Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Cucu


__ADS_3

"Ara maafkan anak mama ya!" ucap mama Tommy merasa iba melihat mata sembab menantu kesayangannya.


Ara dan Tommy saling bertatapan karena bingung akan perkataan mamanya.


"Kenapa Ara harus memaafkan kak Tommy?" tanya Ara heran.


"Anak Mama pasti membuat kesalahan, makanya mata kamu sampai sembab seperti itu," tutur mama Tommy.


Ara tersenyum menggeleng kepalanya. "Kak Tommy, sangat baik sama Ara. Selalu sabar menghadapi sikap Ara, Ma." Ara memberi tahu Mama mertuanya jika suaminya itu selalu bersikap baik.


"Terus menantu Papa kenapa menangis?" tanya papa Tommy.


Akhirnya, Ara menceritakan semua yang terjadi di meja makan, supaya keluarganya tidak salah paham, Ara kasihan melihat suaminya yang dituduh seperti itu tetapi Tommy biasa saja padahal sudah di sudutkan seperti itu, suaminya itu tidak menceritakan sikap Ara yang tidak peka terhadap dirinya.


"Mulai sekarang kamu harus belajar mengerti suami kamu dek! adek sudah menjadi seorang istri harus lebih paham akan keadaan suami kamu ya dek!" lirih mama Ara.


Ara mengangguk kepala didalam pelukan sang papa.


"Tidak usah merasa bersalah ya, Nak! hal itu wajar bagi pengantin baru, kalian sama-sama belajar ya! untuk saling mengerti," ucap mama Tommy lembut.


"Iya Ma, Terimakasih," jawab Ara tulus..


"Kamu yang sabar ya, Nak mengahadapi sifat dingin Tommy," ucap papa Tommy.


"Kakak selalu hangat kok sama Ara Pa," ujar Ara.


"Menantu Papa keren sama kaya api bisa menghangatkan sesuatu," celetuk papa Ara.


"Khusus untuk, Ara, Pa," sambung Tommy.


"Papa, Ara kangen bangat sama Papa," manja Ara.


"Kamu sudah menikah gak boleh kangen terus sama Papa," tegas Papa Ara.


"Papa kok gitu sih!" balasnya matanya sudah berkaca-kaca.


Tiba-tiba mama Ara aneh melihat tingkah Ara, tidak biasanya Ara cengeng dan selalu menempel terus terhadap Papanya. "Adek lagi isi ya?" tanya mama Ara.


Ara melepaskan pelukannya dari sang Papa, mengernyitkan kening lalu menatap ke arah Tommy mereka saling pandang, faktanya Ada tidak hamil, tetapi mamanya tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Doakan saja ya Ma, secepatnya," jawab Tommy.


"Kalian tidak sedang menunda punyak anak kan?" tanya Mama Tommy penuh selidik.


"Tidak ma," jawab Tommy tersenyum.


"Kenapa dari tadi, suami adek yang jawab? padahal yang akan hamil kan kamu!" tanya Papa Ara gemas melihat putrinya hanya diam saja.


"Kami tidak menunda Ma, kapan pun Tuhan menitipkan anak untuk kami kami siap menerimanya, walaupun kami berdua sama-sama sibuk," lirih Ara.


"Bagus deh, Mama sudah tidak sabar menggendong cucu dari kalian," ujar mama Ara sumringah.


"Kalau bisa anaknya dibuat sampai sebelas ya, Tom," goda papa Tommy.


"Papa mau jadi pelatih pemain sepak bola?" kesal mama Tommy.

__ADS_1


"Biar rumah kita ramai, Ma, kayak pengunjung pasar malam," jawab papa Tommy.


"Tenang Pa, sama pemain cadangannya juga nanti kita buat," tawa Tommy.


Ara melotot ke arah suaminya, yang hamil kan dirinya, bisa-bisanya sang suami ngomong seenak jidatnya.


"Kamu mau gantikan aku hamil? enak bangat kamu jadi suami buat anak banyak, kamu kira melahirkan itu gampang?" kesal Ara.


"Bercanda, honey, jangan marah ya!" bujuk Tommy.


"Seorang anak itu gak baik dijadikan bahan bercanda,"


semua orang tertawa melihat pasutri (pasangan suami istri) yang baru menikah ini, bukannya terlihat romantis melainkan selalu berdebat.


Setelah lama mengobrol bersama keluarga, tidak terasa hari sudah hampir malam, kedua orang tua dan mertua nya pamit pulang. Sebelumnya Ara menahan mereka untuk makam malam bersama, tetapi karena pekerjaan papa mertua dan papa nya terbengkalai seharian ini, jadinya mereka harus mengerjakan nya dirumah.


"Aku masak ya! kamu mau makan apa? tanya Tommy.


"Kamu bisa masak?" tanya Ara balik.


"Kamu ragu sama kemampuan suami kamu?"


"Sejak kapan kamu bisa masak?"


Tommy menghela nafas "Kita kayak lagi mengikuti lomba pertanyaan yah! bukannya menjawab malah tanya balik," ucapnya terkekeh mengacak rambut Ara.


"Oke, biar adil, aku tanya kamu ya! jangan tanya balik sebelum kasih jawaban,"


Tommy mengalah dan mengangguk kepala.


"Sejak kapan kamu bisa masak?"


"Ya sudah, masakin aku mie ya!"


"Enggak ada," tolak Tommy.


Tommy memang selalu menasehati Ara untuk tidak sering-sering makan mie instan atau bakso walaupun Ara sekolah kesehatan, hal itu tidak membuat dirinya menolak yang namanya mie instan.


"Iya dong....." bujuk Ara bergelayut manja di lengan suami dan menarik suaminya menuju dapur.


"Yang lain aja ya!" bujuk Tommy.


"Sekali ini aja ya,ya,ya!"


"Janji ya!" ucap Tommy.


"Janji." mengangkat jari kelingkingnya lalu menyatukan ke jari kelingking Tommy.


Tommy mulai memasak, sedangkan Ara menunggu sang suami di meja makan memainkan ponselnya, beberapa menit kemudian Tommy membawa hasil masakannya ke meja makan.



"Pesanannya sudah selesai Nona, silahkan menikmati."


Melihat Tommy selesai memasak, Ara meletakkan ponselnya. "Wah, makanan kesukaan aku," ujar Ara dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


Ara menikmati masakan sang suami dengan lahap.


"Masih kurang, kamu masaknya kenapa gak dua bungkus saja tadi,"


"Lain kali aku masakin lagi ya!" ujar Tommy.


"Kamu kenapa gak makan?" tanya Ara.


"Aku masik kenyang, tadi kamu lihat kan porsi makan aku,"


Ara mengangguk kepala.


Ara sudah selesai makan, mereka masih setia duduk mengobrol dimeja makan.


"Ra, kamu benaran gak menunda punya anak?"


"Tumben pertanyaannya gitu!"


"Iya aku lagi pengen nanya itu sama kamu!"


Ara mengangguk kepala. "Kapan pun kita dikasih kepercayaan memiliki seorang anak, aku siap kok,"


"Sebelum kita punya anak, kita menikmati pacaran setelah menikah dulu ya!"


"Oke," jawab Ara mengangkat tangannya lalu membentuk jari tangannya tanda oke.


"Kita menikah sudah mau dua bulan, tetapi kita tidak pernah honeymoon ya, Ra!


"Honeymoon kita kan waktu pindah rumah,"


"Emangnya kamu gak mau gitu honeymoon ke luar negeri?" tanya Tommy.


"Perempuan mana sih yang menolak honeymoon keluar negeri, aku sama kamu kan sama-sama sibuk sekarang, apalagi kamu? aku gak mau egois dengan keinginan ku sendiri, nanti saja kalau ada waktu kita pergi," tutur Ara.


"Aku selalu ada waktu kok, Ra! kapan pun kamu mau, ayo!"


"Gimana dengan koas aku?"


"Aku bisa minta ijin ke pihak rumah sakit,"


"Aku gak mau, kamu gak usah minta ijin, selama aku koas biarkan aku berjuang sendiri, kamu jangan ikut campur, aku gak mau dibicarakan orang selama koas mengandalkan kekuasaan suaminya," ketus Ara.


"Pikiran kamu kejauhan," Tommy menyentil kening istrinya.


"Sentilan kamu sakit bangat, kamu pake tenaga apa sih?" tanya Ara sembari mengusap keningnya.


"Tenaga cinta," jawab Tomny mengedipkan sebelah matanya.


"Gembel bangat sih kamu," ucap Ara terkekeh.


"Gombal kali, Ra," koreksi Tommy sembari tertawa.


"Aku mau tidur, ngantuk," ucap Ara berdiri menuju kamar.


"Kode ya, honey?" tanya Tommy beranjak dari duduknya lalu merangkul bahu sang istri menuju kamar mereka.

__ADS_1


Ara hanya terkekeh mendengar perkataan suaminya.


__ADS_2