
Sesudah mengucapkan kata 'terima kasih' kepada Rio, Iren segera turun dari mobil Rio. Ia masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang.
Rio yang belum pergi hanya menatap punggung calon istrinya itu, ia berniat menyusul sang calon ke dalam rumah, tetapi langsung diurungkan niatnya. Rio takut jika Iren menolak kehadirannya bahkan mengusir dirinya.
Rio menghela napas, ia kali ini merasa bersalah kepada Iren. Ingin sekali dirinya mengatakan 'maaf' ia tahu jika saat ini Iren sedang marah dengan dirinya. Pusing dengan keadaan saat ini, ia melajukan kendaraannya untuk meninggalkan rumah Iren.
***
Keesokan harinya, Tommy dibuat pusing oleh Ara. Berulang kali ia memijat pelipisnya untuk meringankan rasa pusing yang ada di kepalanya. Ara yang meminta kepada Tommy supaya tidak pergi ke kantor hari ini, hanya bisa menghela napas berat.
"Honey, pagi ini aku ada pertemuan dengan orang yang bekerja sama dengan perusahaan kita. Aku gak bisa membatalkan pertemuan itu, mungkin besok aku menuruti permintaan mu!" kata Tommy dengan hati-hati.
"Aku sudah ijin supaya tidak bekerja, masa kamu gak bisa ijin sehari saja." Ara yang masih duduk di atas ranjang, memperhatikan sang suami sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Tommy yang merasa lucu mendengar perkataan sang istri langsung menghampiri nya, ia mengacak rambut Ara sampai berantakan. "Aku ijin sama siapa?" tanya Tommy untuk menggoda istri keras kepalanya itu.
Dengan mata yang melotot, Ara berbicara ketus kepada Tommy. "Bos kamu lah." Ara merapikan bagian rambut yang mengenai wajahnya.
Tommy tidak bisa lagi menahan tawanya, ia terbahak-bahak mendengar sang istri yang selalu berbicara tanpa tahu apa yang diucapkan. "Bos aku?" tanya Tommy disela-sela tawanya.
"Ih... Menyebalkan." Ara mencubit perut Tommy dengan pelan.
Tommy yang masih tertawa menangkap tangan Ara lalu mengecup punggung tangannya. "Bos nya kan ada didepan kamu! masa aku ijin sama diri sendiri sih!"
Ara reflek menepuk jidatnya, ia benar-benar lupa jika suaminya adalah seorang pemimpin perusahaan. "Oh, iya. Aku lupa."
Tommy menggeleng kepala. "Ya, sudah. Kamu mandi dulu, sana!"
Ara mengangkat kedua tangannya ke udara. "Mandiin..."
"Suami mu ini sudah mandi, gak mungkin kan! Aku mandi lagi." Ia tidak bermaksud menolak permintaan Ara, melihat waktu yang terus berjalan membuat dirinya ingin segera berangkat ke kantor. Ingin sekali dirinya meninggalkan Ara tetapi hal itu tidak dilakukan karena tidak ingin membuat mood Ara menjadi jelek hari ini. Tommy yang tidak bisa lagi memberikan alasan akhirnya berpikir untuk membawa Ara ikut bersamanya.
Tanpa menjawab apa pun, Ara turun dari ranjang. Ia berjalan sembari menghentakkan kedua kakinya menuju kamar mandi.
Sepeninggalan Ara, Tommy yang sudah rapi segera menghubungi Ryan selaku asistennya diperusahaan yang dia pimpin, ia menyuruh Ryan untuk mewakilkan pertemuannya, tetapi tidak bisa, orang yang bekerja sama dengan perusahaannya mengatakan harus bertemu dengan pemimpin perusahaan tersebut karena ada hal yang harus dibicarakan.
Ia berjalan mondar mandir, ia ragu untuk membawa Ara ke perusahaan, ia takut jika istrinya bosan menunggu dirinya yang membicarakan bisnis dengan orang yang bekerja sama dengan perusahaanya.
Ara yang sudah selesai membersihkan tubuhnya, mengerutkan kening dalam-dalam, ia bisa melihat kalau suaminya itu sedang gelisah. "Kamu kenapa?"
Tommy menghampiri Ara yang berjalan ke arah lemari pakaian, ia mengambil handuk kecil dari tangan sang istri yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. "Aku ke kantor sebentar ya! Aku janji setelah urusan di kantor selesai, aku langsung pulang."
__ADS_1
Ara berpikir sejenak, ia menatap wajah Tommy yang ada disampingnya. "Aku ikut ya!"
"Kamu disini saja!" tolak Tommy dengan lembut.
"Aku lagi ngidam lho, masa kamu gak mau turutin kemauan aku, padahal kan aku lagi hamil anak kamu." Ara memberi alasan kepada Tommy supaya dijinkan oleh sang suami.
"Ngidam kamu lucu," kata Tommy yang sudah terkekeh. Ia masih mengeringkan rambut Ara yang basah, setelah dirasa rambut istrinya sudah kering, ia menaruh handuk kecil itu ke tempat nya.
"Aku pakai yang mana ya!" kata Ara memperhatikan pakaian yang tertata rapi.
Tommy yang sudah dibelakang istri kecilnya, mengambil salah satu longdres yang ada didalam lemari. "Yang ini saja."
"Jangan ini," tolak Ara mengembalikan pakaian yang dipegang oleh suaminya ke dalam lemari.
"Ara..." panggil Tommy dengan suara lembut.
"Aku gak mau pakai longdres, aku pakai celana saja." Ara yang nyaman menggunakan celana akhirnya memilih salah satu celana jeans berwarna putih dengan baju berwarna biru.
Tommy hanya tersenyum melihat wanita yang sudah menjadi istrinya itu, ia sangat menyukai Ara yang tampil apa adanya. Sekalipun dirinya tidak pernah melihat Ara yang tampil berlebihan. Istrinya itu selalu terlihat sederhana. Ya, walaupun terkadang gonta ganti pakaian untuk berpergian.
Setelah bersiap-siap, Ara menarik tangan Tommy untuk turun kebawah. "Ayo."
"Kamu sudah sarapan?" tanya Ara balik.
Tommy mengangguk kepala, ia memang sudah sarapan setelah membersihkan tubuh. sebelum mandi juga Tommy menyempatkan waktu untuk membuat sarapan.
"Aku sarapan di kantor saja," kata Ara untuk menghemat waktu. "Aku bawa bekal ke kantor kamu ya!" Ara berjalan ke dapur, ia mengambil beberapa kotak makanan untuk di isi dengan makanan yang sudah tersedia di meja makan.
Tommy yang melihat istrinya masih sibuk dengan bekal yang akan dibawa langsung membuatkan susu hamil untuk istri tercintanya. "Kamu minum susu dulu!" seru Tommy memberikan segelas susu hamil yang hangat kepada istrinya.
Ara menerima susu ibu hamil itu dengan perasaan haru, suaminya itu memang perhatian dan juga sabar dengan tingkahnya. "Kita berangkat, yuk," ajak Ara setelah meletakkan gelas kosong ke atas meja.
"Aku simpan gelas kamu dulu!" balas Tommy, ia menyimpan gelas kosong sang istri ke dapur.
***
Di perjalanan, menuju perusahaan keluarga Dirgantara. Ara merasa jika perutnya sedang kelaparan, ia melirik Tommy yang fokus mengemudi. Melihat wajah Tommy yang datar membuat ia tidak berani mengatakan jika saat ini dirinya 'lapar' demi menghilangkan rasa lapar nya, Ara menatap ke arah jalanan, tidak sengaja Ara melihat penjual mie ayam yang ada di pinggir jalan, Ia menelan ludahnya berkali-kali, perutnya semakin lapar, ingin sekali Ara menyuruh sang suami untuk berhenti sebentar, tetapi dia takut membuat suaminya itu marah, apalagi mengingat Tommy sedang terburu-buru.
Saat ini, ia sangat tidak nyaman karena perutnya selalu berdemo meminta di isi, ia mennggigit ibu jarinya sembari melirik Tommy, dengan ragu Ara berbicara kepada suami yang tidak membuka suara sedari tadi. "Honey, sampai kantor aku delivery mie ayam, boleh?"
Masih fokus menatap jalanan, Tommy menjawab dengan datar. "Enggak boleh."
__ADS_1
"Aku pengen." Ara berbicara pelan tetapi masih bisa didengar oleh Tommy.
Tommy menghela napas, ia lirik sekilas istrinya yang sedang tertunduk itu dengan meremas kedua tangannya.
Hening...
Hening...
Sesampainya di tempat parkir, Tommy dan Ara keluar dari mobil, karena sudah terlambat menepati janji dengan rekan bisninya ia meraih tangan Ara. Mereka bergandengan tangan ketika menuju ruangannya, semua mata melihat ke arah mereka tetapi tidak dihiraukan oleh Tommy sedangkan Ara hanya bisa tertunduk karena malu.
Tommy masuk ke ruangan nya, ia dapat melihat rekan bisnisnya sedang mengobrol dengan asistennya. "Maaf, saya terlambat." Tommy merasa bersalah telah membuat rekan bisnisnya itu telah menunggu.
Tommy berjabat tangan dengan rekan bisnisnya itu.
"Tidak, Pak Dirgantara. Saya juga baru sampai." Rekan bisnisnya itu tersenyum ramah kepadanya sembari beranjak dari duduknya.
"Sekali lagi saya minta maaf, istri saya lagi ngidam jadi tidak bisa ditinggal sendiri di rumah, kenalkan ini istri saya," ujar Tommy memperkenalkan Ara.
Lawan bicaranya hanya tersenyum ramah sembari memperhatikan Ara. "Halo, Nyonya Dirgantara." ia menjabat tangan Ara.
Ara membalas jabatan tangan rekan bisnis sang suami. Ara tersenyum canggung karena rekan bisnis suaminya itu belum juga melepaskan tangannya.
Tommy yang tidak suka jika istrinya disentuh oleh orang lain, langsung menarik tangan sang istri. "Silahkan duduk, Pak," kata Tommy kepada rekan bisnisnya.
Melihat rekannya itu sudah duduk kembali, Tommy menatap wajah istrinya. "Honey, kamu sarapan di ruangan pribadi ku ya!" seru Tommy menyuruh Ara untuk masuk ke ruang pribadi yang tersedia di ruangan kerjanya.
Ara hanya mengangguk kepala, Ara tahu ini waktu yang tidak tepat untuk membantah sang suami, apalagi ada rekan kerja suaminya. Ia tidak ingin berdebat didepan orang lain.
Ara masuk ke ruangan pribadi Tommy sembari membawa bekal yang telah disiapkan dari rumah. Ia menonton film kartun kesukaannya, dengan lahap Ara menikmati sarapan buatan sang suami.
Beberapa menit kemudian Ara sudah selesai dengan sarapannya tetapi dirinya masih juga kelaparan, ia berjalan ke pintu keluar untuk mengintip orang yang ada di luar ruangan pribadi itu, ia dapat melihat jika suaminya itu sedang berbicara serius dengan rekan bisnisnya.
Ia mengurungkan niatnya untuk meminta dibelikan makanan, ia berjalan ke sembarang arah. Melihat ada lemari pendingin seketika mata Ara berbinar-binar, dengan perasaan bahagia Ara membuka lemari pendingin itu, berharap ada makanan disana. Setelah dibuka, Ara menjadi lesu ternyata sang suami hanya menyediakan minuman kaleng di dalam lemari pendinginnya.
Ia berusaha mencari makanan di sekelilingnya, tetapi tidak menemukan apa-apa. Ia mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas dekat ranjang, ia mengirimkan pesan kepada Tommy, tidak lama tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
Dengan malas Ara melangkahkan kakinya untuk membuka pintu tersebut, ia dapat melihat kalau sekretaris yang berada di luar ruangan pribadi suaminya itu membawa beberapa kantong plastik. Ya, Ara mengirimkan pesan 'lapar' kepada Tommy.
Tommy yang membaca pesan istrinya itu menjadi tidak tega terhadap istrinya, hal itu membuat dirinya menyuruh sekretarisnya untuk membeli makanan kesukaan sang istri.
Ara yang bahagia langsung menerima kantong plastik yang berisi makanan, ia menuju ranjang suaminya, ia membuka kantong plastik tersebut kemudian melahap makanan kesukaan yang diberikan oleh sekretaris suaminya itu.
__ADS_1