirinya dilema, kedua orang tuanya juga selalu bertanya hal yang sama terus-menerus, ia bukannya tidak mau menikah hanya saja belum siap untuk membuka hati terhadap wanita lain. "Bosan gue sama pertanyaan lo," ucapnya malas.
Jika sudah mengobrol ada saja bahan topik yang di bicarakan walaupun ujung-ujungnya hal itu menjadi bahan candaan bagi Ara, karena keasyikan mengobrol Ara sampai lupa waktu bahkan dirinya juga tidak memberikan kabar satu harian ini kepada sang suami dan tidak mengetahui kalau suaminya sudah ada dirumah. "Gue pulang ya! udah bosan gue lihat muka lo, tadi niat gue pulang cepat terus menghubungi belahan jiwa gue, eh tahunya lo malah merusak rencana gue."
Memutar bola mata malas. "Gaya lo, Ra. Sementang udah jadi istri orang."
Tidak peduli dengan perkataan Rio, mengambil tas yang ada disebelah kursinya dan beranjak dari duduknya. "Gue pamit ya." meninggalkan Rio yang masih setia duduk ditempatnya.
__ADS_1
***
Sesampainyanya di rumah, Ara mengernyitkan kening melihat lampu rumah yang menyala karena seingatnya sebelum kerumah sakit ia mematikan beberapa lampu yanga ada di rumahnya. "Mungkin gue lupa," gumamnya langsung menaiki anak tangga menuju kamar.
Di dalam kamar, Ara terkejut sekaligus tersenyum melihat orang yang sangat dirindukan itu sedang tidur mengahadap ke arah pintu, ia naik ke atas ranjang lalu mendaratkan bibir tipisnya di wajah orang yang sangat di rindukan secara berulang-ulang.
Merasa terganggu tidurnya, Tommy membuka matanya secara perlahan lalu melihat wajah sang istri. "Honey....." gumamnya tersenyum lalu kembali memejamkan matanya.
Ara tersenyum geli menggelengkan kepala melihat tingkah lucu sang suami. "Bangun." memberikan kecupan keseluruh wajah sang suami tanpa ada yang terlewatkan.
Mengerjapkan mata beberapa kali setelah kesadarannya sudab kembali, ia langsung memeluk istrinya dengan erat sampai-sampai istrinya kesulitan bernafas. "Aku rindu....." mendaratlan bibirnya dipuncak kepala sang istri berulang-ulang dengan perasaan gemas.
Memukul pelan lengan suaminya. "Aku gak bisa nafas." masih berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Tommy melepaskan pelukannya, menatap wajah sang istri yang sudah duduk mengatur nafasnya, ia tersenyum melihat wanita yang ada dihadapannya saat ini. "Peluk lagi dong." manja Tommy merentangkan kedua tangan nya.
Menggeleng kepala. "No, aku mau mandi." turun dari ranjang meninggalkan sang suami belum juga kakinya masuk ke dalam kamar mandi, Tommy sudah mengangkat tubuh kecil istrinya ala bridal style. "Turunin aku...." teriak Ara memukul pelan dada suaminya ia berontak digendongan sang suami.
Membaringkan tubuh istrinya di ranjang king size yang ada di kamar mereka dengan hati-hati. "Nanti aja mandi, aku masih rindu sama kamu." Tommy mengedipkan sebelah matanya.
Ara yang mengetahui maksud dari suaminya berusaha kabur tetapi tidak bisa karena Tommy langsung mendekapnya lalu mendaratkan bibirnya dikepala sang istri. "Nanti kita mandi sama ya!" melakukan aksinya sehingga istrinya tidak bisa menolak akan permintaan suaminya.
Menatap wajah suaminya dengan kesal dirinya yang sudah bau keringat dari rumah sakit merasa risih ditambah badannya sekarang semakin lengket. "Aku marah sama kamu." melemparkan bantal yang ada di dekatnya ke wajah sang suami lalu turun dari ranjang dan berlari masuk ke dalam kamar mandi karena takut Tommy juga ikut bersama dirinya untuk mandi.
__ADS_1
Mengikuti istrinya menuju kamar mandi belum juga dirinya sampai di kamar mandi Ara sudah menutup pintu dengan rapat sebelum suaminya datang untuk menghampirinya. "Honey.... kita mandi bareng," teriak Tommy mengetuk pintu kamar mandi.
"Gak mau," teriak Ara yang sudah tertawa lepas didalam kamar mandi.