Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Malamnya pengantin.


__ADS_3

"Babe, apa sesulit itu untuk memaafkan, apa nggak ada kesempatan kedua untuk, Papa kamu," katanya serius.


"Aku mau memaafkannya, tapi ..."


"Aku nggak memaksa kamu, tapi, jangan sampai suatu hari kamu menyesal, karena nggak bisa memaafkan pria hebat yang selalu menjaga dirimu sedari kecil, bagaikan permata tak tergantikan," sambunya lagi.


Mendengar itu, air matanya mengalir lagi. Ia tidak ingin menyesal dikemudian hari, hatinya berkata untuk segera memaafkan sang Papa, tetapi tidak dengan logikanya. Dirinya dilema dengan keputusan yang akan diambil, Ia belum bisa menerima semua yang telah terjadi.


"A-aku nggak bisa," perkataan itu lolos dari mulut kecilnya.


Alex tersenyum kecut, ia menghela napas melihat kekerasan hati kekasihnya, mungkin sekarang Jel menolak memaafkan Papanya tetapi tidak dengan besok, pemikiran manusia bisa saja berubah, ia akan memberi waktu kepada sang kekasih untuk memikirkan semua nasihat yang diberikannya.


"Dicoba pelan-pelan ya!" ujar Alex mengingatkan Jel.


Jel memutar bola mata malas.


"Dengar nggak?"


"Iya aku dengar," kata Jel acuh.


"Jangan sampai lupa untuk mengajak Papa berbicara, kalian harus mengobrol supaya kesalahpahaman diantara kamu dan Papa tidak semakin rumit."


"Hm."


"Jel ..."


"Nanti aku coba, kalau ada waktu."


"Kamu pengen aku sentil?" tanya Alex, tangannya sudah diangkat seperti siap untuk menyentil sang kekasih.


"Jangan terlalu bawel nanti aku bisa kabur dari kamu,"


"Kamu ..."


"Wlek,"


"Kamu gemasin banget sih, sayang belum ada yang halalin,"


"Makanya dilamar lagi dong,"


"Trauma aku, takut ditolak lagi,"


Jel diam, ia tidak berani lagi menyahut ucapan Alex.


"Hey, aku hanya bercanda, jangan dianggap serius," ujar Alex karena melihat reaksi Jel.


"Maaf ya, Kak," lirih Jel tulus. Ia meminta maaf untuk dirinya yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya sehingga hubungannya tidak jelas sampai sekarang.


Alex mengangguk kepala, "Ayo aku antar pulang."


Jel tersenyum kemudian ia beranjak dari duduknya diikuti oleh Alex, mereka berdua memilih pulang. Keduanya sama-sama bersyukur telah dapat berbaikan.

__ADS_1


***


Dihalaman rumah Jel, Alex ikut turun untuk mengantar kekasihnya sampai depan pintu rumah, sekalian berpamitan pulang kepada Mama nya Jel.


"Thank you, Kak. Kamu pulang sana!"


"Belum juga pamit sama mertua, udah diusir aja sama calon pendampingnya," goda Alex.


"Udah deh, kamu suka banget godain aku," Jel mencebikkan bibirnya.


Alex terkekeh geli melihat wajah sang kekasih.


"Aku masuk ya! Pamit sama, Mama dulu,"


"Mama nggak disini,"


Alex mengerutkan keningnya.


"Mama, di rumah sakit," sambung Jel.


Mendengar kata 'rumah sakit' Alex terkesiap, ia takut telah terjadi sesuatu kepada Mama Jel. "Mama sakit? Sakit apa? Sejak kapan di rumah sakit?"


"Kamu tenang dulu, tanyanya satu-satu, jangan diborong semua pertanyaannya," kekeh Jel.


"Masih bisa senyum lagi," gemas Alex, ia menyentil dahi Jel.


Diusapnya dahi yang disentil kekasihnya. "Mama nggak sakit ..."


"Dengar dulu, jangan dipotong,"


"Iya, buruan,"


"Istri Papa melahirkan,"


"Melahirkan? Kok bisa Mama kamu melahirkan? Kapan hamilnya?" pertanyaan bodoh Alex membuat Jel tidak tahan, untuk tidak mencubit kedua pipi kekasihnya.


"Istri keduanya," tangannya masih setia mencubit pipi Alex.


"Kita belum halal lho, nggak boleh pegang-pegang,"


"Halalin dong," goda Alex.


"Yakin nih, aku nggak ditolak lagi!" Alex menggoda balik.


Jel hanya tersenyum.


"Kita nggak jenguk Mama dan adik kamu, yuk!" kata Alex.


"Mama aku cuma satu, oh, iya, aku juga anak tunggal, kalau kamu lupa," Jel tidak suka dengan ucapan Alex.


Ya, memang benar, istri kedua dari papanya hamil lagi, kemarin istrinya tersebut melahirkan secara normal disalah rumah sakit tempat sahabatnya bekerja atau lebih tepatnya rumah sakit milik keluarga Dirgantara.

__ADS_1


Mamanya yang mempunyai hati selembut salju, tidak menolak ketika Papa nya meminta tolong kepada sang Mama untuk menemani istri mudanya selama di rumah sakit.


Hal itu juga yang membuat dirinya semakin membenci sang Papa, ia belum bisa menerima semua yang telah terjadi, ditambah istri muda nya hamil kembali, hatinya benar-benar hancur ketika mengetahui ibu tirinya hamil lagi.


"Sudah malam, Kak. Kamu pulang sana!"


"Iya deh, dari pada digrebek warga," canda Alex.


"Ngaco kamu," sahut Jel.


"Kita jenguk Mama kedua kamu besok ya! Sekalian silahturahmi,"


Jel menggeleng kepala. "Aku sibuk,"


"Please, aku udah lama banget enggak ketemu Papa, ada yang mau aku bicarakan, penting." tangan Alex mengatup didepan dada.


"Kamu saja ya, Kak. Aku nggak ikut,"


"Aku mohon,"


Melihat wajah Alex yang memelas, ia pun mengangguk kepala.


"Pulang kerja, aku jemput kamu. Kalau gitu aku pulang dulu, hati-hati di rumah, semua pintu dan jendela dikunci rapat-rapat," ujar Alex.


"Iya calon suami," goda Jel.


Alex tersenyum kemudian ia berbalik menuju kendaraannya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sang kekasih.


***


Didalam kamar pengantin baru, keheningan terjadi diantara keduanya, Rio yang mendaratkan tubuhnya diatas sofa, sedangkan Iren merebahkan dirinya diatas kasur yang telah dihiasi, layaknya kamar pasangan yang baru menikah.


Kedua pasangan suami istri itu telah selesai membersihkan tubuh masing-masing dikamar mandi yang berbeda, setelah selesai keduanya masih setia belum berbicara satu sama lain.


Suara ketukan dari balik pintu membuat keduanya sama-sama bangkit hendak membuka pintu, reaksi yang sama membuat mereka saling pandang kemudian mendaratkan tubuhnya ditempat semula, sehingga salah satu diantara mereka tidak ada yang membuka pintu.


Tok ... tok ...


Suara ketukan pintu terdengar lagi, belum ada yang membuka, mereka beradu pandang, Rio yang melihat Iren tidak ada niatan untuk membuka pintu, membuat dirinya segera membuka pintu tersebut.


Dan ternyata yang mengetuk pintu tersebut adalah salah satu pelayan yang ada di hotel tersebut.


"Maaf pak, mengganggu waktunya, saya disuruh memberikan ini kepada Bapak," ucapnya ramah.


Rio mengambil kotak kecil dari tangan salah satu pelayan itu. "Terima kasih."


Pelayan itu tersenyum ramah, "Permisi, Pak."


Rio mengangguk kepala, ia menutup pintu tersebut dan tidak lupa untuk menguncinya, sehingga membuat pikiran Iren melayang layang mendengar bunyi kunci pintu itu.


Dilihatnya kotak kecil yang berada ditangannya, ia yakin bahwa isinya itu, tak lain dari hasil keisengan dari para suami sahabatnya, karena sedari tadi ketika mengobrol dengan para pria yang mengisi hati para wanita-wanita yang sudah dianggapnya adik sendiri, ucapan mereka tak jauh dari kata 'malam pertama' mereka juga asik meledek Rio yang akan memerawani seorang gadis.

__ADS_1


Tanpa dibuka, Rio meletakkannya dilaci kecil yang ada disamping tempat tidur, ia pun kembali mengistirahatkan tubuhnya diatas ranjang, membuat Iren gugup setengah mati.


__ADS_2